cerita ceriti,  disleksia,  my little angels,  my world,  Parenting,  Self reminder

How to Manage Child with Dyslexia

I am not blame on teachers but my boy is so special, maybe no one knows how to manage him. If they can not understand how to manage my child then I have to take my child back on my hand. I will teach him by my self and learn together. Transfer the knowledge as a homeschooler and spend time together with him like Thomas Alfa’s mom did for her child.

Teach a dyslexic never easy but once you find the exact way, all his speciality will quenquer all his weakness. He will become a different person. Teach a dyslexic need more knowledge, patience, extra time, and a courage.

Yes, you do not have to say he has bad hand writing, he knew already. You do not have to say he is lazy because he never mean to be lazy. You do not have to say he is slowly because he already felt like no one besides him, everyone is in front of him. He is alone and lonely.

A dyslexic can not work under pressure, because they already pressured by their dyslexia barrier all whole life. They survive hardly how to make something perfectly like other people did and said. They have their own way to make it, but not everyone understand how they work hardly. People only see they are lazy. Laziness make them fail to follow the instruction. People missunderstood.

 

Ini akan terjadi lagi dan lagi, di mana pun seorang individu disleksia (disleksik) ditempatkan. Selama ia tak mampu membuat coping strategy untuk dirinya sendiri, atau orang di sekelilingnya tidak acceptible, kejadian seperti ini akan terus berlanjut.

Anak disleksia akan merasa tertekan, lalu lingkungannya pun tak ada yang mendukungnya. Sebab semua berkelindan dalam sebuah kesalahpahaman. Kedua pihak tak ada yang salah, baik lingkungan dan orang di sekitarnya, atau pun individu disleksia itu sendiri.

Bagaimana jika kita selaku seorang guru menyaksikan siswa yang tidak pernah mau mengikuti instruksi, sering terlambat, tidak mengerjakan tugas, berantakan, tulisan tangannya cakar ayam, dan suka menggambar dan mengkhayal di dalam kelas? Ditambah lagi jika ia ke sekolah berpenampilan berbeda. Apakah tak mampu memakai kaos kaki karena sungguh ia merasa risih bukan main, lalu ia mengenakan jaket saat ke sekolah panas terik, sebab itu membuatnya lebih nyaman dan berhasil menetralisir anxiety yang kerap muncul di hari-harinya.

Lingkungan yang tak mampu memahami individu disleksia–terlebih jika komorbid disleksik ini banyak, seperti penyandang diskalkulia sekaligus disgrafia, dispraksia pula–entah berapa kali dia jadi sasaran kesal guru atau pun guru BK.

Anak disleksia tak pernah bermaksud malas atau tak taat aturan. Jika dikatakan tulisan kamu jelek sekali, sudah cukup tanpa dikatakan jelek maka ia sudah paham sejak dulu bahwa tulisan tangannya buruk. Gantilah dengan “wah, unik sekali tulisan kamu, gimana kalau kita sesuaikan dulu dengan yang lain. Berusahalah kamu pasti bisa. Ini nggak sulit karena kamu anak yang lekas belajar apa saja. Kamu bisa!” Ketika ia gagal jangan lekas marah, menjauhlah atau bersabarlah. Hargai setiap usahanya walaupun kecil. Kamu akan terkejut melihat lompatan kemajuan dalam dirinya ketika bersabar.

Yang paling dihindari adalah perkataan menjatuhkan. Sebagai seorang disleksik dewasa, aku sudah merasakan asam garam terkena risakan, penghakiman, dan hal yang menekan self esteem jatuh ke jurang paling terjal.

Suicide or to commit suicide adalah hal yang lazim terpikir pada individu disleksia. Ini sama sekali tak ada hubungannya dengan kurangnya ilmu agama dan tebal tipisnya iman. Hentikan menghakimi karena kita bukan tuhan. Apalagi jika kita tak punya ilmu mengenai how to manage a dyslexic.

Saya penyandang disleksia dengan coping strategy yang cukup baik, terus terang saja juga pernah membenci diri sendiri. Self healing bahkan bantuan ahli tidak akan banyak bekerja ketika lingkungan dan keluarga tidak memberikan dukungan.

Seorang disleksik bekerja siang malam mereparasi dirinya, this is never ending stories and struggling with your self it is not that easy as you think!

Pada tingkat yang parah, bisa saja disleksik membutuhkan obat kimia yang dapat menetralisir efek semburan dopamin otak yang kerap membuatnya distraksi. Jadi, lingkungan keluarga dan sekolah, tempat di mana anak disleksia banyak menghabiskan waktunya, adalah awal untuk kesejahteraan dan melejitnya potensi diri seorang individu disleksia.

Jika satu saja timpang, akan menggoyang tempat berdirinya dan ia akan jatuh ke kubangan rasa tak diterima. Hal ini akan membuat ia mencari-cari tempat di mana ia bisa diterima dengan baik. Alhamdulillah jika tempat yang ditujunya positif, tapi di jaman milenial di mana aktivitas seringkali bisa dilakukan secara virtual, sajian-sajian tidak sehat begitu mudah diakses, bisnis-bisnis judi dan pornografi menjadi ladang tempat hidup manusia setengah iblis, akan jadi pelarian yang mengerikan. Nauzubillah min dzalik!

Inilah bagaimana Asosiasi Disleksia Indonesia terus mengampanyekan perlunya deteksi dini atau pun pengetahuan yang cukup bagi orang tua atau pun tenaga pengajar mengenai disleksia bersama komorbidnya. Bagaimana menangani individu yang unik dan biasanya memiliki IQ normal hingga gifted ini. Demi kehidupan masyarakat yang jauh lebih baik, demi masa depan generasi emas yang jangan sampai digerus kealpaan kita mengenali potensinya.

Teriring rasa takzim yang dalam dan apresiasi tinggi pada guru dan tenaga pengajar yang selama ini sudah dengan sabar memahami diri kami, lalu sekarang anak-anak kami. Sebagai individu penyandang disleksia seumur hidup, banyak yang mengira bahwa kami mengada-ada dan berlebihan dalam menanggapi keunikan kami, tapi tak akan ada yang persis sama memahami sampai diri sendiri mengalami atau dianugerahkan seorang disleksik dalam keluarganya.

Ya, be extraordinary, be a dyslexic. Kami bagian dari masyarakat, bagian dari lingkungan yang bukan tidak mungkin, mampu memberikan kontribusi lebih di masyarakat dan umat asalkan diterima dengan tangan terbuka. Kami memiliki potensi besar yang belum tentu dimiliki setiap individu.

Benar tiap-tiap individu adalah unik dan diberikan Allah kelebihan sepaket dengan kekurangannya. Kata Abah Rama Royani setiap kita adalah ABK alias Anak Berkebutuhan Khusus. Kami menerima dengan tangan terbuka bahwa otak orang normal amat mengagumkan, bahkan jika ia dianugerahi kejeniusan oleh Allah, tapi pada manusia tidak ada produk cacat karena semua Allah ciptakan dengan ahsanul khaliqin atau sebaik-baik penciptaan.

Mohon berhentilah mengatakan hal negatif untuk anak disleksia, bahwa ia buruk, ia malas dan sebagainya. Memang benar ia tampak demikian, langkah awal, gantilah perkataan negatif itu dengan apresiasi. Insyaallah bernilai pahala memberikan nafas panjang bagi potensinya. Mengubah kebiasaan jelek anak disleksia bukan dengan menyasar kekurangannya, cukup katakan apa yang harus dilakukan dengan senyuman dan penerimaan. Berikan jeda waktu. Waktu yang dibutuhkannya adalah kuadrat dari waktu anak normal. Jika anak normal butuh dua jam, maka waktu yang dibutuhkan anak disleksia adalah empat jam. Ajak anak lain menghargai usahanya.

“Wah, hampir bisa. Mau coba lagi? Ayo coba lagi ya. Ibu tahu kamu bisa!”

Ketika ia tetap tak bisa dan merasa tertekan. Bersabar dan biarkan ia bertarung dengan kemelut hatinya sejenak. Biasanya jika tingkat kesulitan levelnya semakin tinggi, ia akan tantrum atau menangis. Insyaallah tidak terjadi jika suasana hatinya baik atau kalau pada orang dewasa sudah mampu mengendalikan dengan latihan bertahun-tahun. Inilah yang disebut coping strategy.

Jika tak mampu, kami selaku orang tua siap menerima anak kami dikembalikan kepada kami. Kami sudah mengalami banyak penolakan, penerimaan yang kami bangun dalam diri sendiri, keluarga, dan lingkungan secara bertahap amat sangat membantu kami selaku ibu dengan anak istimewa.

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *