my world

“Carpe Diem”

Carpe Diem

“Hai!” aku menyapamu, tepatnya memberanikan diri menyapamu malam itu. Mendengar suaraku sendiri yang sedikit menggeletar membuatku maju mundur mendekatimu. Mencoba menemukan sepasang manik mata dan mengira-ngira apa yang sedang kau pikirkan saat seorang pramusaji menyapa pelanggannya dengan sok akrab.

“Hai. Kamu…”

Benar saja, kau agak sedikit kaget, lagi-lagi spontan membetulkan letak kacamata di batang hidungmu. Salah satu kebiasaan yang paling menarik minatku.

“Ari.” Sambil menyodorkan tangan, kurasakan detak jantungku kembali stabil.

Carpe diem, kata-kata itu terus terngiang di telingaku. Petiklah waktu yang dalam  makna filosofis yang mampu kuartikan adalah jangan menyiakan kesempatan kali ini, saat wujudmu bukanlah sekadar imaji.

Sesudah berbulan-bulan tak lagi pernah memandangmu. Barangkali angin pun tahu aku dirajam rindu hingga entah angin mana yang akhirnya mengantarmu ke kafe tempatku bekerja seminggu ini. Setelah beberapa tahun hanya jadi asisten barista, kini aku punya sedikit nyali dengan mengatakan kalau sanger itu memang buatanku.

image credit

Hm, racikanmu unik. Sepertinya kau berbakat.” Bos tempatku bekerja kini jauh lebih mengapresiasi segala kerja kerasku. Di sinilah aku kini, bukan sekadar parmusaji di kafe ini.

“Hani.” Balasmu kali ini.

“Aku baru seminggu di sini.”

“Oh ya? Ini kejutan. Aku tak menyangka kita bertemu di sini. Hm…sebentar, apa ini sanger buatanmu?”

Pertanyaan semacam itu sulit kujawab karena tiba-tiba saja gugup itu datang lagi melesak ke dalam dada. Kubalas saja dengan senyuman.

“Pantas, tadi aku sempat berpikir kalau sanger ini pasti kamu yang bikin, tapi mana mungkin ya, kan? Rupanya memang buatan kamu…”

“Semoga kamu menikmatinya ya…”

“Pasti.”

Aku harus kembali ke dalam dan kau tahu betapa riangnya hati ini saat pandangan matamu mengantarku berlalu. Hai, hati. Apa kabar? Kuraba detak jantungku yang tak lagi tentu ritmenya.

carpe diem, quam minimum credula postero. “Petiklah hari, percayalah sedikit mungkin akan hari esok.” Aku telah melakukan apa yang harusnya lelaki sejati lakukan. Bukankah begitu? Daripada terus-terusan menjadi pengecut membiarkanmu berlalu seperti uap kopi pagi.

Namamu Hani

Aku ingin suatu hari kau mencoba cokelat dipadu kopi. Secangkir moccacino akan membuatmu berpaling dari lelaki yang hanya bisa menikmati segelas es teh tempo hari.

 

 

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *