my world

Bernostalgia Sejenak dengan Aroma Kertas

Suasana kampung halaman mengingatkan banyak hal, salah satunya kebiasaanku dulu tenggelam dalam bacaan-bacaan fiksi berbau misteri. Aku tidak ingat persis kapan aku menyukai genre bacaan semacam ini, karena hingga hari ini genre fiksi kriminal belum mampu mewarnai tulisan-tulisanku. Untuk menghasilkan suspence yang baik dalam cerita roman saja rasanya aku belum mampu. (more…)

Pantai Gosong Telaga, Riwayatmu Kini

Aku sempat mengabadikan di sebuah foto setahun silam di mana bibir pantai Gosong Telaga dihiasi segala jenis sampah berserakan. Tahun ini masih belum ada perubahan, pun kesadaran para pengunjung atau pengelola tempat wisata di Aceh Singkil tersebut. Aku tak tahu ada pihak pengelola atau tidak, tapi setahuku setiap akan memasuki gerbang pantai, ada yang memberikan karcis,  menagih biaya masuk dan parkir untuk satu sepeda motor,  kami dikenakan total biaya Rp.5000. Setelah kami memarkirkan sepeda motor, saat akan pulang juga masih ditarik biaya parkir oleh orang lain lagi dengan tarif Rp.2000. Mantap! (more…)

Perjalanan Mencoba Steempress

Setelah empat tahun menggunakan platform WordPress dan pada tahun kedua mencoba upgrade self-hosting dengan platform yang sama, akhirnya aku kembali bersemangat mengurus rumah maya ini setelah sebelumnya kugunakan hanya untuk menyetor tugas-tugas di Institut Ibu Profesional (IIP) Batch #3. (more…)

Menganalisa Kegagalan (Aliran Rasa Game Ke-8)

Aliran Rasa Game Ke-8

Di kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional Batch#3, aku dan teman-teman pernah berdiskusi, bagaimana supaya Aliran Rasa itu isinya bukan melulu ‘curhat manja’ apalagi bagian ngeles-ngeles kenapa gagal lagi-gagal lagi di game kali ini. Alasan jaringan lah, urusan domestik yang tiada habisnya lah, belum lagi bicara urusan publik dan benturan deadline di tempat lain bagi yang bekerja freelance sepertiku. (more…)

Mencari Permata di Binar Mata (Hari X)

Hari 10

Tugas pengamatan hari ini kudelegasikan ke Ayah anak-anak, karena aku harus berangkat ke Tibang untuk menghadiri sesi pelatihan editing bersama guru menulisku. Ayahnya bercerita bahwa Akib duduk tenang dan sabar. Ia dibolehkan kembali membuka laptop dan menonton tutorial.

Ayah mengawasi saja dan melihat kesadaran dirinya akan waktu-waktu tertentu. Misalnya kapan waktu untuk berbenah, membersihkan diri, waktu salat, dan waktu makan. Ia juga mengoles obat salepnya sendiri. Justru saat sakit begini, Akib lebih mau bekerja sama. Ia masih bisa diajak berlogika, bagaimana jika tidak patuh akan anjuran dokter dan Akib terpaksa harus diulang lagi jahitannya. Jadi, latihan kesabaran dimulai dari titik itu.

Bagiku selera musik Akib sangat easy listening. Aku tetap menyampaikan agar ia menggunakan mini speaker  yang dibelikan itu untuk muraja’ah. “Bolehlah sekali-kali Akib dengar musik juga,”  Yah, pada akhirnya kuamatai ia lebih banyak mendengarkan musik di speaker tersebut. Hanya lepas salat Magrib ia muraja’ah sebentar. Dulu saat terapi disleksianya di Putik Meulu Building, Akib sempat diajarkan bermain piano. Lumayan cepat ia mengingat nada dan memainkannya kembali di rumah. Ada keinginan kami untuk mengantarkan atau mencari mentor untuknya, tapi keterbatasan waktu dan biaya membuat kami urung. Kami juga harus memprioritaskan hal lain, seperti keperluan Biyya dan Akib. Memang sayang rasanya, tapi kupikir ini sudah melalui diskusi berlapis dan lama. Pemetaan keuangan keluarga juga menjadi faktor pengambilan keputusan ini.Apalagi Akib sangat membutuhkan latihan-latihan kemandirian, termasuk executive function-nya yang harus kami latih bersama.

Latihan lainnya adalah ketika Akib tahu bahwa ia diberi uang. Ada uangnya disimpan Ayah, atau uang yang disetornya ke Ayah dari teman-teman yang berkunjung. Kami mengizinkan Akib membeli sesuatu yang lama dinginkannya. Sudah ditebak, ia sedang menggilai berbagai jenis mobil. Sering ia minta izin membuka Youtube untuk sekadar melihat-lihat tipe mobil dan spesifikasinya. Barangkali karena dulu ia punya salah seorang teman yang suka sekali bercerita tentang otomotif.

Akib minta dibelikan mobil Lambhorghini, BMW, dan beberapa tipe dan merk ia sebutkan. Jadilah Ayah membelikan miniaturnya di sebuah toko mainan.

Mungkin salah satu hal baru yang bisa kami dalami juga. Misal hobi Akib mengamati mesin-mesin, apakah ia juga mulai menyukai otomotif? Karena kami pun melihat permata di binar matanya.

Mencari Permata dalam Binar Mata (Hari IX)

Hari ke-9 Tantangan Game Level 7

Semua Anak Adalah Bintang

Hari 9

Tanggal 1 Juni 2018 menjadi hari bersejarah buat Akib. Ia melaksanakan khitan di Klinik Meurasi Lambaro. Sebenarnya aku ingin menuliskan satu catatan mengenai hari ini, tapi ada baiknya sebelum itu, aku menyelesaikan tugas Game Level 7 ini terlebih dahulu.

Apa yang aku amati hari ini bukanlah Akib yang telah baligh, tapi lebih kepada ketangguhan Biyya mengawal sang Abang selama ia dalam keadaan tidak sehat dan tak mampu beraktivitas seperti biasanya.

Biyya sangat protektif, bertanya bagaimana rasanya. Aku memperisapkan obat yang sudah diberikan dokter, Biyya pun memerhatikan. Ia sangat antusias dengan apa yang aku kerjakan dan proses merawat Akib pasca khitan ini diamati Biyya dengan saksama.

Beberapa jam berikutnya tugasku sudah digantikan olehnya. Ia meletakkan susu segar kesukaan abangnya. Mengambilkan gelas, menuangkan denga telaten dan memberikannya ke Akib. Sore hari juga saat aku mempersiapkan bukaan di rumah, Biyya dengan cekatan mengambil sepiring nasi dan mengutamakan Akib untuk makan lebih dulu. Beres sampai sedetail-detailnya.

“Abang mau telur dadar?” Tanya Biyya yang dijawab dengan iya oleh Akib. Biyya segera ke dapur dan memintaku menyambikan satu biji telur dadar buat abangnya. Biyya yang menyanduk nasi, menyiapkan air putih dalam gelas abu-abu Akib.

Akib tentu mendapat banyak ‘salam tempel’ dari Uci, Uncu, Ummi, dan Mama, ia tidak lupa membaginya dengan Biyya. Biyya jadi ketiban rejeki juga dan langsung membeli Squasy yang sudah lama diinginkannya. Biasanya aku tidak serta merta meluluskan keinginan anak-anak. Aku ajarkan mereka menunda keinginan, membedakan keinginan dan kebutuhan.

Bagiku Biyya sejak 5 tahun, ketika duduk di TK, adalah asisten yang paling ‘connect’ dan ‘valuable’. Ia sangat membantu hari-hari kami. Ia sudah paham kapan membeli keinginannya dan tahu membedakan kebutuhan dan keinginan. Ia berjuang sendiri untuk hal-hal yang tidak penting tapi sangat diinginkannya. Tercatat juga dulu ia membeli sepedanya seharga Rp1.200.000 dari hasil tabungannya sendiri dan hanya dibantu Ayah Rp.200.000.