Self reminder

Game Level 5 [Mencoba Merimbunkan Pohon Literasi di Mana Saja Berada]#6

“Kita berangkaat!” komando Ayah dan Faza dengan riang ke rumah tetangga samping kami, ia menjemput Akib yang sedang menonton teman-temannya main game android di sana. Duh! Padahal bukan  waktunya main gawai, tapi aturan sudah dilanggar.

Satu teman Akib sempat meminjam bukunya untuk dibaca dan kulihat ia lumayan mau membaca dibanding teman lainnya. Lebih banyak teman Biyya yang meminjam dalam jumlah banyak dan kemudian ia kembalikan bersama kotak souvenir. (more…)

Game Level 5 [Jangan Lelah Menyiraminya]#5

Hari berikutnya terasa beda. Ternyata sifatku tak suka digegas kembali kumat. Aku yang terkenal tak memiliki mental kompetisi, lekas sekali surut akibat tarikan dan dorongan dalam diri. Aku tak biasa menoleh ke samping kiri dan kanan untuk kemudian melangkah lebih cepat atau melambat sejenak. Mental kompetisi tak selamanya buruk, ternyata jika aku amati, teman-teman yang bermental suka bersaing dan mengarahkannya ke hal yang positif, amat sangat membesut kinerjanya dalam hal apa pun. Walau beberapa ada yang berefek tak baik, tapi lingkungan persaingan di kiri kananku amat positif sejauh ini. Apalagi setelah aku tak lagi ambil pusing dan mulai meminimalisir dari lingkungan atau orang-orang yang beraura negatif. Sekadar tahu saja. (more…)

Game Level 5 [Semoga Berbuah Karya]

Memasuki hari kelima, namun laporan baru kuunggah dua hari. Kalau ingin menjadi alasan dan pembenaran, sih, banyak saja. Mulai dari safar 12 jam lebih, kondisi rumah yang acakadut, maafkan ya, PakSu yang sudah bekerja keras menyelesaikan tumpukan piring dan cucian, namun kondisi rumah memang mengenaskan tanpa ibu. Hehehe… (more…)

Game Level 5 [Menanam dan Merimbunkan Pohon Literasi]

Sudah lama ingin membuat challenge semacam ini buat keluarga, terutama menantang Pak Suami juga yang waktunya bisa dibilang mepet dan penyuka genre tertentu saat membaca. Aku masih sanggup membuat list bacaan fiksinya setelah 12 tahun menikah. Ia cukup pemilih dalam bacaan dan kebiasaan karib dengan dunia digital seperti lelaki pada umumnya membuat ia tak seberminat itu dalam membaca. Ia kuperhatikan lebih cepat menyerap ilmu dengan menonton video. Sebelum mengajar pun ia justru mencari bahan ajar dalam bentuk video atau satu halaman buku dan searching keyword yang berasal dari buku yang dibacanya, kemudian menonton lagi. (more…)

Tantangan Game Level 3 Melatih Kecerdasan Emosi Hari#10

Tantangan Game Level 3 Melatih Kecerdasan Emosi

Hari minggu telah tiba, Akib yang sebelumnya sudah berjanji dengan teman-temannya untuk menginap di shelter, akhirnya mengeksekusi janji-janji tersebut. Ia terlihat begitu antusias hingga lupa bagaimana kami melalui sore kemarin dengan Faris yang harus tinggal sementara di rumah Alfa. Karena tidak ada rencana atau pemberitauan lebih awal dari ibu ataupun Faris sendiri, hingga kami merencanakan agenda rapat keluarga di pantai walau hanya sekitar dua jam.

Ingin mengajak Faris tapi dilema juga kalau nantinya harus menghabiskan waktu bersitegang dengan Akib kalau ia terdsitraksi dengan gawai saat kami makan dan mengobrol, atau ia jadi tak enak kalau harus mengabaikan Faris sahabatnya, Faris juga tidak berminat ikut, jadilah ia tinggal bermain bola dengan Alfa saja.

Subuh dimulai dengan jogging ke musala bersama Ayah dan teman lainnya, sepulang salat mereka mulai pasang ancang-ancang bergawai-ria, aku hanya mengingatkan agar sarapan tepat waktu dan mandi.

Bolak balik nimbrung ke shelter dan melihat mereka belum mulai sepertinya dan aku lebih bersyukur saat akhirnya mereka memilih bersepeda dulu, walau agak jauh dan aku katakan pada ayahnya kalau sedikit ragu melepas mereka. “Biarin aja, insya Allah nggak apa-apa.” jawab ayahnya menguatkan.

Bersama dengan teman-temannya, Akib jauh lebih kooperatif dan asik. Tidak ada pertikaian dan debat remeh temeh, saatnya salat mereka salat berhenti dan waktunya makan mereka balik sebentar ke rumah untuk makan dan minum. Bersepeda dan jajan pun disilakan untuk hari ini seperti hari raya.

Sorenya kami mengunjungi Hirzi sepupu Akib di Pesantrennya. Masih dengan antusiasme yang sama, Akib cukup kooperatif hingga malam hari.

Bersama genk AK Komlek Bumi Asri

Game Tantangan Level 3 Melatih Kecerdasan Emosi Hari#9

Game Tantangan Level 3 Melatih Kecerdasan Emosi Hari#

Lalai saat pagi akhirnya membuat Akib terlambat ke sekolah. Memang ada rasa dongkol dan ingin menpertanyakan hal yang sama “Kenapa bisa kejadian lagi, Kib?” muka kesal pun akhirnya tak mampu kusembunyikan. Padahal tidak ada lagi piket menggulung anti nyamuk elektrik, walau semalam dia tidur di kamar Biyya. Piket menggulung anti nyamuk elektrik tidak lagi dijalankan karena ia sudah pindah ke pondoknya di sebelah rumah. Sekarang beralih ke mengurus pakaian sendiri, tapi belum juga dimulai. (more…)

Tantangan Game Level 3 Melatih Kecerdasan Emosi Hari#8

Pagi hingga sore tidak ada perbedaan yang cukup signifikan dalam naik turun emosi anak-anak. Hanya pagi yang datar, persoalan sikat gigi untuk Biyya, debat kecil perlu atau tak perlu memakai singlet dan semacam itu. Sementara seperti biasa, kamis aku harus mengajar dan dilanjutkan dengan rapat dewan guru. (more…)