Resensi

Kuebiko yang Muncul Setelah Bon Voyage, Mr. President (Sebuah Resensi Buku Gabo)

Apa kamu pernah merasa geram, sangat ingin melampiaskan marah dan merasa sangat tak berdaya bahkan bingung dengan perasaanmu sendiri? Ini bukan bicara soal perasaan misterius kuebiko; perasaan jengkel dan kesal ketika kamu melihat kejahatan yang terjadi di dunia, tapi kamu sadar tak ada yang bisa kamu perbuat sehingga kamu jadi frustrasi, tapi aku sedang membicarakan kumpulan cerita Gabriel “Gabo” Gracia Marquez dalam bukunya Bon Voyage, Mr. President yang diterjemahkan menjadi Selamat Jalan, Tuan Presiden.

Mungkin guruku lupa mengingatkan agar aku menguatkan mental sebelum membaca tulisan-tulisan Gabo. Terutama di bab “Aku Hanya Datang untuk Memakai Telepon”, Gabo berhasil mengaduk emosi pembaca dengan konflik yang dibangun lelaki kelahiran Kolombia 1928 ini. Gabo menampilkan detail yang sangat akurat tentang awal mula Maria de la Luz Cervantes terjebak di sebuah penjara wanita setelah ia memberikan sinyal liar pada setiap kendaraan yang lewat di kala hujan musim salju. Sebuah bus bobrok yang akhirnya berhenti dan sopir memperingatkan Maria bahwa ia tak akan berjalan begitu jauh, tapi Maria hanya ingin mencari telepon terdekat untuk menghubungi suaminya dan menyampaikan bahwa ia akan terlambat tiba di rumah.

Tahun 1984 Gabo menerima Nobel Prize for Literature, wajar saja detail yang diberikannya amat jernih dan menghanyutkan pembaca hingga ke dasar yang tak dangkal. Mungkin yang pantas kulakukan adalah membanting buku itu dan melenyak atau bahkan menghela satu per satu lembaran isi buku atas semua rasa tak berdaya yang kualami. Maria sudah terjebak dalam  apa yang disebut penghuninya sebagai “lubang neraka” dan ketika suami Maria, Saturno, akhirnya menemukan Maria dan mencoba mengikuti jejaknya, kelindan persoalan baru datang lagi. Kesalahpahaman atas masa lalu yang ditera Maria dalam garis nasib, membuat suami Maria justru menyangka ia pergi meninggalkannya untuk orang lain.

Obsesi Maria pada telepon benar-benar menjadikan dirinya gila sungguhan. Selanjutnya adalah insiden-insiden luka yang semakin mengentak emosi. Disajikan lebih perlahan ketika ketegangan datang dan semua informasi yang tak terlalu penting diberi sentuhan diksi terbaik hingga pembaca tetap tak ingin melewatkannya.

Cerita-cerita yang dibangun dengan konflik apik dan mendorongku untuk menghentikan kepungan-kepungan tulisan buruk yang sering kuciptakan sendiri. Benar adanya menulis terletak di antara musik dan lukisan, penggambaran-penggambaran yang diberikan Gabo bukan sekadar truisme yang sering kita baca di laporan-laporan jurnalistik, tulisan fiksi, maupun nonfiksi. Hanya karena ingin tampak keren lalu memunculkan istilah-istilah yang jikapun tidak digunakan dalam tulisan itu, tak ada pengaruh dalam peningkatan mutu dan pemahaman pembaca. Metafora dan majas yang mendayu-dayu seperti purple prose tidak tampak dalam tulisan Gabo, tapi seluruh isinya bisa dipastikan memagut pembaca dalam cengkeraman rasa penasaran. Bagaimana kelanjutan ceritanya, bagaimana nasib gadis yang mobilnya mogok di tengah hujan musim salju dan hanya mencari tumpangan untuk meminjam telepon agar bisa menghubungi suaminya yang sedang menunggu di rumah, tapi ia telah menumpangi bus yang salah. Pada prosa lainnya yang berjudul Selamat Jalan, Tuan Presiden pembaca juga digiring tentang keinginan segera membuka halaman berikutnya. Bagaimana nasib akhir sang Presiden.

Di kelas Menggambar dengan Kalimat bersama Mas Sulak (aka A.S. Laksana) cara pelukisan Gabo pernah beberapa kali dibicarakan, terutama dia selalu melakukan eksagerasi atau membesar-besarkan segala sesuatu, seringkali hal yang biasa-biasa saja. Sebaliknya, untuk hal-hal yang tidak masuk akal, ia justru menyampaikannya dalam cara biasa-biasa saja seolah-olah itu kejadian sehari-hari. Dengan teknik itulah dia antara lain membangun efek realisme magis dalam ceritanya. Di luar efeknya, pelukisan oleh Marquez menjadi lebih segar, dan lebih jenaka, karena kita disodori gambar.

Buku Gabo yang saya baca kali ini diterjemahkan oleh Ruslaini dan diterbitkan oleh Penerbit Mata Angin, Yogyakarta, edisi cetakan yang kedua tahun 2017. Buku ini terdiri dari empat prosa dan bukunya tak terlalu tebal, hanya berkisar 98 halaman.

            Efek realisme magis yang dimunculkan Gabo kadang-kadang bisa tertinggal beberapa saat setelah membaca tulisan-tulisannya. Bahkan dalam kumpulan prosa Selamat Jalan Tuan Presiden ini, efek itu tertinggal hingga beberapa hari untuk saya pribadi. Lalu saya mencoba meredamnya hingga sebulan lebih dan kemudian meluahkannya dalam ulasan kali ini. Memang mengherankan; untuk apa meresensi buku lama, tapi itu menjadi penting ketika kau tak bisa lepas dari cengkeraman ceritanya.[]

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *