Kuliah Bundsay IIP,  my world,  Parenting

Cerdas Finansial Sejak Dini (Tantangan Hari Ke-2)

Ah, kenapa diriku tak jera juga menunda-nunda pekerjaan yang mestinya dituntaskan hari ini? Barangkali karena berpikir tenggat waktu masih beberapa hari lagi, selama ini semua baik-baik saja dan selesai di saat-saat genting atau injury time, mungkin juga karena jurus ‘the power of kepepet’ seringkali mumpuni dan mampu menyelamatkanku dari ‘kehancuran’.

Baiklah. Seharusnya aku sudah mulai presentasi di Forum Keluarga mengenai materi Cerdas Finansial, tapi beberapa hari ini persiapan acara keluarga dan penyambutan tamu membuatku enggan berlelah-lelah sebentar menunda kantuk dan membuat laporan harian. Padahal tugas yang tidak dikerjakan tepat waktu bisa saja akan beranak-pinak dan menyeret-nyeret kaki yang dirantai beban tugas jauh lebih berat ketimbang menahan kantuk dan menyelesaikannya barang sejenak.

Sesudah hari kami mengobrol tentang rencana membuat rancangan keuangan tempo hari di sini, aku belum sempat menindaklanjuti secara detail karena saat magrib beberapa hari ini kami selalu sedang di luar rumah.

Sebenarnya senang sekali bertemu keluarga besar yang setahun sekali belum tentu bisa berkumpul. Hari ini kami tiba di rumah pukul sebelas malam lewat, padahal aku tidak ikut nyanger, ngarabica, atau ngepresso, bahkan ngelatte pun tidak! Namun kantuk tidak juga singgah. Kali ini aku patut bersyukur.

“Nah, bagaimana ini? Kita nggak juga sempat bicara detail sama Biyya dan Akib mengenai rencana keuangan dan cara mengelola mini budget?” tanyaku membuka pembicaraan.

“Gini aja, dulu kan memang sudah pernah kita ajarkan memberikan jajan per bulan, lalu per minggu, setiap pengeluaran dicatat di buku kecil. Nah, tinggal ingatkan lagi sama anak-anak kalau mulai tahun ajaran ini, mulai bulan Juli kita kembali memulainya lagi.”

Baik. Malamnya saat mengobrol sambil berberes rumah—ini tidak efektif, percayalah! Sebaiknya tidak ditiru—aku sampaikan seperti saran suamiku di atas. Apa boleh buat, waktu di rumah amat sempit. Kalau langsung duduk dan fokus mengobrol berarti aku harus membiarkan semua kesemrawutan rumah terus berlangsung.

Anak-anak setuju saja saat aku menyampaikan itu. Entah karena tidak menyimak dengan saksama atau memang masih berpikir asyik saja bisa pegang uang lebih banyak. Biarin saja belakangan tinggal sisa atau bahkan tidak bersisa, terpenting ada jajan. Begitu pikiran Akib dulu. Pertengahan bulan atau akhir, terkadang dia mulai ngeles dan misuh-misuh kalau jajannya sudah ludes. Hayoo, siapa suruh tidak ikut aturan cara mengelolanya.

link dan flyer yang dibagikan teman-teman IIP batch#3

Tahap ini kita bakalan struggling sekali dan kalau tak kuat rasanya akan menyerah di tengah jalan. Kami sudah pernah menjalaninya dan… yah, ini dia, terhenti di tengah jalan. Kami baru akan mencoba lagi kali ini.

Apalagi kalau mengingat Teh Patra dan keluarganya yang sudah konsisten menerapkan disiplin finansial kepada seluruh anggota keluarga dan ternyata menurut pengakuan beliau hanya berat di awal dan pada akhirnya menuai kemudahan yang luar biasa membantu.

Bayangkan, di keluarga mereka tidak ada istilah uang jajan. “Ibu dan Bapak, pernah nggak anak-anak sakit karena nggak jajan? Yang sakit karena kebanyakan jajan makanan di luar itu banyak. Ya, kan?”

Eeh, benar banget, kan ya?

Jadi, prinsip di keluarganya, anak yang sudah balig tidak lagi menjadi tanggungan keluarga. Kalau pun diberi itu berarti sedekah orang tua untukknya. Kalau ingin berbelanja keinginan—bukan kebutuhan—harus mau bekerja ekstra, berusaha membelinya dengan keringat sendiri.

“Mah, ini mobil mau dicuci di door smeer, ya?”

“Iya.”

“Kalau di aku aja, boleh? Pokoknya tarif cucinya jauh lebih miring, deh, dibanding sana.” Kata salah seorang anak beliau yang sedang ingin membeli sesuatu atau kita katakan lah sedang butuh uang.

“Beneran bersih, nggak?”

“Iya, Mah. Pokoknya puas deh. Full service!”

Lalu hal lainnya, anak-anak bisa bersedekah dengan uang sendiri. Berkurban di hari raya idul adha dari keringat sendiri. Menabung biaya haji dan umrah sejak dini. Bayangkan manfaat yang didapat jika cerdas mengelola keuangan ini kita tanamkan sejak dini.

Kalau kami yang telat ini, kata Teh Patra, memang tak perlu langsung menerapkan begitu balig langsung mencari nafkah sendiri. Mulailah berproses dan konsisten. Apalagi menanamkan bahwa rejeki itu adalah dari Allah, ingin apa pun mintalah pada Sang Maha Pemberi Rejeki.

Mendidik anak cerdas mengelola uang juga rentan sekali rasanya dengan anak yang matrealistis dan pelit bersedekah. Soalnya nanti dia kan jadi tahu bagaimana susahnya mencari uang, betapa lelahnya menabung dan menunggu, sementara anak lain di kiri kanannya tanpa meminta susah payah dan bagaikan sim salabim abrakadabra sudah memiliki sepatu roda, tas bagus, mainan yang diinginkan, walau kadang ada yang mendapatkannya setelah merengek dan menangis pada orang tuanya.

Giliran saya ingin, kok sesulit ini? Batinnya nanti. Kekhawatiran nanti dia malah backstreet karena orang tua pelit, dan lain-lain. Di situlah letak seni mendidik cerdas finansial dengan keterbukaan dan saling pengertian. Memahamkan bahwa rejeki itu pasti, kemuliaan lah yang dicari.

Maju mundur dalam hal itu membuat rencana ini tak juga tuntas. Padahal banyak keluarga yang mulai sadar sejak awal mengenai ini dan merasakan manfaat yang tiada terkira. Sekarang bundanya tidak lagi repot mengelola keuangan. Manajer keuangan keluarganya malah anak yang  masih duduk di bangku SMA, karena dia lebih mumpuni dan teliti. Uang bulanan ia yang pegang, laporan pengeluaran keluarga semua disetor ke dia. Bahkan ibunya juga tak luput dari audit.

“Mah, ini uang  Rp15.000 ke mana? Kok nggak ada catatannya di laporan ini?”

“Ooh, iya. Maaf Mamah lupa, waktu itu belanja deterjen di kedai sebelah dan nggak ada struknya. Jadi lupa catat, deh.”

Hahaha…

Ribet? Ya, kalau mikirnya ribet. Nikmat dan teratur itu yang lebih benar lagi. Apalagi bisa nabung membeli sesuatu yang sekian lama kita inginkan di luar kebutuhan kita. Bisa berhaji dan berinvestasi sejak dini.

Allah tidak akan memberikan beban kepada hamba-Nya di luar kemapuan hamba tersebut. Lalu ketika kemampuan kita hanya mampu mengelola uang Rp.100.000, bisa saja sampai di situ saja Allah memberikan kita rejeki, kan? Namun ketika milyaran ada di tangan dan kita cerdas mengelolanya, insyaallah ditambahkan pula lagi dan lagi.

Eeh, lalu kita kapan nih?

“Jangan yang ribet dulu. Untuk dua bulan ini catat seluruh pengeluaran hingga sedetail-detailnya dan secara berkala kita evaluasi, mana yang bisa menjadi pengeluaran tetap dan mana yang tidak kita butuhkan. Jangan lupa libatkan anak-anak juga. Lalu untuk jajan anak-anak akan diberikan per bulan dan bantu mereka membuat kas kecil atau mini budget.  Latih-percayakan-jalani-supervisi-latih lagi-.”

Ooh, begitu! Thank you, my beloved Eun Yud. Pastilah suamiku capek mencari nafkah, menjadi bendahara keluarga pula lagi. Sudah waktunya kami, aku dan anak-anak, meringankan pekerjaannya.

#Tantangan10Hari

#Level8

#KuliahBunsayIIP

#RejekiItuPastiKemuliaanYangDicari

#CerdasFinansial

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *