cerita ceriti,  disleksia,  my little angels,  my world,  Parenting

Deteksi Dini Disleksia (2)

Bulan Oktober merupakan Bulan Sadar Disleksi (Dyslexia Awareness Month). Berikut penjabaran mulai dari asesmen dan arahan kemana sebaiknya kita mencari bantuan. Tulisan-tulisan berikut saya rangkum dari berbagai sumber yang awalnya dibantu kumpulkan oleh dr. Munadia Sp.KFR. Terima kasih sudah membimbing kami selaku orangtua dengan anak yang dihadiahkan Allah keistimewaan: BEING A DYSLEXIC.

Asesmen Yang Tepat pada DISLEKSIA

Usia pra sekolah dan usia dini merupakan waktu yang krusial bagi perkembangan kemampuan belajar dan perkembangan kognitif pada umumnya.

Identifikasi dini adanya hambatan (perkembangan) apapun, termasuk adanya disleksia, adalah hal yang VITAL di rentang usia ini.

Sekalipun cukup sulit untuk menegakkan diagnosis dan mengidentifikasi anak yang masuk dalam risiko disleksia di rentang usia ini, NAMUN HAL TERSEBUT MUTLAK DILAKUKAN, dan anak anak yang menunjukkan sebagian karakteristik perkembangan yang merupakan ciri disleksia, sekalipun sangat ringan, TETAP HARUS DIPERHATIKAN, DAN DITINDAKLANJUTI DENGAN SAKSAMA.

Semakin dini asesmen yang tepat itu dilakukan, akan semakin baik hasilnya, namun asesmen yang tepat ini harus dilakukan oleh PROFESIONAL YANG TEPAT DAN MUMPUNI.

DYSLEXIA AWARENESS MONTH

IDENTIFIKASI DINI DISLEKSIA

Identifikasi dini terdiri dari dua hal penting yaitu :
1. Mengidentifikasi anak yang memiliki kesulitan dalam belajar dan membaca/literasi
2. Memonitor dan mengobservasi anak yang nampak resisten terhadap intervensi yang diberikan sehingga jelas tampak tertinggal dibandingkan teman sebayanya

Hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam proses identifikasi kebutuhan khusus adalah :
1. Komunikasi dan Interaksi
2. Kognitif dan proses belajar
3. Perkembangan emosional dan mental
4. Kebutuhan fisik dan atau profil sensoris lain

Identifikasi dini sangat diperlukan jika karakteristik kesulitan yang nampak merupakan tanda potensial disleksia, yaitu :
• Kesulitan mengenali huruf dan bunyi huruf
• Kekurangtrampilan short term memory dan working memory
• Lambat dalam memroses sesuatu informasi
• Kesulitan dalam mengeksekusi tugas dalam susunan/urutan yang benar
• Kekurangtrampilan kemampuan mengatur barang-barang atau mainan atau alat belajarnya
• Aspek genetik atau adanya riwayat disleksia dalam keluarga
• Ketidaktrampilan koordinasi motorik

Faktor-faktor penting yang merupakan tanda risiko disleksia adalah :

• Ketrampilan auditori dan bahasa

o Anak usia pra sekolah biasanya sudah mampu menyimak cerita/obrolan/dongeng sederhana, dan anak mampu menceritakannya kembali dalam urutan kisah yang tepat.

o Anak disleksia biasanya kesulitan dalam menyimak dan kesulitan dalam menceritakan ulang sesuai dengan urutan yang tepat. Bisa jadi anak bercerita dimulai dari bagian tengah atau bagian akhir dari cerita tersebut.

Rhyming (sajak berima)

o Anak pra sekolah sudah mampu bertukar informasi dengan melontarkan pertanyaan; anak mampu mengenali puisi sederhana yang berima dan menyadari hal-hal lucu jika sesuatu tidak berima seperti yang diharapkan.

o Kegiatan yang bisa menunjukkan kemampuan ini adalah bernyanyi dan menghentakkan kaki sesuai dengan irama atau ketukan lagu, atau sambil bertepuk tangan sesuai dengan irama/ketkan lagu

o Anak disleksia biasanya kesulitan mengikuti irama ketukan lagu, dan tidak sensitif terhadap rima dalam suatu puisi

• Kosa kata

o Anak pra sekolah sedang berkembang kemampuan pemahaman terhadap kosa kata.

o Penelitian melaporkan bahwa kecukupan jumlah dan pemahaman kosa kata di usia pra sekolah merupakan modal utama yang baik bagi kelanjutan proses belajar membaca

o Anak disleksia seringkali menunjukkan kemampuan pemahaman kosa kata yang lebih terbatas dibandingkan usianya

Phonological awareness

o Phonological Awareness (PA) adalah kemampuan individu untuk membedakan unit suara terkecil dari suatu huruf.

o Penelitian melaporkan bahwa gangguan PA di usia pra seolah merupakan faktor utama yang berhubungan dengan kejadian disleksia.

Knight, Day dan Patton-Terry (2009) mengatakan bahwa proses identifikasi di usia dini bukan semata-mata untuk melabel semua kasus yang sulit baca sebagai disleksia, namun perlu disadari bahwa kenyataannya di usia 3 tahun ini, sebagian anak sudah menunjukkan perilaku yang merepresentasikan bahwa kemampuan bahasa lisannya mengalami hambatan perkembangan, kemampuan phonological awareness-nya terganggu, kemampuan koordinasi motoriknya tidak sebaik usianya. Kasus-kasus inilah yang perlu dicermati, karena sebagian dari kasus-kasus tersebut ternyata memang penyandang disleksia, sementara yang lainnya adalah anak-anak yang membutuhkan intervensi tertentu sebelum akhirnya mereka mulai belajar membaca. Intinya, kedua kelompok kasus tersebut memang menunjukkan risiko kesulitan membaca.

Inilah esensi dari identifikasi dini – bukan untuk melabel – namun untuk mengidentifikasi siapa anak yang berisiko memiliki kesulitan dalam literasi.

Disleksia merupakan kondisi dimana seseorang menempuh proses pembelajaran yang berbeda, yang ditandai dengan kesulitan literasi pada individu yang mempunyai tingkat intelegensi rata-rata bahkan di atas rata-rata.

Selain kesulitan di masalah literasi, penyandang disleksia juga mengalami kesulitan dalam hal : kecepatan belajar (processing speed), memori jangka pendek (short term memory), working memory, sikuens, konsep manajemen waktu, koordinasi dan orientasi arah.

Sedangkan isu sosial emosi baru akan muncul setelah anak mulai menyadari adanya kesenjangan antara kemampuan (pra akademik/akademik) nya dengan teman sebayanya. Apalagi jika kesenjangan tersebut semakin signifikan, maka biasanya anak menjadi minder, rendah diri dan self-esteem-nya buruk.

Jika hal ini terjadi, biasanya merupakan petunjuk bahwa kasus tersebut sudah “terlambat” untuk ditangani. Anak sudah terlanjur meyakini dia bodoh karena memang ananda “kaya” dengan pengalaman tidak berhasil.

Hal ini yang harus dihindari!

Jangan menunda intervensi sampai anak terlanjur mengalami kegagalan!

DETEKSI DINI, INTERVENSI DINI!

Jadi, kapan yang disebut “DINI”?

1. Pelupa. Anak pra sekolah biasanya memang masih suka lupa namun penyandang disleksia biasanya pelupa bangeeeeeettttt dan hampir di setiap saat atau setiap waktu.

2. Gangguan keberbahasaan dalam hal mengutarakan maksudnya, termasuk : kesulitan membedakan unit bunyi terkecil dari suatu huruf (phonological awareness), misalnya “taman” untuk “tanam” ; penggunaan istilah yang tidak tepat untuk mengungkapkan sesuatu, kesulitan bercerita secara sikuens, kesulitan memahami konsep “lebih banyak dari”, “lebih sedikit dari”, “persamaats “perbedaan”, “sebelum”, “sesudah”, penggunaan istilah yang terbalik misalnya “atas” untuk “bawah”; “maju” untuk “mundur”, dsb.

3. Menuliskan huruf dan atau lambang bilangan terbalik. Gejala ini seringkali digeneralisasi sebagai pertanda khas dan pertanda tunggal Disleksia. Padahal tidaklah seperti itu.
Anak usia prasekolah sangat wajar jika menuliskan huruf dan lambang bilangan dengan terbalik arah di awal masa pembelajarannya. Namun anak disleksia biasanya melakukan hal ini lebih konsisten lagi dan cenderung lebih sulit dikoreksi.
Sebaliknya, bisa saja anak tersebut disleksia tapi tidak pernah mengalami menulis terbalik.

4. Menyusun atau menyebutkan huruf huruf dalam susunan alfabet yang tepat merupakan kegiatan yang menuntut keterampilan sikuens dan ketrampilan working memory. Karenanya, seringkali merupakan kegiatan yang sulit bagi anak disleksia usia prasekolah.

5. Kesulitan dalam koordinasi gerakan motorik seperti sering terjatuh, sering menabrak benda, sering tersandung merupakan hal yang mudah dilihat pada anak prasekolah. Sekalipun anak disleksia tidak selalu menunjukkan gejala tersebut di atas, namun hal ini patut diperhatikan.

6. Kesulitan melakukan aktivitas yang membutuhkan ketrampilan motorik halus seperti mewarnai, tracking pola, menggunting, mengancing baju, memakai kaos kaki, dsb.

7. Lambat memberikan respons dan lambat dalam mengeksekusi suatu tugas atau instruksi (slow processing speed). Gejala ini merupakan faktor yang cenderung persisten pada anak disleksia dan mudah dikenali di setting belajar di sekolah.

8. Kehilangan barang atau properti miliknya seperti pensil, botol minum, jepit rambut, kaos kaki dsb

9. Adanya riwayat Disleksia dalam keluarga akan memperkuat dugaan kejadian disleksia pada anak dengan gejala-gejala tsb di atas

*Kristiantini Dewi*
Ketua Asosiasi Disleksia Indonesia

Referensi:
Dyslexia in The Early Year, Gavin Reid, 2017

 

#ilearndifferently
#dyslexiaawarenessmonth
#asosiasidisleksiaindonesia

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *