my world

NHW #3 Matrikulasi IIP Batch#3

NICE HOMEWORK #3

📚MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH 📚

Bunda, setelah kita belajar tentang “Membangun Peradaban dari Dalam Rumah” maka pekan ini kita akan belajar mempraktekkannya satu persatu.

🙋
👨‍👩‍👦‍👦Nikah

Bagi anda yang sudah berkeluarga dan dikaruniai satu tim yang utuh sampai hari ini.

a. Jatuh cintalah kembali kepada suami anda, buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki “alasan kuat” bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda.Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami.

10 Februari 2017
Assalamu’alaikum

Dear Eun Yud, ayah anak-anakku.
Masih segar diingatan Juli lalu kamu mengirimkan sebuah foto ke WA-ku, “Still having a hoot after 11 years” happy anniversary.

Prinsipku selama ini, perlakukan suami sebagaimana kamu ingin diperlakukan dipertegas kembali oleh beberapa motivator Pernikahan. Dulu masih ingat di awal-awal pernikahan aku masih sering membaca buku-buku Faudhil Adzhim dan membacakan beberapa paragraf disaat menjelang tidur. Membuat surat berlembar-lembar dan menyaksikan binar mata dan kulum senyummu.

Maafkan jika berganti hari aku tak lagi semeriah itu merayakan cinta. Barangkali bersebab aku sedikit lelah dengan pikiranku sendiri tentang bagaimana ananda kita bisa bertumbuh dengan baik. Mohon tetap yakinkan hatimu bahwa cintaku sedikitpun tak bergeser dari tempatnya, cintaku tak dibagi sama sekali dengan kehadiran anak-anak kita, justru akan kukali berlipat-lipat, terutama ketika memandang wajah si bungsu hari ini. Faza… gen dominanmu dan seluruh perkodean yang berhasil dicopy-nya dari fisikmu, semakin menggemaskan dan membuat cintaku semakin bertambah padamu.

Dulu gumamku sebelum tidur adalah,I still can’t believe it’s true, that you’re there beside me. I really can touch you not only imagine about you. Can shake your hand, can hold your arms. Still like a drems. Tapi beberapa tahun malam-malam kurasakan kantuk menyerang teramat dahsyat, aku tidak menyalahkan pekerjaan rumah dan anak-anak. Tapi barangkali aku yang tidak piawai mengatur waktu. Maafkan namun sebenarnya setiap malam aku masih memikirkan hal yang sama. Sulit dipercaya aku benar-benar perempuan yang dipilih oleh-Nya bisa tidur di sampingmu.

Eun Yud, sekali lagi kukatakan untuk kesekian kalinya betapa tabiatmu yang melekat tentang belajar dan menimba ilmu amat sangat menguatkanku di sisimu. Kutemukan kamu dalam detik-detik belajar dalam universitas kehidupanku. Pikiranmu yang terbuka dan tidak pantang dikritik asalkan dengan cara yang baik dan dibarengi dengan niat tulus, membuatku kagum hingga detik ini. Ego yang katanya menjadi jargon pada seorang Ayah ada padamu dalam hal yang positif, ego negatif? Masya Allaah… malaikatpun insya Allah mencatat bagaimana kamu punya usaha keras meninggalkan kesukaan lamamu bermain game dan merokok ketika pertama sekali kita melangkah ke jenjang munakahat. Aku menjadi saksi betapa sulit itu kamu tetap melaluinya. Kamu masih dan tetap segalanya dalam hal ini. Lalu ketika ingin marah, kau redam hingga ke tanah terbawah. Allah mohon catatkan ini untuk ia, Eun Yud suami yang penyabar. Aku mencintaimu seluruhnya, sepenuh hatiku. Sekiranya ada tempat lain yang bisa kujadikan jaminan bahwa cinta ini melebihi apa yang pernah terucap, maka biar Allah saksinya. Maafkan segala salah dan khilaf selama Aini menjadi istrimu.

Your lovely wife
Your supportive partner in life

Aini

b.Lihatlah anak-anak anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing.

1. Alfi Kawakib
Alfi panggilan kecilnya, tapi ketika usianya 2 tahun dan mulai bisa menyebut dirinya sendiri, panggilannya menjadi Akib, singkatan dari keseluruhan namanya. Sejak kecil Akib mungil tergolong tak bisa diam, suka bercerita dan bergerak. Bunda menuliskan catatan mengenai tumbuh kembang Akib dinsebuah blog bertajuk Inspiring Moment tahun 2008 di blogspot (stanza-filantropi.blogspot.com), tapi seiring waktu blog itu tidak lagi dikelola dengan baik dan sekarang campur aduk, tidak fokus pada perkembangan Akib. Dari sana Bunda mencatat bahwa kelebihan Akib
a) memiliki kemampuan imajinasi yang tinggi, hingga sejak kecil Bunda memanggilnya dengan Sang Imajinator Adiluhung.
b) kritis seperti anak usia 7-11 tahun pada umumnya.
c) berani tampil di depan umum
d) mudah bergaul dengan teman segala usia, walau tidak bisa mengemong adiknya dengan baik.
e) bisa menggambar
f) piawai merakit lego
g) bisa menggunakan program aplikasi seperto coral draw, smooth draw, dan sketch up versi lama.
h) penyuka aktivitas indoor ini sangat lahap membaca buku segala genre.

2. Hukma Shabiyya
a) kritis dan atraktif. Karena anak tengah, dia punya seni sendiri menarik perhatian kami kedua ortunya.
B) ramah, mudah bergaul dengan siapa saja, maka kami gelari ia dengan Si Rumeh Biyya alias Biyya Yang Ramah.
C) kemampuan kognitif lebih baik dibanding abangnya (bukan mau mbandingkan tapi ditulis seperti itu untuk sekedar menggambarkan kemampuannya), tulisan lebih rapi, tekun, selaras dan tidak ceroboh.
D) menyukai karate dan olahraga fisik membuat badannya lebih luwes
E) walau mengidap ashtma tapi daya tahan tubuh lebih bagus di antara kami sekeluarga.
F) penyuka aktivitas outdoor dan sangat ekspresif dengan segala perasaannya baik emosi positif maupun emosi negatif.

3. Muttaqiy Mafaza
A) usianya baru dua tahun tapi bisa mengikuti beberapa nada dan sangat responsif. Selera makan stabil dan karena belum teridentifikasi sekali keahliannya kami hanya membantu ia menemukan minat dan bakatnya dengan tidak lupa berdoa, kami memberinya gelar Sang Bijaksana

c. Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. kemudian tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Allah, mengapa anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi yg anda miliki.

Kekuatan potensi diri saya barangkali lebih sabar menghadapi perbedaan sifat anak-anak. Saya sering melihat anak-anak yang bisa disuruh duduk diam dan mudah sekali dibujuk dan dihentikan, bisa dikendalikan walau tidak mungkin sepenuhnya. Sementara anak-anak saya sejak kecil tergolong super aktif dan tahap mulai merangkak hingga berjalan adalah saat-saat yang lebih melelahkan jika saya perhatikan dengan teman-teman yang memiliki anak sebaya dengan saya. Begitu juga dengan kondisi ketika hamil, Allah sangat memudahkan segala prosesnya, walau tidak mungkin tak lelah susah dan payah, tapi teman-teman sering heran melihat saya hamil masih sanggup menghandel segala urusan domestik dan tetap bisa berorganisasi. Saya sangat menikmati segala keringanan yang diberikan-Nya, mencatat hal ini baik-baik agar syukur kerap terpatri dalam diri.

Potensi lainnya saya bisa menggambar dengan cukup baik. Saya melihat Akib dan Biyya senang sekali punya Bunda yang bisa menggambar walau tidak alakadarnya saja.

d. Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda? adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan disini?

Mengenai lingkungan tetap, agaknya masih belum bisa kami petakan. Tapi sejauh ini lingkungan tempat kami beraktivitas selama ini adalah wadah tempat kami bisa menabung amal akhirat jika kami manfaatkan dengan baik. Tiga tahun tinggal di lingkungan panti asuhan, keluar dari sana masih beraktivitas mengajar anak-anak pesantren dengan mata pelajaran non kurikulum. Sekiranya masih diijinkan Allah, hingga anak-anak besar kami tetap ingin menjalin silaturrahim dengan lingkungan yang lama ini.

Saya belum tahu mengapa Allaah memberikan lingkungan ini untuk kami, kenapa kami harus hadir di sana. Barangkali untuk menguji kesungguhan kami beramal dan benarkah kami ini sudah memiliki kesalihan sosial seperti yang dulu kami idamkan sebelum menikah ataukah hanya ujian kesempatan yang hanya akan tersia-siakan oleh kelalaian kami.

 

Demikian NHW #3 kali ini semoga bisa membangun peradaban dari dalam rumah dan tetap terjaga motivasi semacam ini. Terima kasih atas kesempatannya saya haturkan kepada Bunda Fasilitator dan Bunda Korming di kelas Matrikulasi IIP Batch #3

Dear Eun Yud

Assalamu’alaikum Eun Yud.
Tema Nice Homework dari kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional hari ini adalah membuat surat cinta untuk suami. Hah? Surat cinta kenapa prolognya seperti ini? Yap! Tak mengapa kan, ya? Ada beberapa alasan kenapa Aini segamblang ini, Eun Yud. Satu, karena mengikuti kelas matrikulasi ini adalah keinginan Aini yang didukung oleh suami. Suami Aini… kamu, ya Eun Yud. Jadi walaupun Aini akan buka dengan cara seromantis apapun, seformal apapun, yang terbaik adalah terbuka untuk saat ini. Aini sama sekali tidak berpura-pura melankolis kali ini dan kemudain menulis surat untuk kamu. Walau pada akhirnya nanti seiring tuts kibor ini terus diketuk, perasaan ini akan kembali tiba. Hari dimana Aini rutin menulis surat seperti minum obat. Bisa lebih tiga kali sehari. Temali itulah yang mengaitkan komunikasi kita yang terindikasi memiliki ketidakluwesan secara verbal, Eun Yud. Ya… kita memang begitu kan saat itu? Seiring waktu dan saling mengenal secara keseluruhan, menajamkan insting dan indra, menjadi pribadi pembelajar saat nafas masih dikandung badan, kemudian ini membuat kita lebih luwes satu sama lain secara verbal.
Baiklah Eun Yud… here we are. Sejak bergulirnya waktu dan kita pertama sekali diamanahkan Akib, ia gemar dan teramat ahli melipat waktu. Kini si sulung melewati satu dekade. Di tahun pertamanya kita belajar saling menyapa “Ayah-Bunda” untuk membiasakan diri dan sebagai self reminder juga bahwa kita bukan lagi anak-anak melainkan orangtuanya anak-anak, hal ini terkait dengan pembenahan diri yang harusnya makin kita tingkatkan. Walau sehari-hari Aini memanggil Eun Yud ‘Ayah’ saat ini, berteriak dari luar kamar mandi “Yah, sudahkah? Bunda kebelet, nih!” tapi menyapamu ‘Ayah ’ saat berduaan ataupun di surat adalah hal yang canggung bagi Aini. Tapi, ya sudahlah, akan disesuaikan dengan suasana saat lajunya aksara ini membentuk kata-kata selain untuk meyegarkan rumah tangga kita, juga ajang menempa diri Aini menjadi Bunda yang sama-sama kita idamkan, Ibu yang professional.
Setelah alasan pertama tadi, tentu ada alasan keduanya kenapa surat ini sebegitu gamblangnya. Karena ini bukan pertama sekali membuat surat untuk Eun Yud. Membuat surat adalah hobi Aini yang selalu tersalurkan selama ini. Sejak pertama sekali mengenal Eun Yud, kan? Jadi tersenyum sendiri mengingat bahwa hadiah rutin pada ulang tahun pernikahan kita adalah tulisan Aini. Jadi surat kali ini tidak romantis karena biasanya Eun Yud juga sering menerima surat semacam itu minimal setahun sekali. Aini bahagia karena Eun Yud tidak pernah memaksakan kepribadian Aini. Aini bisa jadi diri sendiri di depan Eun Yud, tetap boleh melakukan yang Aini sukai asal tidak melanggar syari’ah dan saat itu Aini selalu merasa penuh dan lengkap di samping Eun Yud. Satu dari sejuta alasan terkuat membersamai kamu. Lalu… sejak sebelum kita disatukan dalam pernikahan, dimana masa perkenalan saat itu Aini kerap melihat Eun Yud adalah pembelajar sejati yang membuat Aini bulat hati mendampingi. Benar tak ada manusia yang sempurna, tapi seorang pembelajar sejati selalu bisa memperbaiki diri kea rah yang jauh lebih baik dan lebih berarti bagi setiap orang di sisinya. Termasuk Aini dan anak-anak adalah yang beruntung telah disatukan di dunia bersama sosok pembelajar sejati. Aini kerap berdoa agar nanti kita disatukan kembali di surge-Nya. Aamiin.
Barangkali masih ada alasan ketiga kenapa surat ini tidak mengharu biru dan berbeda dari surat-surat sebelumnya yang dipenuhi dengan panggilan cinta di setiap awal paragrafnya. Berapa kosa kata panggilan sayang buat ayah anak-anak Aini ini? Sayangnya tidak didokumentasikan dengan seksama sehingga kita tidak pernah tahu ada berapa lembar ianya ketika dibuatkan dalam satu buku. Oh well, Eun Yud, barangkali karena di sini ada unsur tugas jadi barangkali aka nada yang membaca selain Eun Yud. Tapi sebenarnya masih bisa diatur kok, apakah satu orang saja yang membaca atau lebih dari satu orang. Yang pasti tidak banyak. Surat ini untuk Eun Yud, diperuntukkan tetap buat Eun Yud seorang. Tentu kamu yang paling betah membacanya. Sebagaimana betahnya membersamai hari-hari Aini. Terima kasih, ya. Hal itu belum Aini temukan sebuah kata untuk ungkapkan betapa Aini kerap rasakan bahagia saat kita bersama.

Your wife
Aini

Jadwal Harian Bunda

JADWAL HARIAN BUNDA

 

SENIN Time/Period Activity
04.30-05.30

 

Qiyamul lail + tilawah
  05.30-05.45 Salat subuh /membaca/ mengobrol dengan Eun Yud
05.45-06.30 Menyiapkan sarapan pagi dan kopi / menyalakan mesin cuci
06.30-07.30 Membereskan rumah/ menyapu/menyuci/ menjemur kain/menyetrika/mandi/ memandikan Faza
07.30-17.00 Berangkat ke Dayah/ mengajar Reading and Speaking/salat dhuha/ mengantar Biyya mengaji ke Ustaz Yasir/ mengobrol dengan Ida dkk.
17.00-19.00 Kembali ke rumah/ membereskan rumah/ memandikan Faza/ menyiapkan makan malam
19.00-19.45 Salat magrib berjamaah/ tilawah/tausiyah/ evaluasi tim*
19.45-21.00 Makan malam/ mengobrol santai dengan keluarga/menyiapkan bahan ajar/ mengawasi anak-anak meyiapkan perlengkapan sekolah
21.00-22.00 Belajar
22.00-04.30 Tidur
SELASA

 

04.30-05.30

 

Qiyamul lail + tilawah
05.30-05.45 Salat subuh /membaca/ mengobrol dengan Eun Yud
05.45-06.30 Menyiapkan sarapan pagi dan kopi / menyalakan mesin cuci
06.30-07.30 Membereskan rumah/ menyapu/menyuci/ menjemur kain/menyetrika/mandi/ memandikan Faza
07.30-17.00 Berangkat ke Dayah/ mengajar Reading and Speaking/salat dhuha/ mengantar Biyya mengaji ke Ustaz Yasir/ mengobrol dengan Ida dkk.
17.00-19.00 Kembali ke rumah/ membereskan rumah/ memandikan Faza/ menyiapkan makan malam
19.00-19.45 Salat magrib berjamaah/ tilawah/tausiyah/ evaluasi tim*
19.45-21.00 Makan malam/ mengobrol santai dengan keluarga/menyiapkan bahan ajar/ mengawasi anak-anak meyiapkan perlengkapan sekolah
21.00-22.00 Belajar
22.00-04.30 Tidur
RABU

 

04.30-05.30

 

Qiyamul lail + tilawah
05.30-05.45 Salat subuh /membaca/ mengobrol dengan Eun Yud
05.45-06.30 Menyiapkan sarapan pagi dan kopi / menyalakan mesin cuci
06.30-07.30 Membereskan rumah/ menyapu/menyuci/ menjemur kain/menyetrika/mandi/ memandikan Faza
07.30-17.00 Berangkat ke Dayah/ mengajar Jurnalistik dan Reading and Speaking/salat dhuha/ mengantar Biyya mengaji ke Ustaz Yasir/ mengobrol dengan Ida dkk.
17.00-19.00 Kembali ke rumah/ membereskan rumah/ memandikan Faza/ menyiapkan makan malam
19.00-19.45 Salat magrib berjamaah/ tilawah/tausiyah/ evaluasi tim*
19.45-21.00 Makan malam/ mengobrol santai dengan keluarga/menyiapkan bahan ajar/ mengawasi anak-anak meyiapkan perlengkapan sekolah
21.00-22.00 Belajar
22.00-04.30 Tidur
KAMIS

 

 04.30-05.30

 

Qiyamul lail + tilawah
05.30-05.45 Salat subuh /membaca/ mengobrol dengan Eun Yud
05.45-06.30 Menyiapkan sarapan pagi dan kopi / menyalakan mesin cuci
06.30-08.00 Membereskan rumah/ menyapu/menyuci/ menjemur kain/menyetrika/mandi/ memandikan Faza
08.00-09.00 Dhuha/ update blog
09.00-11.30 Kajian rutin
11.30-15.00 Menjemput Biyya/ salat zuhur/ bermain dengan Biyya dan Faza/ Membaca
15-00-16.00 Tidur siang atau evaluasi bacaan quran Biyya
16.00-19.00 Salat asar/persiapan makan malam
19.00-19.45 Salat magrib berjamaah/tilawah/tausiyah/evaluasi tim
19.45-21.00 Makan malam/ngobrol santai dengan keluarga/ mengawasi anak-anak menyiapkan perlengkapan sekolah
21.00-22.00 Belajar / main dengan Faza kalau dia belum tidur
22.00-04.30 Tidur
JUMAT

 

 04.30-05.30

 

Qiyamul lail + tilawah
05.30-05.45 Salat subuh /membaca/ mengobrol dengan Eun Yud
05.45-06.30 Menyiapkan sarapan pagi dan kopi / menyalakan mesin cuci
06.30-07.30 Membereskan rumah/ menyapu/menyuci/ menjemur kain/menyetrika/mandi/ memandikan Faza
07.30-08.45 Kelola grup WA PWNA Aceh
08.45-11.00 Evaluasi laporan manajemen kandang/ membaca bahan tentang rabbitry
11.00-13.00 Persiapan salat zuhur dan les TOEFL
13.00-17.00 Les TOEFL/ IELTS = perjalanan pulang
17.30-19.00 Persiapan  makan malam dan salat magrib
19.00-19.45 Salat magrib berjamaah/tilawah/tausiyah/ evaluasi tim
19.45-21.00 Makan malam mengobrol santai dengan keluarga/ menonton film
21.00-04.30 Tidur
SABTU

 

 04.30-05.30

 

Qiyamul lail + tilawah
05.30-05.45 Salat subuh /membaca/ mengobrol dengan Eun Yud
05.45-06.30 Menyiapkan sarapan pagi dan kopi / menyalakan mesin cuci
06.30-07.30 Membereskan rumah/ menyapu/menyuci/ menjemur kain/menyetrika/mandi/ memandikan Faza
07.30-08.45 Tentatif
08.45-11.00 Evaluasi laporan manajemen kandang/ membaca bahan tentang rabbitry
11.00-11.30 Memasak Donat atau Pizza dengan Biyya
11.30-17.00 Persiapan ke kantor PWNA/ ke panti asuhan Punge

Diskusi dengan pengurus/ kelas kajian putri/ kajian sabtu sore

17.30-19.00 Persiapan  makan malam dan salat magrib
19.00-19.45 Salat magrib berjamaah/tilawah/tausiyah/ evaluasi tim
19.45-21.00 Makan malam mengobrol santai dengan keluarga/ menonton film
21.00-04.30 Tidur
MINGGU  04.30-05.30

 

Qiyamul lail + tilawah
05.30-05.45 Salat subuh / membaca/ mengobrol dengan Eun Yud
05.45-06.30 Menyiapkan sarapan pagi dan kopi / menyalakan mesin cuci
06.30-07.30 Membereskan rumah/ menyapu/menyuci/ menjemur kain/menyetrika/mandi/ memandikan Faza
07.30-17.30 Persiapan outdoor dengan anak-anak/ olahraga/ rihlah/ silaturrahim
17.30-19.00 Persiapan  makan malam dan salat magrib
19.00-19.45 Salat magrib berjamaah/tilawah/tausiyah/ evaluasi tim
19.45-21.00 Makan malam mengobrol santai dengan keluarga/ persiapan sekolah anak-anak/ persiapan mengajar
21.00-04.30 Tidur

 

\

 

 

 

 

Adab Menuntut Ilmu

 Sebelum mengeposkan tulisan ini, akan dijelaskan sedikit bahwa ini merupakan catatan kelas matrikulasi Matrikulasi Institut Ibu Profesional (IIP Batch #3 Sumut-Aceh). 

 Dengan bismillah, Bunda kembali mengatur waktu, masih dengan debar yang sama saat pertama sekali mempunyai kalian duhai ananda, betapa dirasa beratnya amanah ini. Menjadi Bunda bagi kalian anak-anak yang  telah Allah titipkan. Bunda tahu sebab sangguplah maka Allah berikan, di samping syukur yang terus kami rapalkan, kami pintakan agar selalu dibimbing-Nya mengasuh dan mendidik kalian. Bismillaah Bunda bisa, harus bisa menyiapkan gelas-gelas kosong untuk kerap menimba ilmu, dan entry kali ini adalah materi kuliah bersambung yang disampaikan di IIP Batch 3 dengan sudah seizin fasilitator diposting berseri di blog pribadi dengan harapan bisa mendatangkan manfaat sebanyak-banyaknya untuk yang membacanya, juga sebagai pengingat diri.

 

PROLOG 1

KELAS MATRIKULASI BATCH 3
INSTITUT IBU PROFESIONAL

☘☘☘☘
ADAB MENUNTUT ILMU
Senin, 23 Januari 2016

Disusun oleh Tim Matrikulasi- Institut Ibu Profesional

Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mengubah perilaku dan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Karena pada dasarnya ilmu menunjukkan kepada kebenaran dan meninggalkan segala kemaksiatan.
Banyak diantara kita terlalu buru-buru fokus pada suatu ilmu terlebih dahulu, sebelum paham mengenai adab-adab dalam menuntut ilmu. Padahal barang siapa orang yang menimba ilmu karena semata-mata hanya ingin mendapatkan ilmu tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baginya, namun barangsiapa yang menuntut ilmu karena ingin mengamalkan ilmu tersebut, niscaya ilmu yang sedikitpun akan sangat bermanfaat baginya.
Karena ILMU itu adalah prasyarat untuk sebuah AMAL, maka ADAB adalah hal yang paling didahulukan sebelum ILMU

ADAB adalah pembuka pintu ilmu bagi yang ingin mencarinya
Adab menuntut ilmu adalah tata krama (etika) yang dipegang oleh para penuntut ilmu, sehingga terjadi pola harmonis baik secara vertikal, antara dirinya sendiri dengan Sang Maha Pemilik Ilmu, maupun secara horisontal, antara dirinya sendiri dengan para guru yang menyampaikan ilmu, maupun dengan ilmu dan sumber ilmu itu sendiri.
Mengapa para Ibu Profesional di kelas matrikulasi ini perlu memahami Adab menuntut ilmu terlebih dahulu sebelum masuk ke ilmu-ilmu yang lain?

Karena ADAB tidak bisa diajarkan, ADAB hanya bisa ditularkan
Para ibulah nanti yang harus mengamalkan ADAB menuntut ilmu ini dengan baik, sehingga anak-anak yang menjadi amanah para ibu bisa mencontoh ADAB baik dari Ibunya

☘ADAB PADA DIRI SENDIRI

a. Ikhlas dan mau membersihkan jiwa dari hal-hal yang buruk.
Selama batin tidak bersih dari hal-hal buruk, maka ilmu akan terhalang masuk ke dalam hati.Karena ilmu itu bukan rentetan kalimat dan tulisan saja, melainkan ilmu itu adalah “cahaya” yang dimasukkan ke dalam hati.

b. Selalu bergegas, mengutamakan waktu-waktu dalam menuntut ilmu, Hadir paling awal dan duduk paling depan di setiap majelis ilmu baik online maupun offline.

c.Menghindari sikap yang “merasa’ sudah lebih tahu dan lebih paham, ketika suatu ilmu sedang disampaikan.

d.Menuntaskan sebuah ilmu yang sedang dipelajarinya dengan cara mengulang-ulang, membuat catatan penting, menuliskannya kembali dan bersabar sampai semua runtutan ilmu tersebut selesai disampaikan sesuai tahapan yang disepakati bersama.

e. Bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas yang diberikan setelah ilmu disampaikan. Karena sejatinya tugas itu adalah untuk mengikat sebuah ilmu agar mudah untuk diamalkan.
☘ADAB TERHADAP GURU (PENYAMPAI SEBUAH ILMU)

a. Penuntut ilmu harus berusaha mencari ridha gurunya dan dengan sepenuh hati, menaruh rasa hormat kepadanya, disertai mendekatkan diri kepada DIA yang Maha Memiliki Ilmu dalam berkhidmat kepada guru.

b. Hendaknya penuntut ilmu tidak mendahului guru untuk menjelaskan sesuatu atau menjawab pertanyaan, jangan pula membarengi guru dalam berkata, jangan memotong pembicaraan guru dan jangan berbicara dengan orang lain pada saat guru berbicara. Hendaknya penuntut ilmu penuh perhatian terhadap penjelasan guru mengenai suatu hal atau perintah yang diberikan guru. Sehingga guru tidak perlu mengulangi penjelasan untuk kedua kalinya.

c. Penuntut ilmu meminta keridhaan guru, ketika ingin menyebarkan ilmu yang disampaikan baik secara tertulis maupun lisan ke orang lain, dengan cara meminta ijin. Apabila dari awal guru sudah menyampaikan bahwa ilmu tersebut boleh disebarluaskan, maka cantumkan/ sebut nama guru sebagai bentuk penghormatan kita.

☘ADAB TERHADAP SUMBER ILMU

a. Tidak meletakkan sembarangan atau memperlakukan sumber ilmu dalam bentuk buku ketika sedang kita pelajari.

b. Tidak melakukan penggandaan, membeli dan mendistribusikan untuk kepentingan komersiil, sebuah sumber ilmu tanpa ijin dari penulisnya.

c. Tidak mendukung perbuatan para plagiator, produsen barang bajakan, dengan cara tidak membeli barang mereka untuk keperluan menuntut ilmu diri kita dan keluarga.
d. Dalam dunia online, tidak menyebarkan sumber ilmu yang diawali kalimat “copas dari grup sebelah” tanpa mencantumkan sumber ilmunya dari mana.
e. Dalam dunia online, harus menerapkan “sceptical thinking” dalam menerima sebuah informasi. jangan mudah percaya sebelum kita paham sumber ilmunya, meski berita itu baik.
Adab menuntut ilmu ini akan erat berkaitan dengan keberkahan sebuah ilmu, shg mendatangkan manfaat bagi hidup kita dan umat

Referensi :
Turnomo Raharjo,
Literasi Media & Kearifan Lokal: Konsep dan Aplikasi, Jakarta, 2012.

Bukhari Umar, Hadis Tarbawi (pendidikan dalam perspekitf hadis), Jakarta: Amzah,
2014, hlm. 5

Muhammad bin sholeh, Panduan lengkap Menuntut Ilmu, Jakarta, 2015

Majelis Lukmanul Hakim

Merupakan sebuah kebahagiaan yang tak terperi ketika pasangan kita memiliki kemauan menolong dan bersinergi dalam pengasuhan dan pendidikan anak-anak yang notabene diamanahkan untuk kita berdua, bukan salah satunya, bukan dimanahkan pada ibu saja, bukan pula pada ayah saja. Kali ini fokus pada stigma yang umum terlihat di masyarakat, dimana pengasuhan dan pendidikan anak-anak adalah tugas ibu. Apalagi populernya gaung ‘ibu adalah madrasah pertama bagi anak’, diikuti dengan kalimat ‘tugas utama ayah adalah mencari nafkah’, yang pada akhirnya semakin mengikis peran ayah dalam pendidikan sehari-hari di rumah.
Sebenarnya ini hanyalah sekedar pengantar resume dari pertemuan Majelis Lukmanul Hakim yang digagas oleh komunitas Home Education Aceh pagi tadi 21 Januari 2017 di aula 3 in 1 Coffee, Lampineung. Lalu siapa saya ya, peserta atau anggota komunitas? Hehe… bukan. Saya hanyalah seorang istri yang sedang sumringah, berbunga-bunga dan bahagia karena ‘Partner Segala Hal’ saya dengan semangat yang cukup stabil (saya kurang suka yang menggebu-gebu, jadi kurang seimbang dan terlihat labil) sejak bulan lalu sudah berniat ikut andil dalam pertemuan pertama Majelis Lukmanul Hakim ini yang kemudian sampai hari H, beliau tetap dengan semangat yang sama turut hadir di pertemuan perdana.
Awalnya saya menceritakan buku Ustad Aad (Adriano Rusfi) yang belum saya miliki satu pun (kasihan saya) dan menceritakan pemaparan beliau mengenai pendidikan anak. “Saya melihat/membaca dalam alquran mengenai pendidikan anak. Kemudian saya menemukan satu nama Lukmanul Hakim, dimana nama tersebut pun menjadi salah satu nama surat dalam alquran. Kemudian saya juga menemukan nama Ali Imraan. Membaca lagi bagaimana kisah Ibrahim yang membekali pendidikan Ismail dan masih ada yang lain di dalam alquran. Setelah saya telaah dan teliti lagi, kesemuanya itu jenis kelaminnya laki-laki. Semuanya adalah seorang Ayah. Jadi saya mengambil kesimpulan bahwa pendidikan anak-anak adalah tanggung jawab seorang Ayah, bukan ibunya. Ibu bertanggung jawab atas pengasuhan anak.”
Tring! Di atas itu adalah intro saya saat pillow talk pada hari saya mengikuti seminar parenting Fitrah Based Education. Saya lanjut memaparkan beberapa hal yang saat itu amat lekat diingatan, karena ada hal-hal yang barangkali lebih detail terlewat oleh saya, sebab sesuatu terjadi saat berlangsungnya seminar yang mengharuskan saya keluar sekitar 40 menit (mungkin lebih) karena mendapat kabar yang mengejutkan, sepupu saya yang sedang dirawat di RS meninggal. Saat kembali ke ruangan fokus saya mulai terpecah dan catatan yang saya buat di note telepon selular tidak tuntas.
Seperti biasa, Eun Yud cukup antusias. Sebagaimana ia selalu memfasilitasi keinginan saya untuk belajar dan turut serta berikhtiar menimba ilmu serta berdoa dalam-dalam agar Allah kerap membimbing kami dalam mendidik dan mengasuh anak-anak. Kita sudah berikrar sejak awal menikah untuk menjadi pribadi pembelajar, bersinergi sepanjang usia, dan berniat bahwa ini upaya kami agar kelak bisa bertemu lagi di Surga-Nya. Karena dalam diskusi panjang kami setiap ada kesempatan, kami sadar apalah kami, bukan seorang alim ulama, bukan pula seorang ahli ibadah. Apa modal kami untuk memiliki anak yang saleh dan saleha? Tentu hanya satu, ikhtiar. Nah, itulah yang kami kerjakan selagi nafas dikandung badan.
Lalu dari sanalah diskusi kami malam ini bermula. Dengan beberapa lembar catatan yang dibawa pulang oleh si ayah. Bunda yang pelupa ini tentu harus mencatat kembali demi mengekalkan ilmu yang bermanfaat tadi. Kami memang sedang berkompetisi siapa yang paling punya kontribusi di dalam keluarga inti dan selanjutnya saling mengapresiasi.
Oh well, ini pengantar yang cukup panjang untuk beberapa poin yang sempat dicatat Sang Kapten kami di Majelis Lukmanul Hakim tadi, semoga bermanfaat terutama untuk kami yang fakir ilmu ini.

Intro
Poin pertama yang disampaikan tentu saja penegasan bahwa Ayah adalah seorang pemimpin, harus memiliki visi dan misi. Seorang Ayah cenderung menggunakan kekuatan finansial untuk mendekatkan dirinya pada anak-anak. Ayah adalah penanggung jawab keluarga yang kemudian akan mentransfer sisi maskulinnya pada anak. Ayah memiliki ego kuat yang mempengaruhi.
Seorang anak selain kuat sosialisasinya, perlu juga dikuatkan individualisasinya, di sinilah pentingnya peran ayah. Ibu biasanya mengajarkan mengenai sosialisasi dan anak yang tidak kuat individualisasinya akan mudah terombang ambing pergaulan, selagi lingkungannya mendukung kebaikan maka ia akan baik dan ketika terpapar pergaulan buruk, ia kan mudah terikut.

Pandangan Islam Tentang Peran Ayah

  • Dalam Alquran ada surat Annisa, tidak ada surat Arrijal, tetapi dalam surat Annisa dikatakan bahwa lelaki adalah pemimpin kaum perempuan.
  • Tugas utama laki-laki adalah menjadi pemimpin. Mencari nafkah adalah penopang kepemimpinan.
  • Setiap turun ayat mengenai perempuan dan anak, maka Rasulullaah mengajarkannya kepada laki-laki.
  • Doa anak akan didapatkan oleh ayahnya jika ayah tersebut mendidik anaknya di waktu kecil. Hal ini sesuai dengan apa yang dilafadzkan dalam doa “Rabbighfirlii waliwalidayya warhamhuma kamaa rabbayaani shaghiraa” sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku di waktu aku kecil. Nah, bagaimana kita menyayangi anak kita di waktu kecil?
  • Tugas ayah adalah mendidik anak dan ibu tugasnya mengasuh anak. Melahirkan, menyusui, dan lain-lainnya sudah sangat menguras energi ibu, jika pengasuhan dan pendidikan semuanya dilimpahkan kepada ibu, akhirnya ibu yang kelelahan serta disergap emosi negatif yang memberikan pendidikan untuk anak-anaknya.

Ketika Ayah Lepas Tangan

  • Lahirlah generasi remaja
  • Anak kehilangan ketegasan, tidak berani tampil beda
  • Ibu repot sendiri, frustasi, mudah emosi bahkan bisa jadi depresi.
  • Anak tujuh kali lebih rentan terhadap penyalahgunaan Narkoba.
  • Kurang rasional, tidak mampu memecahkan masalah dan mengambil keputusan.
  • Ayah tidak mendapatkan doa anak.

Percepatan baligh bisa ditekan dengan masalah, ayah perlu memberikan masalah. Dengan memberikan masalah, maka anak akan berpikir bagaimana cara menyelesaikan masalah, tentu saja ayah hanya membimbing tidak mengintervensi setiap tindakan yang dilakukan anak.

Jika Ayah Sibuk

  • Evaluasi kembali sebenarnya kita mencari nafkah untuk apa dan siapa?
  • Jadilah pekerja yang cerdas
  • Jika fisik tak sempat, minimal hati, empati dan perhatian.
  • Gunakan segala sarana komunikasi yang ada.
  • Menangani anak sangat berguna untuk pekerjaan
  • Kenapa kita tidak libatkan saja anak?
  • Jika terpaksa, delegasikan ke ibu.
  • Memberikan permasalahan kepada anak.
    Anak 7 tahun ke atas sudah boleh dberikan permasalahan
    Anak terlebih dahulu sudah dibekali solusi
    Jangan merasa takut membagi permasalahan dengan anak.
  • Jangan lupa tetap memahami dunia anak yang penuh dengan keceriaan
  • Pada dasarnya anak-anak suka dengan permasalahan dan misteri
  • Model pendidikan jangan terlalu mengalah pada zaman dan jangan terlalu mengalah dengan waktu.
  • Pentingnya mematangkan anak.
  • Mastermind dalam sebuah musyawarah diperlukan. (Penjelasannya cukup njlimet ini, intinya keputusan dalam musyawarah harus diayahfikasi terlebih dahulu). Sebuah seni mengarahkan.

Tips Bagi Ayah yang Sibuk

  • Delegasikan kewenangan
  • Keep in touch
  • Konsekuensi learning (Arrum 41)
  • Sebahagian nafkah ke istri (Annisa 34)
    Kesempurnaan terjadi jika ada titik keseimbangan terbentuk. Titik keseimbangan inilah yang harus dicapai.

 

Peran Ayah

  • Man of vission and mission
  • Penanggung jawab keluarga
  • Konsultan pendidikan
  • Sang ego dan individualitas
  • Pembangun sistem berpikir
  • Penegak profesionalisme
  • Supplier maskulinitas
  • ‘The King of Tega’

Pencapaian itu sangat penting, jadi harus ada goal getting dan goal setting bukan sekedar problem solving. Harus ada langkah-langkah menuju tujuan.

Demikian resume pertemuan Para Ayah Hebat pagi tadi. Walau secara pemaparan langsungnya akan sangat menarik, apalagi berkumpulnya para Ayah lengkap dengan cangkir-cangkir kopinya, tadi saat sharing materi ini ke saya terlihat ada binar optimisme dan kebahagiaan di mata Eun Yud. Tentu adanya aura semacam ini karena baru saja mengisi penuh baterai saat berkumpul tadi.  Ada sekitar 50 ayah luar biasa yang berpartisipasi.

Tentu ini amat besar manfaatnya untuk negeri yang pernah terdengar oleh kita kemarin bahwa Indonesia termasuk Fatherless Country karena adanya peningkatan kenakalan remaja, kita dikatakan negeri tak berayah, juga merujuk pada banyaknya single parent wanita. Anak-anak besar tanpa sosok ayah.

Seminar-seminar parenting yang pernah saya datangi menunjukkan fenomena ini masih bertahan, dimana biasanya ayah atau kaum lelaki yang datang hanya segelintir saja, kalau sudah membicarakan pengasuhan dan pendidikan anak, kaum perempuan yang merasa wajib untuk hadir.
Majelis Lukmanul Hakim ini sangat direkomendasikan untuk para ayah ataupun calon ayah. Termasuk untuk para paman yang menjadi wali para ponakannya ketika mereka membutuhkan figur seorang ayah, misalkan ayah mereka menghadap Allah lebih cepat.

 

Akan ada sensasi yang berbeda saat para ayah yang memiliki misi sama, yaitu untuk memulai penguatan dari rumah, duduk semeja. Langkah seperti ini sudah harus dimulai dan gaungnya harus terus ditingkatkan. Hal sekecil apapun itu akan bisa menyelamatkan generasi kita. Bagi saya ini adalah kegiatan yang terlihat kecil tapi berdampak besar seperti yang pernah disebutkan oleh Pak Abdul Mu’ti, jangan pernah remehkan kaderisasi keluarga. Jika keluarga hancur, kehancuran negara tinggal menunggu waktu saja. Ini merupakan strategi longitudinal, yakni mendidik anak-anak sekarang, dimana ke depannya mereka-mereka inilah yang akan menjadi orangtua.

Semoga dimudahkan-Nya. Aamiin ya, Rabb.

 

Waktunya menerapkan apa yang sudah didiskusikan tadi. Semoga para ayah di Majelis Lukmanul Hakim tetap terjaga semangatnya.

Sebab Kita Sedang Berjuang

Kita Sedang Berjuang

Sebab kita, Nak… sedang berjuang. Tidaklah sama kondisi kita dengan yang lain. Barangkali ada sedikit kesal kenapa Ayah dan Bunda turut menarik kalian ke dalam pusaran perjuangan, tapi yakinlah anak-anakku, kita akan memanen apa yang telah kita semai. Tidak ada perjuangan yang sia-sia. Tidak pula sama nilainya di mata Yang Maha Kuasa yang berpeluh dan tanpa berjuang mengejar nikmat dan hidayah-Nya. Maka simpanlah seonggok kesal dan uraikanlah dengan segala prasangka baik pada-Nya.

Sebab, Nak, kita ini sedang berjuang. Perpanjanglah sumbu sabar. Ini bukan sebuah lelah tak berujung.

  • Lamteungoh, di tengah kedahsyatan rasa itu. Di tengah perjuangan bak gelontor gemuruh panjang menghantam.