cerita ceriti,  my little angels,  my world,  Parenting,  Self reminder

Catatan Ramadan 1444 H Hari Pertama

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ – ١٨٣

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Al-Baqarah: 183)

Aku dan anak-anak mencoba membuat hiasan di dinding rumah yang belum sempat dicat ulang sesudah ditempeli banyak kertas dan poster sebelumnya. Semoga performa dinding rumah kami tidak mengurangi niat menyemarakkan Ramadan tahun ini dan juga tidak mengurangi rasa bahagia anak-anak kemarin. Aku membuat masakan istimewa: rendang dan sup daging kesukaan seluruh keluarga. Alhamdulillah, ini bukan sekadar nikmat rezeki, tetapi juga waktu dan mood memasakku yang sedang stabil. Inginnya, sih, bikin brownies kesukaan anak-anak juga, tetapi aku tak sempat belanja lagi dan aku juga harus mengatur waktu sebaik-baiknya antara kerjaan rumah, editan, menemani anak-anak dan Umak ( sekarang kami setiap hari ke rumah abang selama Umak dirawat pascaoperasi katarak, untuk sama-sama mengawasi obat-obat pascaoperasi), dan kegiatanku di tempat kerja/organisasi yang kebanyakan kulakukan secara remot. Senang masih bisa sibuk, artinya kondisi tubuhku sedang sehat.

Faza sedang membuat hiasan dinding untuk menyambut Ramadan di rumah kami.

Malamnya kami tarawih di masjid Ja’far Hanafiah, masjid kampus UNMUHA Batoh. Malam itu menyenangkan sekali karena aku sempat qailulah alias mengambil istirahat siang yang membuatku tidak terserang kantuk saat isya dan tarawih, mengingat kebiasaanku yang mengambil waktu tidur lebih awal, bakda Isya kalau di hari-hari biasanya, aku jadi khawatir bakalan mengantuk saat tarawih. 

Sederhana sekali, kan? Semoga tidak mengurangi kegembiraan anak-anak dalam menyambut Ramadhan tahun ini 🙂

Ustaz Aslam Nur selaku rektor UNMUHA menjadi penceramah pertama di malam perdana Ramadan. Beliau mengingatkan kembali bahwa Ramadan bulan istimewa ketika segala amalan dilipatgandakan pahalanya dan bulan ketika pintu ampuunan dibukakan dengan lebar. Ustaz Aslam juga menyambut para jemaah yang hadir di masjid kampus, ada empat poin penting yang disampaikan Ustaz Aslam, salah satunya bahwa salat di masjid tersebut sebagaimana tahun-tahun lalu dilaksanakan 11 rakaat dengan 4-4-3 berdasarkan hadis berikut:

Aisyah ra. ketika beliau ditanya bagaimana salat malamnya Rasulullah saw: ما كان رسول الله يزيد في رمضان ولا في غيره على إحدى عشرة ركعة Aisyah ra menjawab: “Bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah salat malam melebihi 11 rakaat baik pada bulan Ramadan maupun pada bulan lainnya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Poin terakhir mengenai masjid yang ramah anak. Ustaz Aslam mengatakan bahwa Masjid Ja’far Hanafiah adalah masjid ramah anak, “Momen bulan Ramadan juga bisa menjadi tarbiyah bagi anak-anak untuk ikut ke masjid dan menyaksikan kegembiraan muslim beribadah di bulan Ramadan,”katanya.

Jemaah juga diajak tidak menghardik anak-anak yang terkadang tidak bisa tertib saat di masjid dan dianggap mengganggu kekhusyukan. Mereka boleh ditegur baik-baik, tetapi jangan sampai membuat mereka jera untuk datang ke masjid. Para orang tua yang membawa anak pun diajak untuk memberikan pengertian kepada anak sebelum ikut ke masjid dan masing-masing bisa menjaga ketertiban. Bisa menakar apakah anak tidak terlalu mengganggu jemaah lainnya ketika ikut ke masjid. 

Di akhir ceramah Ustaz Aslam menyampaikan bahwa pihak UNMUHA dan takmir masjid bersedia mendengarkan masukan para jemaah demi kenyamanan beribadah di masjid Ja’far Hanafiah selama Ramadan. Masjid kampus UNMUHA memang tidak terlalu luas, tetapi cukup nyaman dan dekat dari rumah kami, makanya kami sekeluarga biasanya melaksanakan tarawih di sana. Ada tausiyah sebelum memulai tarawih yang berlangsung sekitar 20-30 menit, singkat tetapi cukup padat dan berisi.

Esoknya kami mulai sahur dan sekitar pukul 18.56 WIB atau tiga menit menjelang berbuka puasa, aku mendapat jadwal siklus menstruasi, qadarullah, aku batal puasa hari pertama. Ada Astri, anak angkat kami juga di rumah hari itu. Mereka tertawa karena aku harus batal di tiga menit jelang berbuka puasa.

Akib dan dua orang temannya juga ada dan menginap di pondok kayu di sebelah rumah kami. Hari ketiga kami harus mengantarkan Akib ke asrama MSBS Jantho karena kegiatan belajar di sekolahnya sudah dimulai. Jadi malam ketiga kami tarawih di Masjid Raya Jantho. Aku dan Biyya yang sedang tidak salat hanya menunggu di dalam mobil dan kebetulan di masjid tersebut juga tidak ada tausiyah tarawih.[]

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya: Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Bisa dihubungi melalui surel medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *