cerita ceriti,  Cerpen,  Fiksi

Laboratorium Maya

Srrrrrtttt……

Sebuah suara terdengar di sela-sela petikan gitar John Mayer melalui headset-ku, aku menoleh heran ke samping. Benar saja, alat sentrifus bekerja, ia berputar seirama siulan Mayer di “Stop This Train”.

“Nauli… ” panggilku pelan dan mulai kuulang kembali, “Nauli! Di mana?” yang ada hanya senyap. Alat sentrifus sudah berhenti, padahal aku tak salah lihat tadi memang berputar.

Pukul empat sore biasanya kampus masih ramai, tapi saat pandemi begini, jangankan laboratorium, kampus pun memang tutup. Huf, kalau tidak mengejar wisuda bukan lima ini, aku pun rasanya tak ingin menghabiskan waktu di tempat yang berisiko seperti ini. Suara pintu lab dibuka, Nauli muncul sambil menepuk-nepuk kemeja bagian depannya.

“Aiish, sebelnya! Keran di toilet tetiba muncrat gitu. Basah, deh, baju gue!” datang-datang ia mengadu.

Tetiba…kenapa Nauli bilang tiba-tiba.

“Memang kerannya udah nggak bener, itu. Ah, kampus ini miskin banget, apa, ya? Sampai nggak ada maintenance untuk hal yang kayak gitu!” repet Nauli belum berhenti.

Ssrrttttt….. klak…klak..klak….

Aku dan Nauli terbelalak…alat sentrifus berputar, timer autoklaf bergeser, katup pengamannya menutup sendiri. Belum lagi jantung kami berdetak memompa darah berikutnya, colony counter berbunyi. Tak…tak..tak..

“Huwaaaaa!” kami sontak berteriak ngeri. Bulu tengkukku terasa meremang.[]

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

5 Comments

Leave a Reply to aini Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *