my world

Bincang-bincang Sebelum Ramadan (Bersama Angota Forum Lingkar Pena Aceh)

Ramadan bulan suci yang insyaallah akan kembali menghampiri. Kurang lebih satu minggu lagi dan apalah artinya seminggu itu melesat cepat bagai kilat, tiba-tiba tamu agung itu telah di depan mata. Bagaimana kita menyambutnya? Biasa saja? Kaget? Semringah? Atau mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh? Semoga kita melakukan opsi yang keempat.

 

Kita kerap mendengar bahwa dahulu Rasulullah dan para sahabatnya menyambut bulan Ramadan dengan persiapan hati yang matang, penuh kegembiraan, dan ghirah beribadah yang berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bulan di mana semua pahala dilipatgandakan, bulan di mana pintu-pintu ampunan dan rahmat dibuka lebar, bulan di mana terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, yakni lailatulkadar. Betapa beruntungnya yang bertemu Ramadan, betapa beruntung hamba yang terpilih dan sempat mengisi malam lailatulkadarnya dengan kebaikan dan ibadah maksimal.

 

Bulan Ramadan adalah bulan produktif. Produktif dalam banyak hal positif, termasuk tulis menulis. Bulan di mana setiap kebaikan diganjari pahala nanti, sudah sepantasnya kita sebagai pegiat literasi merencanakan sesuatu yang konkret, misalnya mempertajam pena dengan meluangkan waktu menulis resume tausiyah, atau yang paling sederhana menuliskan kegiatan Ramadan hari ini. Sejatinya bagi saya pribadi menulis adalah usaha menasihati diri sendiri, tepat di momen ini pula bisa kita tuntaskan tulisan-tulisan yang masih berupa bongkahan ide di kepala, mengembangkan ide-ide yang sudah pernah kita tulis premisnya di dokumen-dokumen kita, atau memoles naskah yang sudah pernah kita tabung sebelumnya.

 

Jika para pengisi tausiyah di bulan jelang Ramadan ini selalu mengingatkan kawan-kawan mengenai ibadah mahda, saya kali ini berbicara ibadah ibadah ghairu mahda. Di mana setiap sendi kehidupan kita bisa jadi merupakan ibadah dan bernilai pahala di sisi Allah. Apa target yang ingin kita capai sebagai pegiat literasi di Ramadan kali ini?

Sebagai contoh yang paling dekat dan mengena, Ketua FLP Aceh akan menerbitkan sebuah buku antologi Oase Ramadan yang ditulisnya Ramadan tahun lalu bersama dua orang sahabat penulisnya. Ternyata cukup simpel, hanya menyicil minimal 300 kata setiap harinya. Tema yang diangkat pun hal remeh temeh di seputaran kita, tapi tentu saja sarat makna. Hal-hal yang seringkali terjadi berulang pada setiap Ramadan, apakah itu mubazir makanan bukaan atau kekenyangan tiada terkira setelah beduk berbuka dan banyak hal-hal kecil yang sering terlupakan di sekeliling kita yang ternyata bisa mengurangi pahala puasa kita di bulan Ramadan.

Akhir kata, memang ada baiknya memulai hal kecil dari diri sendiri dan mulailah hari ini. Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadan, maaf lahir batin, semoga Ramadan tahun ini jauh lebih baik dari yang lalu, dan kita mampu mencapai derajat takwa. Amin.

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, dan Faza. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *