Resensi

Bukan Sembarang Lanturan (Resensi Buku Olenka)

Setelah menamatkan Olenka, saya seperti menjadi seorang Drummond. Fanton Drummond seperti merasuki diri saya saya dan saya ikut melantur beberapa lama. Walau lanturan saya tentu saja berbeda dengan Drummond.

Jika saya menulis digresi sepanjang sembilan ratus atau seribu kata, apakah ada yang akan membaca tulisan saya? Apatah lagi saya melakukan digresi sepanjang novel Olenka yang kesemuanya ada enam bagian, dan tiap-tiap bagian terdiri dari 50-an halaman? Itulah yang kira-kira ada di dalam kepala saya.

Membaca Olenka tak bisa dipisahkan dari mempelajari proses kreatif yang dilalui oleh Budi Darma. Novel yang ditulis pada akhir tahun 1979 ini sebenarnya dibuat Budi Darma setelah dia mengalami adegan yang serupa dengan Fanton Drummond di sebuah lift. Bukan. Tepatnya, Budi Darma memulai menulis Olenka setelah keluar dari lift di mana ketika itu di luar gedung Tulip Tree, apartemen tempat dia tinggal, salju tiba-tiba turun, dia menuju sebuah lift yang nyaris tertutup, seorang wanita membantu membuka kembali pintu lift karena melihat penulis terburu-buru. Memang saat itu diceritakan bahwa dinginnya udara sedang sangat kurang ajar,  dan di dalam lift sudah ada tiga orang anak kecil yang semula dikira oleh penulis adalah anak wanita tersebut. Dia merasa wajah mereka mirip, tetapi ketika lift membuka, anak-anak tadi keluar, sementara wanita itu tetap meneruskan naik ke lantai berikutnya. Lalu ia bercerita kalau ketiga anak yang kelihatan dekil tersebut biasa berkeliaran di sekitar sana karena mereka ditinggal ibu dan ayah mereka bekerja mulai pagi sampai sore.

Budi Darma awalnya hanya ingin menuliskan sebuah cerpen. Namun kemudian, bak kerasukan, lanturan—atau dalam sastra disebut digresi—ini berlanjut terus hingga novel Olenka diselesaikan oleh Budi Darma dalam kurun waktu kurang dari tiga minggu saja. Katanya ide di kepalanya membuat dia megap-megap dan kesulitan melakukan hal lain.

Olenka adalah tentang pencarian jati diri, tokoh-tokoh di dalamnya memiliki kesamaan dalam hal ini. Isinya sangat unik menurut saya. Novel yang dikategorikan digresi ini, berisi begitu banyak pengetahuan tentang sastra dunia. Hal-hal klasik yang tak pernah mati diperbincangkan di mana saja, terutama di kelas-kelas belajar.

Saya bukan penggemar novel-novel muram, tapi tidak tahu kapan tepatnya pertama sekali saya akhirnya menemukan bacaan-bacaan yang selalu membuat saya merenung ketika selesai menamatkannya, alih-alih tersenyum dan happy-happy, kesenangan saya justru ketika saya akhirnya ‘terperangkap’ sendiri dalam pikiran-pikiran  yang disajikan oleh alur cerita-cerita fiksi yang tanpa sengaja saya pilih sendiri. Faktanya adalah; begitu banyak buku-buku bagus yang belum saya sentuh. Saya pernah berpikir, usia saya pastinya tidak cukup lagi untuk membaca buku-buku bagus tersebut, jadi seringkali saya menghabiskan waktu sekadar membaca ulasan-ulasan buku yang direkomendasikan, sambil berharap kelak memiliki waktu membacanya sebelum saya tutup usia.

Saya ingat sekali ketika SD—saya percaya bacaan yang tak terlupakan adalah di masa-masa kita pertama bisa merangkai alfabet menjadi sebuah kata, sebagaimana Budi Darma menulis Olenka karena terilhami dengan bacaan SD-nya, yakni kumpulan cerpen Anton P. Chekhov yang berjudul “The Darling”—saya membaca sebuah cerpen tentang seorang lelaki yang diamuk massa karena mencuri ayam di kampung tetangga. Dia sudah tak tahu harus bekerja apa setelah di-PHK, sementara istrinya sudah mengeluh dan anaknya mulai menangis. Sayangnya saya benar-benar lupa itu cerpen karangan siapa.

Saya pikir setelah dewasa, itu tak mirip dengan bacaan anak SD pada umumnya. Jangan salahkan saya, karena saat itu banyak sekali buku-buku semacam itu di meja belajar kakak saya. Bahkan beberapa buku nonfiksi tentang filsafat berwarna biru tua, buku tentang perbandingan agama, buku Slilit Sang Kiyai yang ditulis Cak Nun, hingga buku karangan Maurice Buccale. Saya juga membuka-buka buku teks kuliah milik kakak saya, bukan apa-apa, hanya saja saya penasaran. Bahkan buku Intisari Ihya Ulumuddin yang dulu belum tentu mampu saya cerna, turut saya baca-baca walau sekilas.

Adik ibu saya suka majalah-majalah wanita seperti Kartini dan Femina, terkadang Intisari juga ada, dulu sering ada booklet yang berisi satu tema, saya cukup menyukainya. Seingat saya dulu, di sana ada membahas tentang autobiografi Agatha Christie dan sejarah harem. Seharusnya anak SD tidak perlu tahu tentang harem yang kasimnya dikebiri, pikiran kanak-kanak saya sebenarnya ingin bertanya lebih jauh tentang segala hal yang tak sampai di akal, tetapi syukurlah ada penyeimbang seperti majalah Suara Muhammadiyah, Himpunan Keputusan Tarjih Muhammadiyah, Panji Masyarakat milik Abak serta majalah Aku Anak Saleh, Ananda, Bobo dan buku-buku serial Alfred Hitchcock, Enid Blyton milik sepupu saya. Saya pikir tentu itu lebih cocok untuk bacaan anak usia SD atau setingkat kelas satu SMP.

Lalu kembali pada Olenka, kenapa Budi Darma menulis digresi sepanjang itu dengan kemuraman hingga di halaman akhir? Kehidupan yang dipotret oleh Budi Darma dalam tokoh-tokoh di Olenka memang seperti kehidupan di Amerika yang dia amati. Bisa jadi banyak orang serupa itu di dunia, tidak tahu apa yang sebenarnya dia cari. Setelah dia mendapat apa yang sepertinya dia inginkan lalu hidup berputar lagi dan dia hanya menemukan kekosongan demi kekosongan. Ketidaktentuan yang tiada akhir, kesenangan hanyalah jeda-jeda singkat yang cuma terasa sementara saja. Tidak ada yang bisa menghilangkan dahaga-dahaga nafsu manusia. Setiap kali ingin berubah dan merasa menemukan hidayah, manusia bisa sewaktu-waktu merasa goyah. Begitulah hidup tak tentu arah, tanpa ada sandaran yang jelas. Banyak orang-orang sudah di puncak popularitas, tetapi tak pernah puas, semakin dia dikagumi orang-orang karena usaha kerasnya, semakin dia merasakan kehampaan.  Apa yang dirasakan Fanton Drummond dan yang dialami Olenka menjelaskan kedudukan ini. Betapa Olenka bisa berbahagia dengan segala kemenarikan, bakat, dan pesonanya, Drummond pun bukan orang yang tak berharga, dia seorang akademisi andal yang karyanya pernah menghias layar kaca. Profilnya masuk di sebuah majalah bergengsi. Wayne Danton pun begitu, di balik segala keanehan kelakuannya dia seharusnya bisa hidup lebih bahagia, tetapi dia memilih menyusahkan diri, diperbudak oleh angan dan imajinasinya, kemudian menunggu kesenangan semu, yakni hanya ketika tulisan-tulisannya dimuat di sebuah media dan menuai banyak pujian dari para kritikus sastra. Jika tidak dimuat, maka ia menyalahkan selera redakturnya. Kesombongan yang dipadukan dengan kesintingan, hanya dua hal itu yang membuatnya bahagia.

Maka, baik bagi saya untuk membuat misi hidup saya jelas sejak awal. Memperjelas pemahaman saya mengenai makna hidup agar tidak menjadi orang naif seperti Mary Carson dalam Olenka. Tidak perlu mencari kesenangan sesaat tanpa tahu apa tujuan hidup saya. Mengalir saja seperti air, berjalan terus menelusuri detik-detik berlalu, mengalami lompatan-lompatan pikiran dan mengambil keputusan lalu mengubahnya dengan kecepatan sepersekian detik dari keputusan sebelumnya. Budi Darma memang tak menyajikan nasihat semacam itu dalam novelnya, tapi dia berhasil mengajak saya merenung.

Apa yang diseret Budi Darma dalam digresinya sepanjang 400-an halaman bukanlah lompatan pikiran sekonyong-konyong, dia tidak menulis asal-asalan. Bayangkan saja, tulisan kurang dari tiga minggu dengan daftar referensi sekitar 50-an itu menyeret bukan hanya sekelumit karya-karya besar, tetapi juga pengalaman nyata dan ingatan masa kecil.

Jadi, sangat tidak mengherankan ketika Olenka yang juga menyajikan momen-momen sesuai fakta beserta kliping potongan-potongan berita dari harian dan majalah di Bloomington, Indianapolis, dan di beberapa negara bagian lain yang disambangi penulis, bahkan salah satu liputan majalah di Indonesia.[]

Catatan: ulasan ini saya tulis dengan cepat usai membaca bab akhir dari Olenka, saya hanya menulisnya di buku catatan ‘monyet’ yang saya bawa ketika diajak ngopi hampir setengah jam berdua dengan suami. Hari itu anak bungsu saya yang berusia 20 bulan sedang tidur pulas, abang dan kakaknya mengizinkan kami keluar berdua dengan syarat jangan lama. Kami memilih sebuah warkop di sudut Bundaran Lambaro, itu tidak jauh dari rumah kami. Ulasan itu hampir selesai, lalu saya menambahkan penutupnya di catatan digital ponsel, kemudian mengirimkannya ke WA teman dekat saya, lalu saya copy-paste kembali ke dokumen Ms.Word sebelum akhirnya memikirkan akan diposkan ke mana: apakah ke blog Steemit? Blog Stanza –saya punya tiga dengan nama blog yang sama, ini membuat saya gila mengelolanya—sebelumnya tentu saja saya membuat catatan ini karena saya sedikit terkejut. Saya pikir di catatan digital kemarin, saya hanya menulis 400 kata, ternyata saya menulis ulasan hingga 1200-an kata. Saya cukup senang bisa ikut melantur juga seperti Budi Darma.[]

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *