cerita ceriti,  disleksia,  Just My Opinion,  my little angels,  my world,  Parenting,  Self reminder

Buku-Buku Pilihan Faza

Cukup sulit mengajak Faza tidur lekas beberapa minggu ini. Biasanya karena lelah bersepeda, dia akan merasa lapar bakda magrib—yang membuat acara family forum kami tertunda—lalu dia membaca Iqra satu halaman bersamaku, salat Isya dengan wudu yang dipertahankan sejak salat Magrib, minta izin menonton film yang sudah dilihatnya berulang kali (Boboiboi dan Bos Baby) lalu tertidur saat belum tiba di pertengahan film.

Namun, sejak ada asupan sinyal bakda isya, matanya nyalang hingga lewat pukul 10. Padahal yang ditonton itu lagi: Boboiboi, kadang-kadang Oddbods. Ya, dia pun sama sepertiku, kalau internet menyala, kantuk bisa ditunda. Aku harus membujuknya untuk tidur, kadang harus minum air putih lebih dulu, atau mencuci kaki, sikat gigi kadang-kadang—lebih sering tidak—yang pasti dia minta dibacakan buku. Buku bisa jadi terapi insomnia. Yah, walau kami tidak insomnia, sih.

Nah, ada yang unik kalau sudah memilih buku untuk dibacakan. Dia benar-benar melewatkan buku-buku yang kubelikan untuknya dan tentu saja untuk seluruh anak-anakku. Dia selalu menarik buku yang sudah selesai kubaca. Dia pasti bertanya: “Ini sudah Bunda baca?”

Aku suka senyum-senyum menanggapi buku yang disodorkannya. Pertama, dia menyodorkan buku Make it Happen yang ditulis Prita Hapsari Gozie. Jangan buru-buru kaget, ada lagi yang lebih mengejutkan setelah itu…

Padahal aku sengaja menaruh buku-buku yang cocok buatnya di rak buku samping tempat tidurku, tapi dia lebih tertarik dengan buku-buku yang sudah selesai—atau tepatnya baru selesai—kubaca.

Dia juga menyodorkan Saatnya untuk Menikah yang ditulis Ustaz Fauzil Adhim, tapi hanya kutanggapi dengan senyum, aku tak meyambut buku itu. Dia paham, aku tak setuju.

“Buku ini Bunda udah tamat bacanya?”

“Udah.”

“Bagus?”

“Iya. Bagus”

“Bahasa Inggris, ya?”

Padahal dia bisa membaca kovernya, tapi itulah persoalan Faza saat ini, sebagaimana aku dan para dyslexic pada umumnya, sudah bisa membaca, tapi belum tentu sudah memahami sepenuhnya, bahkan satu kalimat belum tentu dipahami dengan mudah oleh Faza.

“Bukan, itu bahasa Indonesia.”

“Jadi, kenapa Faza nggak boleh baca?”

“Belum waktunya, Faza belum perlu.”

“Kalau ini? Udah selesai Bunda baca?”

Dia menunjuk Go Dua Aksara dan Lolita. Aku berusaha tidak goncang saat dia menarik punggunh buku tersebut. Apa boleh buat, buku itu memang belum kupindahkan ke rak atas di ruang depan karena baru saja selesai kubaca bulan lalu.

“Sudah…”

Aku bergeming dan terus memperhatikan sambil berlagak menunggu dengan sabar. Lalu jemarinya balik ke sebelah, lalu ke bawah. Dia akhirnya melewati dua buku yang tak mungkin kubacakan buat anak usia 6 tahun, apalagi untuk pengantar tidur. Aku menunjuk kisah 25 Nabi, tapi itu memang sudah kubacakan seluruhnya.

“Bunda baca buku ini?” Dia menunjuk buku Smart Traders Not Gamblers yang ditulis Ellen May. Jujur saja, aku sama sekali tidak membaca buku tersebut. Kukatakan bahwa itu milik ayahnya. Dia hanya ber-o panjang.

Minggu lalu dia sudah kubacakan Go Set A Watchman yang ditulis Harper Lee. Aku belum khatam membacanya. Buku yang merupakan sekuel dari To Kill A Mockingbird itu, dari blurb-nya kuketahui adalah naskah pertama yang dikirimkan Lee ke penerbit, tapi justru sekuel keduanya yang memenangi Pulitzer Prize dan meledak di pasaran serta melambungkan nama Harper Lee.

Jadi, karena aku belum membaca seluruhnya, tak ada salahnya berenang sambil minum air; aku menerima ajakan Faza untuk membaca buku itu. Malam ini dia menyodorkan To Kill A Mockingbird, walau Go Set A Watchman masih kubacakan beberapa lembar. Yah, pada dasarnya dia belum paham kecuali jika adegannya kuulang atau kupraktikkan. Contohnya: saat diceritakan bahwa tangan Jem di bagian sikunya pernah patah, jadi tangannya terlihat lebih pendek dan jika berjalan sikunya  menghadap keluar. Aku pun serta merta menunjukkan secara konkret bagaimana itu. Faza paham dan bertanya hal lainnya.

Namun, tidak semua mampu kuladeni, ketika aku tak sanggup lagi menjawab, aku tinggal berdalih, “Baik, Faza, kita lanjutkan membacanya.” Itulah asyiknya membacakan buku ketimbang melakukan deep conversation menjelang tidur. Entah kenapa terkadang saat malam menjelang tidur, aku tidak bisa banyak berargumen dan menyahuti segala pertanyaan Faza, jadi aku bersyukur dia mau dengan gembira memilih buku saja daripada bertanya-tanya.

Akhirnya, malam ini dia menarik punggung buku dengan sampul kuning pudar dan oranye tua itu, jadi aku membacakan tentang Jem, Mr. Boo Redley, xan Atticus, entahlah apa dia paham atau belum, tapi dia sangat menikmatinya hingga terlelap. Intonasi dan suara yang keluar dari mulutku saat membacakan buku membuatnya tertidur, mungkin hanya satu atau dua kata yang dia pahami, tapi yang dibutuhkan saat ini bukanlah kepiawaiannya memahami dan mengambil amanat tentang empati dan persamaan hak setiap manusia yang disampaikan Lee di novel itu, Faza tak perlu tergugah dengan kerja keras dan ketulusan Atticus, tapi aku yakin momen ini akan menjadi kenangan yang mengayakan hatinya, mengasah mata batinnya, dan memupuk kecintaannya pada membaca. Semoga saja.[]

#FazaSangBijaksana #Motherhood #dyslexicjourney #readabook

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *