Fiksi,  Resensi

Bercerita Tentang Kala Marnie Ada

Saya baru saja selesai membaca buku When Marnie Was There yang ditulis Joan G. Robinson, saya rasa buku itu tentang perasaan yang dalam, kesepian yang berbicara pada dunia melalui sikap dan karakter Anna dan kerinduan akan kasih sayang. 

Saya sempat merasa sangat antusias di awal, saat adegan Anna dengan ibu angkat–yang dipanggilnya dengan Bibi Preston– yang sedang meluruskan topi Anna di depan gerbong kereta. Bibi Preston sedang melepaskan keberangkatan Anna ke Little Overton, sebuah desa fiksi yang diciptakan Joan G. Robinson yang terletak di tepi pantai Norfolk, Inggris. Lalu pada pertengahannya, saya sempat mandek membaca beberapa hari dan berganti bacaan sejenak. 

Ketika mulai melanjutkan lagi, saya semakin menyadari novel ini cukup emosional, tetapi pembaca tak akan pernah menyadari alur lembut dan halus yang membawa pembaca memahami perasaan penulis. Seperti yang disampaikan pada epilog, di antara buku-buku yang sudah ditulis oleh Joan G. Robinson, When Marnie Was There adalah yang paling dia sukai. “Kau bisa menulis banyak buku, tetapi hanya satu buku yang benar-benar menggambarkan dirimu.” Ungkap Robinson.

Seperti inilah perasaan seseorang yang sangat ingin dicintai, tetapi dia adalah seorang individu yang tidak dengan mudah menyampaikan perasaan dengan bahasa ekspresif. Tentunya ada latar belakang dan cerita di balik semua kecanggungan yang dimilikinya.

“When Marnie was There” adalah sebuah novel anak-anak yang mengisahkan tentang seorang gadis bernama Anna, yang merasa kesepian dan terasing. Anna sering merasa tidak diinginkan dan tidak dicintai, sehingga dia mencari pelarian dalam dunianya sendiri.

Petualangan dalam dunianya sendiri dimulai ketika liburan, ibu angkatnya mengirimkan Anna ke rumah sahabatnya Bu Pegg dan Pak Sam di Little Overton. Suatu hari, Anna menemukan sebuah rumah yang terletak di tepi pantai. Rumah itu tampak kosong, tetapi Anna bertemu dengan seorang gadis bernama Marnie di sana. Marnie menjadi teman dekat Anna, dan keduanya mengalami petualangan dan momen-momen berharga bersama.

Novel ini mengeksplorasi tema kesepian, persahabatan, dan rahasia yang tersembunyi di balik hubungan Anna dan Marnie. Robinson berhasil menggambarkan perasaan Anna dengan baik, menunjukkan kerinduan dan keinginan akan kasih sayang yang mendalam. Buku ini juga menyampaikan pentingnya memiliki teman dan hubungan yang saling mendukung.

Novel yang ditulis dan diterbitkan pada 1967 ini terdiri dari tiga puluh tujuh bab, di dalamnya dan judul-judulnya seperti menjawab pertanyaan pembaca dan terkesan spoiler. Alur yang tenang dan lambat bisa membuat pembaca bosan di pertengahan. Namun,   penggambaran pemandangan pantai yang indah dan lingkungan pedesaan yang tenang memberikan latar belakang yang kuat untuk cerita yang berkembang dalam novel tersebut.

Tokoh-tokoh penting seperti Bu Pegg dan Pak Sam tidak begitu dijelaskan di pertengahan bab hingga akhir, terutama ketika beberapa tokoh hadir untuk ‘menjahit’ alur dan menghubungkan kisah Marnie hingga terasa lebih dominan dan kesan untuk membangun logika cerita bagi pembaca. 

Novel ini tentunya sangat mengesankan, hingga tiga tahun setelah novel ini terbit, diceritakan oleh Deborah Shapiro dalam epilog novel ini, ada seorang pria yang berasal dari Jepang yang datang ke Norfolk dan dia kurang bisa berbahasa Inggris, dia hanya membawa novel itu sebagai panduan untuk bisa mengetahui di mana letak “Little Overton”.

“When Marnie Was There” telah menjadi populer baik di dalam maupun di luar Jepang. Pada tahun 2014, Studio Ghibli, sebuah studio animasi terkenal asal Jepang, merilis adaptasi film animasi dari novel ini yang disutradarai oleh Hiromasa Yonebayashi. Film ini mendapat sambutan positif dan meningkatkan popularitas novel tersebut di Jepang maupun di seluruh dunia.

Pada akhirnya, “When Marnie was There” adalah kisah yang mengharukan dan penuh emosi. Robinson berhasil menangkap nuansa perasaan Anna dan menggambarkan perjalanan emosionalnya dengan baik. Buku ini juga memberikan pesan tentang pentingnya hubungan antarmanusia dan bagaimana teman sejati dapat memengaruhi hidup seseorang.

Saya rasa plot dalam novel itu juga sangat halus, penulis bisa menyampaikan pada pembaca bahkan hal yang renik sekalipun, misal sikap-sikap tokoh perempuannya yang tidak menghakimi dan dunia anak-anak dengan rasa ingin tahu yang tinggi

Alur dalam novel “When Marnie was There” memang ditulis dengan kehalusan dan kecermatan. Penulis, Joan G. Robinson, mampu menyampaikan secara detail sikap-sikap tokoh perempuan dalam cerita tanpa menghakimi. Hal ini memberikan warna yang lebih realistis dan memungkinkan pembaca untuk mengaitkan diri dengan karakter-karakter tersebut.

Karangan Robinson juga berhasil menangkap semangat dunia anak-anak, ketika rasa ingin tahu yang tinggi dan keinginan untuk menjelajahi dunia di sekitar mereka tercermin melalui karakter-karakter dalam buku ini. Melalui pemikiran dan tindakan Anna, pembaca dapat merasakan semangat keingintahuan yang mendalam, yang kemudian membawanya pada petualangan emosional dengan Marnie.

Kepekaan penulis terhadap perasaan anak-anak dan kemampuannya untuk menggambarkan dunia mereka dengan baik adalah salah satu kekuatan utama dari novel ini. Robinson berhasil menggambarkan kehidupan sehari-hari, hubungan antarmanusia, dan perkembangan emosional dengan cara yang autentik dan menggugah perasaan pembaca.

Dengan cara ini, novel “When Marnie was There” menjadi sebuah karya yang menarik bagi pembaca segala usia, karena mampu menyampaikan pesan-pesan yang mendalam tentang persahabatan, kepercayaan diri, dan eksplorasi emosional dengan cara yang halus dan penuh kelembutan.[]

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya: Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Bisa dihubungi melalui surel medicus_84@yahoo.com.

2 Comments

  • Iqbal

    Terima kasih ulasannya. Saya sudah menonton filmnya. Masih agak bingung dengan alur ceritanya. Dari postingan ini saya baru tahu ternyata film ini diangkat dari sebuah novel barat. Mungkin pertanyaan saya akan terjawab kalau saya membaca novelnya.

    • aini

      Iya, sebuah novel lama walau tak bisa digolongkan novel klasik, tapi ceritanya menghangatkan hati. Ada alur yang membingungkan memang, karena di akhir akan balik lagi di masa lalunya Anna dan asal usulnya. Saya malah belum sempat menonton filmnya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *