Kelas Bunsay#3,  Kuliah Bundsay IIP,  Melatih Kecerdasan Emosi,  my little angels,  my world,  Parenting,  Self reminder

Game Level 3 Tantangan Mengelola Emosi Hari#3

 

Alhamdulillaah selepas berjamaah di masjid komplek sebelah, anak-anak mau duduk sekejap untuk mengadakan Forum Keluarga. Setelah tilawah singkat dengan membaca surat alfatihah, sebab anak-anak keburu berjanji akan ke rumah temannya selepas magrib karena malam ini malam minggu, mereka diperbolehkan kumpul bocah. Kesempatanku untuk menyampaikan Game Tantangan Mengelola Emosi.

Aku tidak menyasar Akib sebagai partner yang sudah kupilih di game kali ini, tapi secara keseluruhan. Mengingat Biyya juga membutuhkan latihan mengelola emosi, bahkan luapan emosi bahagianya saat bisa membeli sepeda dengan tabungannya sendiri. Ia terlihat euforia dan belum sepenuhnya bisa mengendalikan luapan-luapan emosi.

Akib setuju dan banyak bertanya untuk game ini. Aku sampaikan seperti konsep yang kubuat di hari pertama pada  proyek keluarga di bulan Januari

Ayah anak-anak sebagai tim penilai, seluruh keluarga harus terlibat bahkan untuk mengingatkan tim penilai jika khilaf terpancing emosi. Akib dan Biyya bahkan langsung praktek kepada adiknya, Faza. Hal yang biasa ketika forum keluarga diadakan, Faza sangat atraktif dan berusaha menjadi pusat perhatian. Dimana ia mengamati kami duduk melingkar, kadang seluruhnya terfokus pada alquran yang ada di tangan masing-masing, kadang saling debat (terus terang ini menjadi PR yang berat, “tenaang yaa, semua ada giliran bicara.” terkadang tidak ampuh dan Biyya keburu ngambek saat tidak kubiarkan menyela), disaat itu pula Faza mengamuk kalau kami tidak memerhatikannya. Suaranya meninggi beberapa oktaf. Ayah lah yang selalu mencoba berkata dan memberi pengertian bahwa Faza boleh duduk di lingkaran, boleh mengambil alquran juga, diberi kesempatan bicara juga.

Malam ini saat aku sampaikan bahwa seluruh keluarga harus saling mendukung untuk tercapainya pengelolaan emosi yang baik.

Akib pun merangkul Faza dan menenangkannya. “Faza jangan gitu. Ayo, duduk sini ya, kalau marah-marah kena SP 1 nanti.”

Itu setelah aku dan suami jelaskan jika tetap tidak bisa mengendalikan emosi tidak langsung ada hukuman, karena tidak disampaikan mengenai reward dan punishment, dalam hati aku akan memberikan reward tapi tidak kusampaikan agar orientasi anak-anak tetap murni mengelola emosi. SP 1 hanya akan ditulis di dinding dengan post it nantinya sebagai tanda kita sedang menjalani game ini.

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *