my world

Belajar Konsisten

Belajar Konsisten

“Mengawali itu tidaklah sulit, memulai dari nol bahkan minus. Namun konsisten untuk terus menjalankannya memang bikin nangis. Harus keras terhadap diri sendiri dan penuh kasih, lemah lembut kepada yang lain. Jangan memakai ‘selendang Allah’ alias menyombongkan diri dalam hal ini.”

Bagaimanapun segenap catatanku adalah pengingat diri dan bukan untuk menyindir hidup sesiapapun. Sebagaimana membaca merupakan upayaku untuk menasehati diri sendiri, pun menulis juga begitu. Sarana ini ada, paling simpel, dan terjangkau. Eye catching penting bagiku untuk bisa tetap betah mengulang kaji. Jadi tidak jarang aku menggunakan media sosial sebagai sarana penyimpan makna ataupun pengingat diri. Sekali lagi ini dituju untuk diriku sendiri untuk belajar menetapkan hati. Namun ketika kurasa ada pergeseran manfaat atau side effect atas hal tersebut, maka aku mengambil langkah bijak. Berhenti sejenak dari kesemrautan salah satu pasar segala ada. Lini masa FB. Hehe.

Catatan ini dilanjutkan saat Ramadan kedua;

Masih teringat bagaimana saat menulis di atas hati sedang baper berat ketika ada yang lewat di tengah lini masaku mengenai tema yang kubahas dengan sudut pandang bertolak belakang dengan yang kumiliki. Barangkali ‘teupeh hatee’ atau merasa disentil dengan opini yang kusajikan. Sekali dua kali aku menjenguk lini masa di beranda FB dalam seminggu, eh ternyata ada yang baper. Hehe… sama saja, akunya juga baper jadi intropeksi diri saja. Maka terbitlah postingan blog bahwasanya aku menulis bukan untuk sesiapapun kecuali menasehati diri sendiri dan belajar konsisten. Niat lainnya adalah untuk merekam jejak ke anak cucu. Tidak pernah tahu berapa jatah usia yang diberikan Nya kepadaku, membuat sering terhenyak dengan kenyataan tersebut dan memang harusnya kita pasrahkan segala apa yang terjadi di belakang mata kita terhadap anak-anak, kita sudah berusaha sebaik mungkin dan Allah pulalah sebaik-baik penjaga, penjagaan-Nya lah yang terbaik. Doktrin itu ada, ini hanya ikhtiar selama hayat dikandung badan, aku ingin meninggakan jejak kebaikan untuk generasiku. Aku ingin mereka tahu bagaimana usaha pertanggung jawabanku atas amanah yang diberikan Allah di keluarga intiku saat ini. Bagaimana seni menekan segala ego besar dan dahsyat untuk dapat memberikan segala makna kebaikan kepada keluarga. Memaknai bahwa sejatinya sukses itu adalah ketika kaki kita berhasil menginjak jannah-Nya.

Lamteungoh, Ramadhan Mubarak.

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *