cerita ceriti,  Parenting,  Resensi

Charlie and the Chocolate Factory dan Kekonyolan Masa Kecilku

Entah karena aku membacakan bab awal buku ini dengan sangat antusias atau karena memang buku Roald Dahl kali ini memiliki daya pikat tersendiri, sehingga Faza menanti-nanti momen “Bunda Baca Buku” yang biasanya aku lakukan ketika pekerjaan (baik di rumah atau di luar) sudah selesai. Belum lagi dihitung waktu makan, mandi, membereskan rumah dan pakaian yang membuat Faza harus ekstra sabar menanti. Apa pun itu, desakan dibacakan buku membuatku harus meluangkan waktu spesial untuk membacakan buku bagi Faza (dan juga Kareem sekaligus), bahkan ketika dateline pekerjaan sudah di depan mata atau yang sering terjadi, mata tak bisa lagi diajak kompromi.

Di bab awal ketika narator masih mengenalkan satu per satu tokoh dalam novel ini, kami sudah begitu terpikat gaya satire Roald Dahl. Walau dipadukan dengan terjemahan burukku, hal itu sama sekali tidak memudarkan daya tarik novel ini bagi Faza. Reaksinya persis seperti yang aku bayangkan: tertawa sekaligus iba, sedih tapi lucu … begitulah.

Detail kondisi keluarga Bucket; dua pasang lansia (Kakek Joe dan Nenek Josephine, Kakek George dan Nenek Georgina); pekerjaan ayah Charlie (Mr. Bucket) hingga “nestapa” Charlie setiap kali melewati toko penjual cokelat yang berada di pinggir jalanan yang kerap dilaluinya ketika pergi dan pulang ke sekolah.

Saat Dahl mendeskripsikan perasaan dan perilaku Charlie yang mencelang setiap kali melewati toko dan melihat anak lain bolak-balik ke toko cokelat tersebut, Faza cekikikan menahan tawanya yang akan pecah, bahkan perlakuan Charlie terhadap cokelat mungil hadiah ulang tahunnya juga sontak membuat Faza tertawa-tawa. Namun, ya, itu tadi … sedihnya alang kepalang.

Aku yang membacakan buku sampai tak tega dan ikut berairmata. Berkali-kali Kareem mengelus pipiku kemudian memeluk dan menenangkanku–semacam elusan cupcup, sudah jangan bersedih ya, Bunda–apalagi saat itu mungkin inner child-ku hadir.

Sebenarnya saat aku mulai tumbuh, perekonomian keluarga sudah mapan, bahkan bisa dikatakan sangat stabil, tapi seringkali saat ada kumpul keluarga, Umak dan Abak bercerita bagaimana uda-uda dan kakak-kakakku turut berjuang menopang kestabilan perekonomian keluarga. Sambil berseloroh, saling menimpali, uda-uda dan kakak-kakak bercerita bagaimana menjajakan es lilin, gorengan, dan tanpa bermaksud apa pun, sebenarnya hal semacam itu ternyata tertinggal di hatiku.

Kalau kata orang, “Halah, jangan dimasukkan ke hati”, tapi pada kenyataannya, semua jadi terngiang kembali.

Kekonyolan masa kecilku yang relate dengan ‘cokelat’-nya Charlie adalah buku-buku. Dulu rasanya ingin membeli banyak buku, terutama buku yang seri yang awalnya sudah kubaca, tapi apa daya, aku harus sabar mengantre serial komik kesayangan sampai giliranku tiba, itu pun kalau pemiliknya tidak berubah mood, kalau dia tetiba sedang tidak pas padaku, jangan harap. Kubur saja keinginanmu untuk membaca jilid ke sekian dari serial itu, kata hati kecilku menguatkan.

Sepertinya setiap anak punya ‘cokelat’-nya sendiri. Setiap anak sepertinya merasakan perasaan seperti Charlie yang disebut oleh Dahl dalam buku itu “pure torture” . Hari-hari sebelum dia mendapatkan golden ticket dari Mr. Willy Wonka.

Walau buku ini kubacakan untuk Faza, melihat antusiasmenya, aku berniat akan mencarikan terjemahan bahasa Indonesia untuk dia baca sendiri. Setelah kubacakan satu bab awal, dia mengaku ingin membacanya sendiri. Terkadang melihat aku membaca sendiri membuat dia bersungut-sungut sambil bertanya kenapa Bunda tidak membacakan untuknya juga.

Dalam hal ini kami bersyukur tentunya, misi kami membuatnya bukan sekadar bisa membaca, tetapi juga suka membaca, bisa dikatakan tercapai. Lagipula sayang sekali jika Faza tidak sempat membaca buku-buku bagus (terlepas dari inner child-ku yang terpanggil karena dulu tidak bisa dengan mudah mendapatkan buku-buku bagus).

Masih jelas di ingatanku, saat kelas VI SD, tetanggaku Kak Aida, meminjamiku buku dari perpus sekolah tempat beliau mengajar. Buku bersampul cokelat muda itu masih dalam Ejaan Soewandi dan beberapa bagian halamannya sudah lekang–syukurlah masih tidak hilang –buku itu berjudul “Petualangan Tom Sawyer” ditulis oleh Mark Twain.

Setiap orang pasti suka membaca, hanya saja dia belum menemukan buku yang tepat. Mari temukan, baca, dan selamat jatuh cinta! Ini memang pernyataan Najwa Shihab yang cukup relate dengan kondisiku saat itu. Mulanya aku hanya menyukai Johan dan Pirloit, Smurf, Pak Janggut, Doraemon, dan beberapa judul manga saja. Bagiku dulu, selain komik, apa enaknya membaca huruf-huruf.

Ternyata membaca buku tanpa ilustrasi dan gambar jauh lebih memikat; kau bisa membuat gambar yang lebih ekspresif, jauh lebih imajinatif dan variatif melalui rangkaian abjad. Kau bisa membuatnya berkali-kali di kepalamu. Membaca memang mengagumkan!

#RabuMenulis #FLPTakengon

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya: Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Bisa dihubungi melalui surel medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published.