cerita ceriti,  my little angels,  my world,  Self reminder

Empat Kebiasaan Baik Hindarkan Tantrum pada Anak

Pernah mengalami hal yang tidak menyenangkan saat si kecil mengamuk di waktu dan tempat yang tidak tepat? Sepertinya setiap orang tua pernah mengalami hal yang seperti ini. Bahkan bagi orang tua yang dikaruniai anak-anak istimewa, menjadi tontonan di tengah keramaian bisa jadi merupakan santapan sehari-hari. Terlepas dari apa yang kita rasakan ketika anak kita tantrum di depan umum, sebagai orang tua, kita tetap harus memiliki kemampuan mengatasinya. Tentu saja hal yang paling dasar untuk mempraktikkan semua kemampuan-kemampuan pengasuhan adalah sabar dan menahan diri. Tanpa dua hal tersebut, rasanya mustahil kita akan menjalankan semua teori-teori yang pernah kita ketahui sebelumnya.

Sebenarnya menurut literatur, tantrum adalah bagian dari proses perkembangan anak untuk memahami emosi. Namun ada pula gejala-gejala tantrum yang menurut para ahli tidak lagi sesuai dengan perkembangan normalnya. Sebaiknya orang tua mengenali gejala-gejala tantrum yang tidak normal tersebut agar bisa menanganinya dengan benar.

Kali ini saya hanya mencoba berbagi sedikit tips kebiasaan baik yang bisa kita lakukan untuk menghindari anak gemar tantrum di depan umum. Tips ini berdasarkan pengalaman saya yang belum seberapa. Selama perjalanan pengasuhan kami yang masih belum panjang ini, kami dikarunia anak pertama yang istimewa walau terlihat biasa saja.

Anak pertama kami disleksia walau tidak mengalami speech delay di usia dua sampai tiga tahun, tapi tetap saja ada penghalang dalam berahasa ekspresif pada sulung kami di usia taman kanak-kanak yang membuat ia gemar sekali tantrum. Ia sering tidak tepat mengekspresikan keinginannya dan kami selaku orang tua terkadang belum pula tepat memberikan pemahaman.

Nah, untuk masalah yang satu ini, belajarlah mengungkapkan sesuatu dengan cara paling sederhana. Gunakan kalimat dua atau tiga kata dan instruksi cukup dengan satu kata. “Kita mau ke rumah Nenek. Adek tidak nangis. Kalau mau sesuatu ngomong. Tidak nangis. Kalau mau sesuatu bilang Bunda. Tidak nangis.”

Berikutnya bisa diulang lagi, semacam sounding, silakan diulang dengan pilihan kata berbeda dengan maksud yang sama. “Nanti kalau haus bilang Bunda. Nanti Kalau mau minum, bilang Bunda. Enggak pakai nangis.”

Begitu juga kalau ingin ke swalayan atau ke mana saja, sampaikan sebuah kesepakatan dengan jelas. Hal ini terlihat sepele tapi penting untuk mengatasi agar ia ingat nanti ketika mulai mengantuk, bosan, atau bahkan menginginkan sesuatu, ia tidak perlu menangis, menjerit, dan berteriak-teriak, atau membanting-banting barang untuk bisa mendapatkan apa yang ia inginkan.

Kemudian biasakan tidak memberikan sesuatu yang anak inginkan ketika anak menangis. Hindari pula tindakan menyodorkan sesuatu agar anak diam atau dengan kata lain menyogok. “Sudah…sudah diam sekarang, ini Ibu belikan es krim!” kalau benar ingin memberikan ia sesuatu, ajaklah ia diam terlebih dahulu dan meminta baik-baik. “Adek mau permen? Coba mintanya yang baik, insyaallah Ibu ambilkan.”  Cara ini juga masih pembiasaan sebelum anak gemar tantrum di depan umum.

Cara berikutnya yang cukup ampuh adalah mengajak si kecil mengenali berbagai ekspersi sedih, marah, kecewa, gembira, bahagia, dan lain-lain. Biasanya ini bisa ditunjukkan melalui gambar atau cerita. Lalu kita selingi dengan memberi pengertian apa yang harus kita lakukan ketika kita mengalami berbagai emosi tersebut.

“Wah, kelinci kecil sedih karena ibunya pergi. Ia pun menangis, tapi ia tidak panik dan berteriak-teriak. Kelinci kecil mencari ibunya. Ia bertanya pada Mio si kucing, ke mana ibunya pergi.” Pengenalan emosi ini ternyata menjadi andalan para penulis cerita anak, jadi sebenarnya banyak buku-buku anak yang bertemakan pengenalan emosi yang bisa dibacakan atau diceritakan orang tua. Bisa juga dengan cara mengarang cerita sendiri untuk menyampaikan tema ini pada anak.

Satu hal lagi, seperti yang disebutkan di awal, perlu kita ingat dan pahami bahwa tantrum atau mengamuk ini adalah sebuah proses perkembangan. Asalkan tidak melewati lima poin berikut seperti yang dijabarkan di hellosehat.com, pertama tantrum dengan frekuensi yang sering. Kedua, tantrum dengan durasi yang cukup lama. Ketiga, berkali-kali melakukan kontak fisik dengan orang lain, seperti memukul, menyerang orang di sekitarnya ketika mengamuk. Keempat, mengamuk hingga melukai diri sendiri. Kelima, belum mampu menenangkan diri sendiri setelah meluapkan emosinya.

Di luar lima poin di atas, orang tua hanya perlu memahami bahwa tantrum di dalam batas-batas tertentu adalah wajar dan tidak perlu berlebihan menyikapinya dengan ikut marah, membentak, mengancam, apalagi, mencubit atau memukul anak ketika ia sedang tantrum.

Demikian sekelumit tips untuk mengatasi anak agar tidak tantrum di depan umum, tapi jika ternyata ia masih saja mengalami tantrum di depan umum, lakukan hal-hal berikut ini, silakan menggali dan mempraktkkan tips dari Kakak seperguruan saya yang baik hati.

Terima kasih sudah membaca, semoga bermanfaat, ya.

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *