cerita ceriti,  disleksia,  Kelas Bunsay#3,  Kuliah Bundsay IIP,  Melatih Kecerdasan Emosi,  my little angels,  my world,  Parenting,  Self reminder

Game Tantangan Level 3 Melatih Kecerdasan Emosi Hari#7

Game Tantangan Level 3 Melatih Kecerdasan Emosi Hari#

Setiap memulai hari aku menyediakan amunisi yang mencukupi untuk sehari. Paling tidak, sampai report bisa rampung dan posting di blog saat bangun di sepertiga malam. Tapi ada sedikit tanya, pertama, apa setelah game ini berakhir aku masih bisa serutin ini memosting isi blog? Kedua, apa aku akan konsisten menjalani follow up game ini nantinya. Dimana aku dan suami saling mengingatkan intonasi, gesture, dan pilihan kata untuk mengatur sebaik mungkin agar kami menetap dalam keadaan positif. Bahwa apa yang disampaikan adalah sebuah amanat ataupun maklumat untuk kebaikan.

Sebagaimana bangun subuh dan ikut ayah ke masjid, menyikat gigi, sarapan, meninggalkan kebiasaan jajan makanan berpenyedap, pengawet, dan pewarna, menyusun kembali mainan yang berantakan, membantu orang tua menyuci piring atau menjemur pakaian, sayang kepada adik, dan lain lain.

Progress Akib cukup baik. Di mana ia selalu memulai berkata lembut saat menyapa Faza. Tidak serta merta marah saat Faza tanpa sengaja menginjak tangannya, bahkan mendorong saat Akib mencoba bermain bersamanya. Kebiasaan ini dilakukan Faza sebab dulu Akib gemar sekali merecokinya saat bermain. Usil mengambil mobilannya, mencokeh pinggang atau telinganya. Kebiasaan yang tidak dilakukan Biyya pada Faza. Jadi seringkali Faza lebih welcome kepada Biyya ketimbang Akib. Tapi sejak kita menerapkan game ini, Akib mulai membenahi diri. Lebih kalem dan tidak seusil dulu.

Sebelum tidur, Akib curhat padaku, “Bunda, Akib palak (kesal) kali sama si Y. Dia bilang ke Akib ‘makanya ke jangan asik main game aja!’ padahal Akib pakai gadget untuk desain dan gak sesering dia main game. Dia ngakunya boleh main 24 jam. Waktu dia tahu Akib cuma boleh nge-game sabtu minggu dia juga ejek, ‘jeh kasihan kali ke, aku aja bisa main 24 jam! Jadinya Akib kesal sama dia.”

Walau agak tidak runut dia menjelaskan, tapi aku paham bahwa teman sekelasnya Y suka mengomentari beberapa hal dengan komentar yang bertolak belakang dengan apa yang dimiliki/dijalankan Akib. Terlihat ada saja yang tidak disenanginya pada Akib yang berujung dengan komentar menyudutkan.

Akib awal-awal sekolah memang pernah diejek oleh teman karena keunikannya. Karena ia suka bercerita, segera aku laporkan ke gurunya. Alhamdulillaah teratasi.

Kendala-kendala akademis yang dialami Akib karena ia disleksia mulai tertangani di kelas 4 pula. Spesifik diskalkulia-nya muncul memang saat pelajaran matematika kelas tinggi. Sejak itu kami terus mengasah keunggulannya terutama di bidang desain, sains, dan bahasa. Alhamdulillaah tabarakallaah tidak ada lagi tantrum atau letupan-letupan emosi yang mengganggu interaksi sosialnya di sekolah. Berteman luwes dari mulai kakak kelas sampai adik kelas. Percaya diri menyampaikan pendapat di kelas, mau bertanya terutama bidang diminatinya pada sains, bercerita atau membaca puisi di depan kelas. Bahkan dulu saat market day, dagangannya yang tidak laku sama sekali dan walau kecewa, ia berani unjuk diri untuk memberikan testimoni kepada seluruh guru dan siswa. Testimoni apa adanya, “senang kali ada market day ini, tapi sayang dagangan Akib tidak ada yang laku…” ungkapnya disambut tawa riuh seluruh siswa dan guru. Sebagian terenyuh sebagian lagi menikmati sesi testimoni dari peserta market day yang kecewa. Semuanya menjadi berwarna dan bersenang-senang.

Jadi kembali ke temannya Y yang usil tadi. Ternyata Akib tidak bisa juga hanya diam. Ia berani menyahut sebagaimana ia suka juga menyahut saat Bunda memberi nasihat. Poin dimana aku kerap mengingatkan bahwa lisan harus dilatih beradab. Piawai bicara tidak serta merta selalu hebat. Ada kalanya diam mendengarkan, apalagi saat bukan ditanya namun diberikan nasihat.

Baiklah. Mulai besok game tetap berlanjut dan lebih kepada penekanan menjaga lisan. Mengelola kecerdasan emosi namun lebih spesifik bagaimana menahan lisan saat kita sebenarnya sangat ingin menyemburkan kata-kata tak baik.

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, dan Faza. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *