Fiksi,  my world,  Resensi

Dari Kalkuta ke Amerika

Resensi The Lowland (Tanah Cekung) by: Jhumpa Lahiri

Dalam masa-masa pemulihan dari demam disertai ngilu tulang yang menyakitkan, aku menyelesaikan buku pertama di bulan Maret, novel setebal hampir 600 halaman berjudul The Lowland yang dalam versi bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi Tanah Cekung. The Man Booker Prize 2013 Nominee, Pemenang DSC Prize for South Asian Literature 2015 adalah dua penghargaan bergengsi yang disematkan untuk novel yang ditulis Jhumpa Lahiri ini.

Narasi-narasi yang disajikan dalam novel ini memang sekelas maestro. Segala unsur seperti seting tempat dan waktu bukan sekadar tempelan. Penokohan yang kuat, hampir membuat cerita ini tampak tidak memiliki kekurangan, hanya saja aku cukup terganggu dengan saltik yang bertebaran selama membaca. Padahal di halaman prelim, aku membaca ada penata aksara dan penyelaras akhir, tetapi penerjemah dan penyuntingnya hanya satu, memang sulit mengerjakan dua hal sekaligus. Namun, novel ini masih tetap tampil memikat dengan narasi-narasi yang kuat.

Pencinta fiksi sejarah akan sangat terbantu untuk mendapatkan gambaran mengenai India dalam masa pergolakan dan pertarungan ideologi politik. Untuk anak-anak di bawah umur, membaca novel ini perlu ditemani dan diskusi dalam dengan orang tua alias butuh pendamping.

Cerita dimulai dari masa kecil Udayan dan Subhash, dua kakak beradik yang tinggal di Tollygunge, sebuah daerah di pinggiran kota Kalkuta. Adegan-adegan yang ditampilkan Jhumpa Lahiri sangat terpilih dan jahitan alur cukup rapi dengan plot maju mundur.  Dalam kekuatan tenang menghanyutkan, Jhumpa Lahiri membawa pembaca ke tahun 1940-an saat gejolak perpolitikan dunia—tak terkecuali di India—dengan konflik-konflik yang semakin rumit.

Ditambah dengan karakter tokoh yang hadir dan hidup dengan prinsip-prinsip rasional bagi mereka sendiri.  Semangat perlawanan Udayan dalam The Lowland terjalin dengan logika-logika kuat yang disajikan dalam alur yang begitu rapat, jadi agak sulit bagiku mencari di mana letak rumpang alur, walaupun cerita disajikan sedemikian panjang dalam rentang tahun dan perubahan masa beberapa dekade.

Di akhir Maret, aku membaca sebuah berita di koran tentang USK Aceh yang membuka program S2 double degree dan bekerja sama dengan University of Rhode Island Amerika Serikat. Aku tak pernah ke Rhode Island tentu saja, tapi aku bisa membayangkan suasananya di seputaran tahun 1950-an. Kampus oceanografi dan jalan-jalan yang Subhash lalui setiap hari selama studinya di Amerika dan cuaca di Rhode Island yang selalu penuh kejutan. Tipe-tipe rumah dan beberapa jalanan, hewan-hewan khas, beserta bunga-bunga liar yang lazim tumbuh seperti black-eyed Susan dan lili yang ada di seputaran lokasi tersebut. Bagaimana angin laut dan mataharinya. Bahkan adegan-adegan pertemuan juga perpisahan Subhash dengan Holly di musim gugur ketiga di Rhode Island.

Aku seperti mendengar derak kerang yang telah memutih terlindas ban mobil yang mundur perlahan saat Subhash memarkirkan mobilnya di sebelah rumah Holly. Tambak-tambak garam dan bau anyir laut. Hujan tiba-tiba dan kemudian reda lagi. Apa pun itu, intinya aku merasa begitu dekat dengan Rhode Island hanya karena Jumpha Lahiri menunjukkannya padaku dari cara tokoh-tokohnya berjalan, duduk, mengamati dan potongan-potongan dialog subteks paling keren yang pernah kubaca. Mungkin wajar saja Jhumpa Lahiri mengatakan: Begitulah rupa buku. Mereka membuat kamu bepergian tanpa menggerakkan kakimu. Dalam hal ini, Lahiri benar-benar membuktikan dengan detail yang dia berikan.

Aku merasa iri dan begitu tak berdaya saat mendapati alur panjang dan kemelut-kemelut emosi yang disajikan dalam konflik-konflik adik-kakak, anak-ibu, suami-istri di tengah negara yang karut-marut. Bagaimana Lahiri begitu mudah merangkainya seperti satu tarikan napas saja. Tak heran komentar dewan juri DSC Prize 2015 mengatakan novel ini ditulis dengan indah sebagai prosa yang tenang, dengan momen-momen liris, dia juga mengatakan bahwa novel ini ditulis pada puncak kekuatan.

Hadirnya cerita ini bukan sekadar memberikan hiburan, tetapi juga pengetahuan mengenai gejolak politik yang terjadi di India sekitar tahun 1950-1970-an, sebuah kemelut yang menjadi begitu mudah dipahami dengan faktor-faktor kausalitas yang jelas. Apa yang menjadi pemicu gencarnya gerakan-gerakan bawah tanah yang membuat wajah India berubah drastis. Hal-hal yang ternyata ketika itu, bagaimanapun sulit dan hancurnya, tetap saja tidak mampu didengar oleh dunia melalui surat-surat kabar ataupun radio. Seperti sebuah dimensi ruang waktu yang berbeda antara India dan Amerika atau bahkan belahan-belahan dunia lainnya.

Sisi humanis dan idealis yang dibenturkan oleh keadaan dan situasi yang rumit, saat Jhumpa Lahiri memaparkan dengan detail membuat pembaca bisa memahami tanpa didikte. Bagaimana pelajaran-pelajaran yang bisa diambil pembaca dari sejarah yang pahit, tentang hubungan keluarga, empati serta rasa iba, hasrat, dan cinta. Cerita yang bisa dikatakan diakhiri dengan tenang dan bahagia walau sepenuhnya begitu terasa suram. Beragam emosi meluap dalam beberapa hari mencoba mengikuti kisah dalam The Lowland. Pengetahuan tentang politik, sejarah, sosiologi, lingkungan, filsafat, dan sains yang dimiliki Lahiri seperti menegaskan kembali bahwa ilmu itu saling beririsan satu sama lain.

Novel ini cukup tebal tetapi plotnya tidak kecolongan, atau bagi sebagian orang menjadi agak tebal, tetapi ada semacam penyesalan kenapa harus selesai di hari kelima. Ada semacam kekhawatiran setelah ini aku belum bisa menemukan kisah yang seasyik ini.[]

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya: Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Bisa dihubungi melalui surel medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published.