cerita ceriti,  my world,  Self reminder

Kenapa Menulis Blog?

Alasan kenapa menulis blog?

Dulu sekitar tahun 2008, saat pertama sekali aku mencoba membuat blog, aku adalah seorang ibu yang sedang struggling dengan tugas-tugas kuliah dan laporan-laporan koasistensi di Fakultas Kedokteran Hewan.

Saat itu setiap hari, sambil mengurus sulung kami yang berusia sekitar dua tahun, aku harus berkutat di depan laptop di setiap waktu senggang yang kupunya. Terutama saat anak istirahat siang dan bahkan larut malam.

Rasa jenuh tak terbilang. Otakku terasa penuh dicekoki dengan satu tugas ke tugas lainnya. Belum lagi sebagai ibu muda yang masih meraba-raba dalam mengurus bayi di perantauan, aku perlu banyak membaca dan browsing tentang tumbuh kembang anak-anak, kurasa begitu. Masa kecilnya hanya sekali, aku juga tidak terlampau ambisi dalam karier. Bagiku saat itu, menyelesaikan studi adalah amanah selaku anak, lalu mendidik anak dengan baik itu adalah amanah sebagai orang tua.

Jadi di situlah posisiku saat itu. Galau? Mungkin iya sesekali, tapi kerepotan tersebut membuatku ingin rehat dengan caraku sendiri. Mengurai isi kepala menjadi susunan aksara dan diksi-diksi. Bagiku menulis adalah vacation terbaik yang pernah kulakukan. Melepaskan anak panah diksi dan menatapnya lesat menuju titik fokusnya, adalah kesenangan sendiri.

Nah, sekarang laptopku penuh dengan file-file¬†Word yang berisi tulisan. Biasanya memang hanyalah ‘curhat sampah’ tak karuan. Namun setiap kali membaca ulang, aku jadi intropeksi diri dan juga merasa rileks sekaligus terhibur. Aku khawatir juga kalau kelak laptop-ku crash, bagaimana dengan tulisan-tulisan ini, aku juga tak mungkin menyalinnya ke dalam buku atau kertas-kertas seperti zaman dulu, apatah lagi menulis dalam lontar-lontar ala manusia purba. Eh, manusia purba kan, masih praaksara…mana pula menulis, ya? Hahahaha.

Intinya itulah…aku butuh sesuatu, mungkin itu yang disebut paltform, ya? Iya, aku butuh platform menulis yang mudah dipelajari, digunakan, dan barangkali bisa jadi sebuah amal jariyah. Bukankah ada ilmu yang bermanfaat terkadang mampir dalam tulisan-tulisan kontemplasi, lalu pengalaman yang menjadi guru berharga. Istilahnya menulis untuk menyenangkan diri sendiri, syukur-syukur ada yang bisa dibagi dan menginspirasi.

Belakangan aku tahu, bahwa aku adalah seorang penyandang disleksia yang memilki banyak keunikan. Keunikan ini memberikan dua kemungkinan, petaka atau kekuatan untuk meraih kunci keberhasilan. Kalau aku bisa mengatur coping strategy yang baik, dengan izin Allah aku bisa mengendalikan keunikan tersebut. Ternyata menulis adalah salah satu terapi yang manjur untuk coping strategy individu disleksia. Aku jadi lebih terorganisir dan tidak grasa-grusu. Pelan tapi pasti, segala potensi yang kupunya bisa mengalir di kanal-kanal yang tepat dan membuatku merasakan kehidupan yang jauh lebih baik. Alhamdulillah.

Menulis dan menikmati secangkir kopi adalah rekreasi terindah saat ini

 

Jadi begitulah ceritanya awal mula aku menulis di blog. Hingga kini ternyata nge-blog itu semakin menyenangkan dan justru jadi lifestyle dan kebiasaan orang-orang di zaman digital. Bahkan ini menjadi profesi yang menjanjikan.

Lihatlah di beberapa komunitas blogger, bagaimana seorang nara blog bisa menopang hidupnya dengan duduk berlama-lama di depan layar dan menarikan jari jemari.

Lalu, kamu…sudah menulis blog juga, kan?

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, dan Faza. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *