cerita ceriti,  disleksia,  my little angels,  my world,  Parenting

Diagnosis Esotropia dan Faza

Sudah lama kami merasa ada yang harus diperiksakan dengan mata Faza, dia suka melihat agak menyamping kalau sudah terlalu fokus. Dulu, setiap kali dia melakukan hal itu, aku akan berusaha agar dia memperbaiki posisi kepalanya supaya tidak miring. Dia juga mau dan selalu bertanya, apa dia terlihat aneh karena melakukan hal itu (melihat menyamping), jadi kukatakan bahwa mungkin dia hanya punya kebiasaan berbeda, nanti dia akan baik-baik saja kalau bisa membiasakan melihat lurus. Lalu dia lega dan kembali bermain.

Hari ini minggu ke-14 Faza belajar jarak jauh bersama PKBM Ahsani yang kami pilih untuk legalitas belajar rumahnya. Aku yang selalu menemaninya belajar Senin, kalau hari-hari lain dia lebih suka bersama ayahnya. Kertas kerja yang diselesaikan pun kadang hanya satu atau dua lembar.

Di tengah pembelajaran hari ini, aku merasakan mood-nya kurang baik sejak awal memulai kelas. Dia juga ogah-ogahan mulai berwudu sampai presensi, wajahnya tak seceria biasanya. Dia mulai menulis menyelesaikan soal-soal di buku My Fun Math, dia terlihat tidak bersemangat dan menulis asal-asalan. Aku memutuskan bertanya, apakah dia memang ingin belajar hari ini atau tidak, kalau tidak mau alangkah baiknya kalau dia langsung bilang pada wali kelasnya supaya minta izin istirahat pagi ini, dia bisa menyusul menyelesaikan aktivitas ataupun tugas yang diberikan Kak Er, wali kelasnya.

Tiba-tiba dia marah karena aku minta dia tidak usah mengerjakan aktivitas hari ini. Aku mulai menggali, apa yang membuatnya sangat tak nyaman.

“Bunda nggak baik kayak Ayah, kalau Ayah nggak begitu!” Ungkapnya mulai membandingkan caraku dengan ayahnya mendampinginya belajar.

Padahal aku jauh lebih santai, aku hanya fokus bagaimana kepalanya bisa lurus saat menulis dan membaca. Berkali-kali aku membenarkan posisi kepalanya dengan perlahan, ternyata itu sangat membuatnya terganggu.

Alhamdulillah ayahnya pulang saat perdebatan kami belum selesai. Aku mengadukan persoalan kami dan aku baru ingat Faza pernah minta agar matanya dibawa periksa ke dokter mata saja. Faza benar, kami perlu memeriksakan matanya. Jadi, kami langsung minta izin pada wali kelasnya untuk tidak ikut belajar hari ini karena harus memeriksakan matanya.

Sesudah berberes kilat, kami langsung menuju ke Puskesmas tempat faskes keluarga kami terdaftar. Kami pun mengantre di polianak.

“Siapa yang mau periksa?” Tanya ibu di depan polianak, mungkin karena ada Kareem juga yang sedang dalam gendonganku.

“Muttaqiy Mafaza yang ini, Bu.”

Ibu tersebut menunjuk ke timbangan dan kami langsung menyuruh Faza meninmbang berat badannya. Ibu resepsionis tadi langsung melalukan anamnesis awal.

“Sakit apa?”

“Sakit mata, Bu,” jawab ayahnya.

“Di sini tidak ada polimata, ini polianak, mungkin nanti akhirnya dirujuk ke RS.”

“Iya, tidak apa-apa, Bu. Kami minta rujukannya saja.” Jawab ayahnya.

Kami memang bermaksud memaksimalkan layanan faskes yang kami punya, maka kami tidak langsung ke praktik dokter mata, lagi pula praktik dokter spesialis biasanya selalu buka sore. Kami ingin membawanya pagi ini.

Lalu dia mengamati Faza sekilas dan bertanya lagi, bagaimana sakitnya. Maka kami jelaskan bahwa dia suka melihat ke samping.

“Oh, di rumah ada dikasih hape, ya?”

“Ada …” Tentu kami menjawab dengan jujur.

“Oh, kalau begitu ini karena kebanyakan lihat hape, Ibu, Bapak bawa pulang saja, nanti dia jangan dikasih hape, kalau masih sakit, baru bawa lagi ke sini.”

Oh no! It doesn’t make sense! Dari balik masker aku bergumam pelan pada ayahnya, “tolong bilang, Yah, dia nggak terlalu banyak di depan layar, kita harus periksakan lebih dulu.”

Tentu aku tak mungkin mengajak ibu tersebut berdebat panjang dan mempresentasikan bagaimana kami memberlakukan screen time di rumah, bahwa kami baru membeli televisi untuk memutar video-video pilihan kami sejak pandemi, saat itu usia Faza enam tahun. Penggunaan layar adalah hak prerogatif kami sebagai orang tua, ibu itu tak boleh menghakimi kami begitu rupa.

Kami memang memakai teknologi sebagai sumber belajar, tapi kukira tidak sampai melakukan pembiaran seperti yang ibu itu tuduhkan. Selama ini jika kami memberikan screen time, kami mesti memberikan pendampingan, bukan supaya anak tenang dan kami bisa bebas melakukan hal lain. Kami tidak membiarkan dia menenteng ponsel sendirian dan membiarkan dia menonton apa saja yang tersaji di layar.

Kejadian itu sangat tidak menyenangkan, sebuah penghakiman awal yang sangat buruk. Syukurlah aku hanya fokus pada pengobatan Faza, jadi aku tak ingin membuang waktu untuk berdebat. Ayahnya menjelaskan kami ingin anak kami bertemu dokter. Karena kemauan keras kami, teman ibu tadi mempersilakan kami langsung masuk ke polianak, mungkin ibu itu masih agak kesal, aku bisa mendengar dia mengoceh pada temannya itu bahwa zaman sekarang kasus anak sakit mata karena terlalu banyak di depan ponsel semakin banyak, orang tua membiarkan saja anaknya keasyikan di depan layar. Aku melewati ibu itu sambil mengambil kesimpulan: itulah kenapa ibu tidak duduk di dalam melainkan di depan sini.

Tiba di dokter jaga, Faza diperiksa dan ditanyai. Disuruh menulis. Faza menuliskan namanya dengan seluruh huruf kapital MAFAZA. Dokter itu sangat senang dan dengan santun mengatakan bahwa Faza perlu bertemu dengan dokter mata karena seperti ada yang kurang baik dengan otot matanya. Kami ingin memeriksa Faza ke RS Ibu dan Anak, tempat dia dulu lahir. Dokter pun dengan sangat jelas memberikan petunjuk pada kami, ruangan mana yang harus kami datangi untuk bisa mendapatkan rujukan ke rumah sakit yang kami maksud.

Dokter tadi sangat paham, kemungkinan esotropia yang dialami Faza bisa disebabkan banyak hal dan kami orang tuanya ingin mencari solusi, bukan berlama-lama dengan pertanyaan kenapa ini semua terjadi dan siapa yang harus disalahkan atas semua keadaan ini.

Di Polimata RS Ibu dan Anak, Faza bertemu dengan Dokter Eva. Pertama matanya diperiksa menggunakan auto refraktometer, lalu diperiksa manual dengan berbagai lensa. Sampai akhirnya bertemu lensa yang cocok, dokter meminta kami mengajaknya jalan-jalan sebentar untuk melihat reaksinya dengan lensa tersebut. Apakah terasa pusing atau lebih nyaman.

Saat diajak jalan-jalan sebentar.

Faza dengan santai menikmati pemeriksaan tersebut. Saat dokter kembali memeriksa bola matanya dengan semacam lightpen dan memeriksa fokusnya, akhirnya dokter menyarankan agar Faza dirujuk kembali ke dokter mata yang lebih paham mengenai otot mata. Nama dokternya juga Dokter Eva, kami kembali mengurus surat rujukan ke RSUD Zainal Abidin.

Kami juga belum tahu bagaimana nanti kelanjutannya. Apa memang bisa disembuhkan dengan bantuan lensa kacamata atau terapi lainnya. Kami sangat berharap doa-doa kebaikan; semoga tidak apa-apa dan Faza bisa kembali belajar dengan normal dan fungsi matanya tidak terganggu. Untuk sementara dokter memberikan diagnosis esotropia infantile.

Sejauh yang aku coba pelajari, gangguan ini termasuk ke dalam strabismus yang tidak berhubungan dengan interaksinya dengan layar. Meskipun begitu, Faza yang baik dan suka mendengar saran mengatakan, dia akan berhati-hati melihat layar, tidak akan duduk terlalu dekat, dan tidak menonton lama-lama, dia juga akan makan wortel supaya lekas sehat lagi.[]

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *