my world

Buku Praktis Menulis Kreatif yang Bikin Produktif

Judul Buku    : Creative Writing

Penulis         : A.S. Laksana

Penerbit        : Banana, 2020.

Tebal           : 197 halaman

Dengan tampilan kover yang baru berwarna kuning, buku praktis Creative Writing kembali dicetak ulang oleh Penerbit Banana tahun 2020. Aku pernah melihat kover lamanya, tapi belum pernah membaca isinya. A.S. Laksana aka Mas Sulak bukan nama asing di dunia sastra Indonesia. Mengaku tak begitu memperhatikan dunia sastra Indonesisa lagi, Mas Sulak kini sering membuka kelas menulis secara daring, “Menggambar dengan Kalimat”. Beberapa kali teman-teman merekomendasikan kelas menulis tersebut dan aku memang sedang mencari timing yang tepat untuk bisa ikut.

Buku Creative Writing yang ada di tanganku saat ini, menguatkanku agar suatu waktu mengikuti kelas Mas Sulak, bahkan kalau bisa sesegera mungkin, tapi untuk mengikuti kelas daring saat mobilisasi yang tak menentu begini, justru jadi hal mubazir. Pertimbangan ini membuatku akhirnya memutuskan tetap menunda.

Buku praktis ini sangat mendukung para penulis untuk bisa menulis dengan benar. Dimulai dengan mengungkapkan Rahasia Kreativitas; mendekatkan tangan ke otak, menulis buruk, meyakinkan pemula untuk bisa menulis cepat hingga di pertengahan bab, kita diajak mempraktikkan step by step, lengkap dengan contoh-contoh konkret yang diambil Mas Sulak dari penulis-penulis dunia, terkadang ada pula kalimat dan paragraf-paragraf spontan yang dibuat Mas Sulak yang seolah-olah ia sedang mengajarkan kita bagaimana menulis secara langsung.

Buku Creative Writing by A.S. Laksana

Manggut-manggut, begitu reaksiku ketika gelontoran kata-kata Mas Sulak yang lugas masuk ke dalam otakku. Contohnya, pada bab Paragraf Pembuka (hal 156); saat Mas Sulak menceritakan ada muridnya yang bertanya: “Mengapa novel Indonesia sering dubuka dengan pemandangan alam?”

“Bisa lebih jelas lagi?” Mas Sulak balik bertanya.

“Saya sering menjumpai novel yang dibuka dengan matahari…”

Setelah pengantar ini, Mas Sulak akhirnya bercerita kalau ia diam-diam tergoda dengan pertanyaan tersebut dan keesokan harinya ia pergi ke kios buku loak langganannya dan memilih beberapa novel baik tipis maupun tebal yang nama penulisnya sudah dikenal baik oleh pembaca, lalu mencoba mengutip sekitar lima prolog novel tersebut yang ternyata memang menggunakan cara yang sama. Sampai di sini aku tergelak. Kebetulan novel klasik yang ditulis Agatha Christie yang sedang kubaca pun dibuka dengan suasana musim semi ketika matahari menerobos kisi-kisi jendela.

Nah, menarik sekali masukan Mas Sulak yang mengatakan, “Seorang penulis seharusnya tidak menulis dengan cara-cara yang sudah sering dipakai orang.” Kurasa begitu saja sudah cukup membuat kita berpikir dua kali membuat kalimat pembuka yang terlalu biasa dan tentu saja penulis harus memikat pembaca sejak paragraf awal.

Masih banyak di tiap babnya ide-ide bernas untuk memantik penulis menghidupkan sebuah kisah melalui cerita. Ada pula satu bab yang menyuguhkan cerpen Mas Sulak secara utuh. Ini kian menarik. Pengalaman-pengalamannya selama mengajar di Jakarta School sangat bermanfaat dibagikan dalam menuntun penulis menghasilkan karya yang bagus.

Di bab awal Mas Sulak terasa sangat lentur dan tak banyak aturan. Tak sama dengan buku-buku praktis menulis lainnya, tapi makin menyusuri akhir bab, kita makin diajak disiplin, mulai dari membaca, menyunting naskah, mengulang-ulang, bahkan lebih keras lagi, kita diharuskan membaca buku-buku bagus dari karya-karya best seller, berlatih dengan konsisten dan disiplin.

Di bab akhir ini, rasanya semua yang dipaparkan Mas Sulak harus di-highlight. Pikiran Anda, sumber kekuatan imajinasi Anda, tak beda dengan perut Anda dan organ tubuh yang lain: ia perlu makanan. Bahkan mesin pun perlu pelumas dan bahan bakar agar bisa dijalankan dengan lancar. Makanan bagi pikiran Anda, jika Anda ingin menceburkan diri di dunia penulisan, baik sebagai pekerjaan sampingan maupun pekerjaan utama, adalah bacaan. Buku-buku yang ditulis oleh orang lain, posisinya sama dengan makanan yang dipelukan oleh perut Anda.

Di akhir bab Mas Sulak masih dengan gaya story telling-nya mengambil sebuah kisah hidup seorang tokoh, Malcom X. Mengutip otobiografinya dalam bab Menemukan Kesadaran Berbahasa. Sebuah penutup yang langsung membuat penulis   tak lama-lama merenung, tapi tentu saja langsung memburu ilmu dari buku-buku terbaik dan berlatih dengan disiplin dan konsisten.

Buku ini sangat direkomendasikan bukan hanya bagi penggemar tulisan-tulisan Mas Sulak yang bernas, atau pengagum-pengagum ceritanya yang susah lekang dari ingatan. Ada pun rahasia diksi dan plot yang menyihir serta kekuatan karakter-karakter yang bergerak dalam cerita-cerita Mas Sulak, dibeberkan dalam buku ini walau barangkali tak segamblang ketika kita mengikuti kelas-kelasnya. Namun, tips-tips yang dijabarkan dalam buku ini lumayan mengobati rasa nelangsa ketika belum bisa belajar langsung dari Mas Sulak.

Ada penutup yang sangat menyenangkan hati ketika membacanya sebelum kita memasuki bab terakhir yang diberi judul Buka Kamus, barangkali menarik jika aku mengutipnya untuk mengakhiri ulasan buku kali ini: Membacalah sebanyak-banyaknya. Menulislah sebanyak-banyaknya. Anda perlu menulis cepat agar waktu Anda tidak habis hanya untuk mematung di depan mesin tulis. Anda harus menghasilkan tulisan yang banyak dalam waktu singkat, dan bukan sebaliknya, memboroskan banyak waktu dengan tulisan yang segitu-gitu saja dan tak bergerak ke mana-mana. Jika Anda menulis sangat lambat dan terlampau banyak menimbang-nimbang, Anda akan cepat kelelahan dan tidak sanggup melakukan pekerjaan apa pun lagi. Jika Anda menulis cepat, Anda masih punya banyak wkatu untuk membaca, mengerjakan urusan sehari-hari, atau bersenang-senang dengan hal lain yang Anda sukai.

Tiba-tiba aku jadi sangat ingin menulis. Tentu saja ingin sekali bisa menulis cepat dan tetap menghasilkan tulisan yang brilian dan disukai pembaca, lalu setelah itu, aku segera bisa memegang kuas dan cat air untuk sekadar bersenang-senang dengan hal lain yang aku sukai. Buku bagus memang ajaib, ia memberikan energi lebih untuk pembacanya melakukan banyak karya nyata dan tentu saja penuh manfaat.[]

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *