my world

Halo! Masih Terima Curhatan?

Sudah lama tidak menghampiri blog dan tak menulisnya. Kalau seperti kata teman-teman narablog, sudah bersarang laba-laba. Hehe…

Awal malas itu mungkin karena ekpektasiku pada diri sendiri mulai tinggi, sekian tahun ngeblog, masa sih, tidak bisa menghasilkan cuan, sekian tahun ngeblog masa sih, tidak juga mahir, masa sudah dapat ilmu ngeblog tapi masih tidak bisa mengaplikasikannya? Kurang lebih seperti itu. Apalagi kalau blog hanya jadi sekadar tempat curhat, jadi celaan tersendiri sebagai narablog yang sudah berkomunitas dan belajar lama barangkali, ya? Namun, sudahlah. Bagiku senyamannya saja, manfaat itu terkadang bukan yang langsung bisa dirasakan orang lain, mengikuti kata hati pun rasanya penting. Kalau selama menulis curhat ini aku mendapat kelegaan dan terapi agar senantiasa waras di tengah pandemi dan isolasi mandiri ini, kenapa aku harus mengatakan tidak? Jadi, masih bisa curhat, kan? Hahaha.

Ya, ini memasuki minggu pertama untuk isolasi total selama pandemi. Family cluster. Bisa dikatakan begitu. Alhamdulillah kami tidak mengalami gejala berat, walau anak-anak sempat drop dan aku tak bisa tidur malam, bukan karena harus menyelesaikan editan naskah atau merampungkan tulisan, tapi harus siaga menemani si kecil Kareem.

Awal tahu Eun Yud terkonfirmasi positif COVID-19, tekanan psikologis yang kualami cukup kentara. Di sela-sela sahutan batuk dan suara napas anak-anak yang berbunyi, aku merasa ngeri sendiri. Namun, dukungan keluarga besar terus berdatangan. Hal itu menjadi immune booster tersendiri. Alhamdulillah.

Sesudah agak stabil, kami diuji lagi dengan cyber bullying. Ini karena di organisasi tempat kami biasa berkiprah, ada sedikit kesalahpahaman, walau saat dikonfirmasi dengan pihak terkait ini sudah selesai, ternyata bola liar melompat ke luar garis. Dinamika terus bergulir dan dampak itu langsung pada kami. Memang agak berat, sampai-sampai semangat menulisku menguap, aku juga jadi berhati-hati dengan gawaiku sendiri. Khawatir ini justru membuat imunitas tubuh menurun. Aku butuh sehat demi anak-anak juga.

Pada akhirnya curhat kali ini selesai setelah aku merenung selepas bangun dari tidur sejenak. Aku dan kami sekeluarga memang harus bangkit. Pertama yang kulakukan adalah ini; menulis kembali dengan lapang hati. Menerima dan legawa apa yang sedang kami alami ini bukan akhir dari segalanya. Bahkan terlalu kerdil untuk berkecil hati, masih banyak yang harus kami benahi dan setiap kali mengingat apa rencana-rencana baik yang sudah kami niatkan, aku kembali bersemangat.

Apalagi ketika ujian ini hadir, berbagai wajah dan nama datang menunjukkan sosok sesungguhnya, ketulusan tanpa pamrih jelas bisa kami saksikan satu per satu. Betapa menakjubkan saat tahu ternyata Allah menitipkan rahman-Nya dalam hati orang-orang di sekeliling kami.

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *