cerita ceriti,  Kelas Bunsay#3,  Kuliah Bundsay IIP,  Melatih Kecerdasan Emosi,  my little angels,  my world,  Parenting,  Self reminder

Game Tantangan Level 3 Melatih Kecerdasan Emosi Hari#6

Game Tantangan Level 3 Melatih Kecerdasan Emosi Hari#

Hari ini berkutat dengan tugas domestik dan mencoba mengulas satu buku, walau pada akhirnya tidak tuntas karena banyak sekali iklan lewat, hehe.

Mulai kumandang azan subuh dan Ayah anak-anak sudah berangkat ke masjid, Akib dan Biyya masih belum mau beranjak dari peraduan saat kubangunkan. Tak mau sekeukeh biasanya, aku coba lanjut menyiapkan sarapan pagi hingga mereka bangun setengah jam setelah itu.

Tidak mau sarapan karena karena tempe tumis kecap, sambal lado ikan, dan bayam rebus tidak menerbitkan air liur alias tidak selera. Itu problem pagi kami. Apalagi kami masih punya budaya sarapan nasi yang agak berat ketika pagi. Biasa ada roti bakar dan teh. Lalu anak-anak boleh sekedar sarapan itu saja. Karena tidak ada yang ingin sarapan, akhirnya keduanya kupaksa membawa bekal.

Biyya tidak jajan lagi sejak membeli sepeda, jadi mau tidak mau dia memang harus membawa bekal dari rumah.

Akib tersungut ketika kupaksa bawa bekal dan mewanti-wanti untuk dimakan pagi ini juga begitu sampai ke sekolah. Sebab siang lain lagi, ia sudah ada makan siang dari sekolahnya.

Di sini tampak agak sedikit berat untuk menerima dan bersikap manis. Aku juga mungkin sudah tak bisa lagi memasang wajah ramah karena mulai ada unsur penegasan “bawa bekal kalau tidak mau sarapan!”

Namun aku akhirnya bersyukur mereka berangkat dalam keadaan rela dan tidak lagi mengerutkan dahi. Bersalaman dan berangkat seperti biasa.

Sepulang sekolah Biyya bersalin pakaian dan mengajak Qais bermain bank dengan uang palsu yang dimilikinya.

Qais dijemput orang tuanya sekitar pukul 14.30 dan Biyya minta aku bermain bersamanya.

Kami bermain jasa penitipan anak. Aku bekerja dan menitipkan Faza ke Biyya. Memberikan biaya jasa titip dengan uang Rp. 20ribu dengan tarif Rp.5ribu/jam. Maka mulailah Biyya menghitung berapa jam Faza akan dititip.

Sore masih ada kendala ketika Akib kembali ke rumah dan langsung menuju pondoknya. Menonton video bersama teman-temannya. Saat kuingatkan mandi selalu ditunda hingga azan Magrib. Lalu Magrib pun memilih salat dan tilwah sendiri di’rumah’nya. Aku dan Biyya berjamaah berdua saja. Hingga ayah anak-anak kembali ke rumah selepas magrib, tidak ada Forum Keluarga, yang ada hanya tilawah berdua dengan ayah anak-anak.

Sebelum salat Isya dan tidur, Biyya dengan gembira menempelkan Post It dan mengklaim dia berhasil mengelola emosi hari ini. Akib pun lebih dan kurang lah. Tidak gampang meledak tapi kurang mau bekerjasama dalam tim keluarga hari ini. Semoga esok lebih baik. Aamiin.

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *