cerita ceriti,  Cerpen,  Fiksi,  my world

Jeda Rasa

Setengah berlari kususul Rana. “Ran, kamu marah? Marah sungguhan? Halah…masa iya, sih?”

“Bodo amat!” Jawabnya ketus sambil terus berjalan cepat.

“Lah, kamu jangan salahin aku, dong. Rana esculenta, kan memang begitu nama Latinnya…Ran, duh, bentar.. bentar…”

“Iih, buat apa, sih, kamu ulang-ulang lagi!” Rana terlihat makin kesal.

“La, motor kuparkir sebelah utara lo, kamu mau kemana?” Tanyaku memburu.

“Terserah situ. Aku mau cari tumpangan lain!”

Tampaknya Rana benar-benar marah. Lekas kukeluarkan kunci motor dari kantong celanaku, kubelokkan kaki ke arah parkiran dan segera menyusul Rana dengan motor.

“Naik! Udah sore. Buruan! Aku tinggal, ya! Kubilang Wak Rahman kamu keluyuran!” Ancamku balik. Rana semakin merajuk dan dengan tersungut-sungut ia membenahi roknya dan duduk di boncengan sambil terus misuh-misuh.

Aku biarkan saja, kalau bisa kugoda ia sampai berair mata. Kebiasaanku sehari-hari. Habisnya, semakin merajuk, ia semakin lucu. Semakin menangis, ia semakin cantik, aku terobsesi menggoda. Seperti hari ini, setelah praktikum biologi, dengan preparat katak hijau alias Rana esculenta. Rana…artinya katak. Ah, aku temukan lagi alasan untuk mengganggu Rana.

Rana, gadis kecil kurus berambut keriting anak Wak Rahman, tetanggaku. Ah iya, dia bukan gadis kecil lagi. Kini dia sudah semester tiga, satu kampus denganku tentu saja. Aku seperti bayangan Rana atau Rana yang seumpama bayanganku. Di mana ada Rana, di situ ada Barra. Di mana ada Barra, di situ pasti Rana. Tuhan sepertinya memberikan pertanda, bayangkan saja, aku hanya pernah terpisah sekolah dengannya saat TK, sampai hari ini kampus dan jurusan kami pun sama!

Sialnya, ia penuh pesona. Bukan karena mata kacang almonnya yang hampir hilang saat tertawa, atau hidung bangirnya yang menawan, tapi kebaikan dan ketulusan hatinya yang membuat hatiku tertahan. Bertaut, berkelindan dengan semua pesonanya tanpa jeda. Entahlah kapan waktunya tiba, untuk sekadar katakan suka aku tak punya suara, apalagi cinta.

“Turun…masih marah kamu?”

“Pokoknya besok aku udah bilang sama Yuni, biar dia samperin aku pas mau ke kampus…”

“Haduh, udah, deh. Besok juga aku ada jadwal kuliah pagi. Begitu aja…Halah…entar malam teman-teman kamu pada datang lo, ke kamar…terus lompat-lompat, deh!” Godaku lagi sambil pura-pura menirukan katak sedang melompat.

“KAK BARRAAA!”

Kugas motor skuterku sambil terbahak meninggalkan Rana di depan teras rumahnya.

Esok paginya aku terlambat selangkah. Rana benar-benar sudah berangkat entah sendiri, entah bersama Yuni. Ah, tak apa… paling juga nanti sore ia bakalan pulang bersamaku. Aku langsung ke kampus dan ke ruangan. Hari ini Pak Dodi masuk, aku tak ingin terlambat. Ia tidak suka mahasiswa yang datang telat.

Mengecek ponsel saja pun aku tak berani kalau sedang kelas Pak Dodi, jadi begitu keluar kelas, langsung kutatap layar ponsel, ada 87 panggilan! Hah, apa-apa ini? Ada Mama, abang Rana, dan Ayah.

Kucek pesan WhatsApp, Barra, segera ke RS ruang Kaliandra nomor 4, Rana kecelakaan. Pasan Mama dan Tante Yolanda, ibu Rana. Seperti kesetanan aku berlari ke parkiran. Entah bagaimana parkiran yang sempit ini tetiba tak terasa berdesakan, orang-orang seolah tembus pandang.

Mungkin yang kukendarai ini buraq atau angin yang membawa Nabi Sulaiman terbang. Aku sampai di sal yang tadi membawa tubuh Rana. Tak ada sisa dan tanda apa pun.

“Kecelakaan, tapi tidak banyak darah, sepertinya pecah pembuluh darah di otak. Barra…Barra…tunggu di sini, di sini saja.” Entah siapa yang berbicara.

“Rana? Rana?”

“Sedang dimandikan, akan kita bawa pulang untuk dishalatkan.” Entah siapa pula yang menjawab pertanyaanku.

Kak Barra, kalau tidak bikin Rana nangis sehari aja, kayaknya bisa meriang, ya? Sebal, tahuu!

Nanti juga kamu tahu, kenapa aku begitu. Haha…

Kenapa, coba? Dendam apa sama Rana?

Dendam? Iya, perasaan ini bagai godam menghantam tanpa jeda. Sekalipun tak kauberi aku kesempatan. Sekarang kau pergi melenggang, memberi rasa ini jeda yang panjang.

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *