my world

Darussalam

Entah apa yang membedakan yang saat ini dan dulu, Darussalam bisa dikatakan banyak berubah atau tak berubah sama sekali. Bedanya saat ini, aku yang tak membangun peradaban di tempat ini terasa sangat asing, padahal jalanan, suasana, bangunan, hanya berubah sedikit saja dengan polesan baru di sana sini. Suasana hectic dan lelah tapi penuh antusiasme hadir pada tiap langkah. Aku merasa de javu saat memperhatikan langkah sendiri dan orang-orang yang melintasiku. Celana jins dan kemeja kotak-kotak dengan postur seperti yang kukenali, lengkap dengan ransel dan sepatu kets. Mirip gaya kebanyakan teman lelakiku saat kuliah dulu, mirip si A, mirip si B, atau si C. Namun, tentu saja itu bukan mereka, karena kini mereka mungkin tak pernah bergaya seperti itu lagi. Belum lagi kebanyakan teman-temanku saat ini berubah bentuk tubuhnya lebih gempal dan sehat. Lebih sukses, kata orang.

Aku menapaki jalanan sendiri, pada senyap yang terlihat sebenarnya kepalaku riuh berbicara. Tentang betapa canggung hari berlangsung detik demi detik sendirian. Melewati satu loket, bertanya pada resepsionis, mengisi form, berkata maaf, terima kasih, tolong, dan oh begitu, atau mungkin saja hanya anggukan sopan.

Melihat ponsel pintar sekadar berkomunikasi dengan orang-orang yang dekat di hati atau karena sebuah keperluan. Selesai satu urusan aku harus melangkahkan kaki ke tempat tujuan lain. Kalau merasa sudah tak ada yang harus diselesaikan tentu kukira aku harus rehat, tapi kuajak pikiran berputar ke mana harusnya aku melepas penat. Penat fisik atau bisa saja penat karena sejak tadi kuhanya bungkam. Suara tercekat di kepala bahkan tak bisa lalu dari kerongkongan. Mungkin aku perlu minum, jadi kukeluarkan botol berisi air yang kubawa dari rumah.

Darussalam tak lengang, tapi aku tak punya tempat untuk sekadar mengeluarkan berkatakter-karakter aksara dalam kepala. Jadi aku duduk di kafe lama dan mulai menekan tuts virtual berlama-lama.

Aku mencari tempat rehat biasa. Pemilik kafe menyapaku ramah, seorang perempuan Jepang yang memilih menetap dan menjalankan bisnis kulinernya di Darussalam. “Selamat datang, mau makan apa?” sapanya ramah seperti dulu. Pramusaji berwajah datar berseliweran, aku tak kehilangan selera makanku karena kuterlalu tak peduli, kuhanya ingin Takoyaki. Makanan khas Jepang dengan irisan daging gurita di dalamnya lengkap dengan saos beraroma khas menguar seiring kepulan asap menggeranyam.

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, dan Faza. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *