cerita ceriti,  Self reminder

Bulir Hikmah #1

Sebuah kisah yang diminta untuk dibagikan, semoga ada pelajaran yang dapat dipetik.

Menjaga ‘Mitsaqan Ghaliza’ dari Tipu Daya Setan

Satu masa, ketika aku merasa berada di atas angin dan lupa bagimana cara kembali menginjak bumi, di saat itulah bisa dikatakan masa jaya. Aku merasa sangat hebat, memiliki sembilan orang anak yang sehat dan cerdas, memiliki usaha yang maju. Waktuku banyak tersita untuk memenuhkan pundi-pundi dengan materi, walau aku tetap tak lupa beribadah dan bersedekah sebagaimana kewajiban orang-orang beriman lainnya.

Mengenang masa itu, aku mengingat sebuah tembang Melayu yang bisa digubah seperti ini;

Harum wangimu hai bunga Tanjung

Harum semerbak di waktu pagi

Tinggi pangkatmu bagai di anjung

Hingga tak ingat jatuh ke bumi

 

Aku mulai membeli beberapa petak tanah sedikit demi sedikit, kala harganya belum melangit, tapi yang sedikit tadi ternyata menjadi banyak pula. Kalau kuingat lagi, ada sebersit heran dalam hatiku, pendamping hidupku yang dulunya di masa sulit tidak pernah mengeluh, tidak pula euforia di masa jayaku. Seluruh tanah yang kubeli atas namaku sendiri, tak satu pun atas namanya. Ia tidak ada rasa was-was, khawatir, dan memang tak ada keserakahan sebiji sawi pun dalam hatinya. Mengingat ketulusan hatinya, kembali ada rasa yang tidak bisa kuungkapkan selain syukur yang patut kupanjatkan pada Sang Penguasa Hati, betapa Dia telah memberikan pendamping yang luar biasa untukku.

Untuk meringankan beban kerja rumah tangga istriku, aku menggaji seorang asisten rumah tangga untuk kami. Ia sangat cekatan dan telaten, istriku tentu saja merasa sangat tertolong akan kehadirannya. Pendampingku ini merasa sangat percaya pada asisten kami ini, barangkali karena berangkat dari tulus hatinya pula, tak pernah ada prasangka buruk pada Sutri, nama asisten kami tersebut, tentu juga padaku.

Saking cekatannya, hampir tak ada lagi yang bisa dikerjakan istriku untukku dalam aktivitas harian. Ketika aku lelah dan kembali ke rumah, aku menemukan Sutri sedang membereskan rumah, meja tempatku makan, menyeduh kopiku, dan ia tak segan menambah beban kerjanya dengan mengganti seprei-seprei kami. Menyenangkan memang ketika semua sudah kemas dan bersih. Kami keduanya senang dan sangat menikmati pelayanan yang diberikannya. Bukan sesekali Sutri juga menghidangkan masakan-masakan yang tak kalah lezat. Aku sendiri tidak pula terlalu memperhatikan apakah ini masakan istriku atau Sutri karena setiap kali akan makan, Sutri yang sudah menyediakannya dengan apik di atas meja.

Tak ada yang salah dengan hubunganku dengan istriku, semua serba menyenangkan seperti dulu, tapi memang sekarang ia punya banyak waktu untuk mengembangkan hobinya atau pun beristirahat, mungkin juga bisa berkumpul dengan anggota keluarga lain dan teman-temannya. Sutri yang cekatan selalu ada saat aku butuhkan. Bak kata pepatah, “dari mana datangnya lintah, tentu dari sawah turun ke kaki, dari mana datangnya suka, dari mata turun ke hati”.

Aku berpikir dengan keadaanku kini, dengan materi yang cukup mampu untuk menafkahi lebih dari satu istri, dengan kebijaksanaan dan kharismaku barangkali, ditambah dengan kerelaan istriku yang sangat tulus, aku tanyakan padanya, “Lalu ini bagaimana? Apakah sudah boleh aku melakukan apa yang telah dihalalkan oleh agama kita? Aku ingin mempersunting seorang perempuan lagi untuk menjadi istri, untuk menolongnya, dan untuk meringankan bebanmu pula.”

Alangkah terkejut aku dengan jawaban lugasnya, “Silakan kalau kamu ingin menikah lagi, tapi mohon kembalikan aku pada keluargaku.” Jawab istriku sambil menyebutkan tempat pulangnya, di mana keluarganya juga masih berkumpul di sana. Tentu saja aku tak mau, dengan semua hubungan baik yang telah puluhan tahun kami bina, aku tak mungkin melepaskan perempuanku yang sudah memberikan sembilan putra-putri dari rahimnya.

Jadi dengan i’tikad kuat, aku mengajaknya pergi mengantarkan Sutri kembali pada keluarganya, tempat di mana kami pernah menjemputnya dulu. Anak-anakku yang sebahagian masih kecil tentu tak tahu apa yang telah terjadi, seorang perempuan yang telah lama menemani mereka saat ini harus dilerai dari keseharian mereka. Begitu pula aku yang harus mulai terbiasa.

Foto: dokumen pribadi

Lagi-lagi aku bersandar pada papan yang telah diselipkan istriku ketika aku akan terhanyut ke arus deras. Setan tak pernah suka dengan hubungan sah yang baik-baik saja. Ia akan mencari berbagai cara agar sebuah hubungan pernikahan retak sebagaimana sumpahnya untuk terus menggoda anak cucu Adam. Sebagaimana ketika di surga pun telah diciptakan Allah pohon Khuldi. Pohon kesalahan, ketika Adam memilih untuk mulai memakannya dan setan tertawa lebar untuk kesuksesannya menggoyahkan iman manusia.

Salah satu pencapaian tertinggi setan tentu saja melerai sebuah hubungan sah yang diikat oleh mitsaqan ghaliza atau sebuah perjanjian yang kuat. Ia akan tertawa dan melapor ke pada atasannya di dasar laut sana bahwa ia telah berhasil memutus satu lagi ikatan suci tersebut. Setan yang berhasil tadi pantas bangga dengan pencapaian yang luar biasa.

Maka ketika Buya Hamka tetap bersikeras agar segala keperluannya dilayani oleh istrinya, pun istrinya mulai mengeluh. “Kanda cobalah pula berpoligami agar Adinda punya jeda sejenak untuk berehat.”

“Sungguh, sungguh setan bukan datang padaku tapi melalui dirimu,” begitulah yang dirasakan oleh Buya Hamka. Bahwa bukan berarti ia mengatakan poligami salah, namun seringkali keputusan tersebut diambil oleh sebab hawa nafsu, bukan karena syariat. Di sanalah letak kesalahannya. Ketika keputusan tersebut tersebab keinginan sementara dan bukan karena Allah.

Aku merasa suguhan ibrah dari Allah tiada terkira. Sifat mulia istriku turut andil menolongku tetap pada jalur yang benar. Keputusan mendatangkan orang lain ke tengah-tengah kehidupan keluarga inti kita, jika mampu kita hindarkan, kenapa tidak dicegah saja. Aku sekarang sudah tua, tujuh belas tahun merasakan sakit yang melumpuhkan sebahagian besar anggota gerakku, membuat aku terus tergantung pada bantuan orang lain, terutama istriku tercinta. Ia dengan setia yang tiada tara terus mendampingiku, merawatku, tiada kenal lelah.

Aku ingin anak-anakku tahu bahwa aku tergelincir seperti yang pernah kuceritakan tadi, jangan sampai kejadian pula dalam rumah tangga anak-anakku. Setiap kali aku melihat anak lelakiku dilayani dengan selain istrinya, walau itu mengambilkan segelas air putih saat makan siang, rasa khawatir kembali menghampiriku. Begitu juga pada putri-putriku yang teramat kusayangi. Aku kerap mengawasi dan berdoa semoga pengawasan-Nya selalu menaungi mereka dan keluarga mereka. Aku sering mewanti-wanti, sesibuk apa pun mereka sebagai wanita di ranah publik, jangan pernah biarkan orang lain mengerjakan hal yang harusnya dikerjakan oleh tangan lembut seorang istri, sebaik-baik sentuhan dan pelayanan prima. Kedua jemari yang selalu dirindukan pasangan sah, maka tunaikanlah amanah sebaik-baiknya. Sekali-kali janganlah menyerahkan urusan kita kepada orang lain, bagaimana pun pentingnya urusan yang lain. Hidup adalah pilihan, mereka tentu bisa memilihuntuk mengerjakan dan meninggalkan yang mana.

Ini bukan perkara cantik atau buruk, tapi ketika kita sudah nyaman berada di sebelah orang lain selain pasangan sah kita, menerima pelayanannya dengan hati mengembang, orang semacam Sutri yang tadi di awal sudah kuceritakan pun bukan tak mungkin menggoyahkan biduk rumah tangga.

Setan telah berjanji untuk mencari teman di neraka nanti. Bagaimana pun poligami dengan niat untuk menemani setan masuk neraka tak akan pernah dicatat sebagai ibadah. Perkara melayani pasangan sah kita jangan pernah dianggap enteng, walau seremeh apa pun hal itu kita pandang. Barangkali mengenai membukakan pintu setiap kali kembali ke rumah ketika lelah tidak terkira.

Begitu pula ketika kita disibukkan oleh pekerjaan, sebagai suami yang merupakan tulang punggung keluarga, memang teramat berat dan sibuk, tapi janga lupa menyapa dan melayani istri sepantasnya pula, berikan hak-haknya akan kasih sayang, perhatian, dan waktu, penuhi dan lengkapi jiwanya dengan sungguh-sungguh. Bukanlah kita menjadi kepala keluarga yang baik ketika hal sekecil ini luput dari perhatian kita. Tidak mungkin kita menyelesaikn perkara di luar rumah ketika di dalam ada hak yang belum kita penuhi.

Kita mungkin memang menginginkan rumah megah seperti milik Fir’aun dan Qarun. Dua rumah termegah yang pernah ada di dunia ini. Kita bisa memilikinya dengan salat dua rakaat sebelum Subuh, empat rakaat sebelum Zuhur, dua rakaat setelah Zuhur, dua rakaat setelah Magrib, dan dua rakaat setelah Isya. Lalu tingkatkan di kemudian hari dengan salat tahajud dan yang terakhir lengkapi dengan salat dhuha. Setelah bisa rutin, usahakan pula zikir pagi dan petang agar terhindar diri dan seluruh anggota keluarga dari godaan setan yang terkutuk.

Semoga Allah menyelamatkan aku dan keluargaku dari keburukan dan memberikan kebaikan sebanyak-banyaknya kepadaku dan seluruh anak-cucuku. Aamiiin.

 

Minggu 29 Juli 2018 /

16 Dzulqaidah

Melalui penuturan yang ditulis ulang untuk kemaslahatan.

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *