cerita ceriti,  Just My Opinion,  my world,  Self reminder

Lagi-lagi Tentang Buku

Buku adalah jejak kenangan. Kadang ia lincah mengalir dalam ingatan, walau kadang pula ia tergenang menyesakkan. Ada banyak buku yang membuatku merasa begitu. Terlebih lagi timbunan kenangan-kenangan bersama Ibuk, begitu kerap aku memanggilnya. Orang memanggilnya Bu Dokter, walau yang berprofesi dokter adalah suaminya.

Kalau ndak ado di kolong meja, cari sajo di batang ceri tu, biasonyo di ateh tu nyo mambaco buku.” Kalau bukan di kolong meja tamu yang sempit itu, aku ada di atas pohon karsen di depan rumah sakit Rimo. Saban hari begitu, kecuali sehari dua hari untuk sekadar meredam amarah Umak.

Anak gadih kok suko melala?” Itu yang paling merisaukan Umak. Anak gadisnya sering sekali keluyuran. Padahal tujuanku cuma satu…ke rumah Ibuk sekadar mengemis lima atau enam eks buku untuk otak disleksiaku.

Imajinasi…obrolan-obrolan tinggi yang kerap hinggap, membubung bagai asap, terbang bersama partikel-partikel koloid pada efek Tyndall. Aku candu larut dalam aroma-aroma kertas. Aku rindu kepala yang hening tanpa gangguan, aku ingin tenang walau sejenak. Bu Dokter punya semuanya, almarhumah juga yang selalu paham membaca binar mata. Setiap aku mengingat buku, terasa sesuatu yang menyesakkan dada, padahal itu kenangan bahagia, barangkali karena aku harus sadar sepenuhnya, bahwa Ibuk sudah tiada.

Mungkin karena mulai paham sedikit-sedikit tentang keinginanku, kakak pertamaku pun akhirnya suka membelikan aku bermacam judul buku.

Lalu buku apa yang paling berkesan? Entahlah. Dulu sekali, sekitar tahun 1990-an. Aku ingat pernah membaca karya Cak Nun yang berjudul “Slilit Sang Kiai“, kisah seorang Kiai yang tidak jadi masuk surga karena setelah pulang kenduri, ada daging yang menyangkut di gigi, lalu ia mengambil sedikit kayu pagar tetangga untuk dijadikan tusuk gigi, lalu diceritakan selanjutnya ia meninggal dunia. Beberapa saat kemudian seorang santrinya bermimpi bahwa kiai tersebut tidak bisa masuk surga. “Dosa-dosaku telah Allah ampuni kecuali satu. Aku tidak sempat meminta izin pemilik rumah untuk mengambil sedikit dari bambunya untuk kujadikan tusuk gigi. itu membuatku sangat repot di alam kubur.”

Buku yang berisi kumpulan tulisan yang sudah diterbitkan di media massa itu sangat mengganjal dalam ingatan. Aku terkesan. Walau kemudian aku juga terpesona dengan cerita-cerita yang ditulis penulis klasik seperti Lucy M. Montgomery dalam alunan-alunan diksinya di Anne of The Green Gables, lalu buku-buku Sir Arthur Conan Doyle yang sanggup kubaca berulang-ulang, buku Slilit Sang Kiai itu masih meninggalkan kesan. Aneh, pikirku.

Namun, buku yang sepertinya dipinjam kakak pertamaku dari Pak Tuo kami itu, tak lagi pernah kulihat. Kadangkala ada keinginan untuk mencarinya lagi di toko daring, tapi kurasa aku hampir tak ada waktu berselancar untuk itu.

Sekarang aku hanya bisa memotret beberapa koleksi buku Anne-ku yang manis ini. Kalau ada yang mau merekomendasikan terjemahan terbitan lain yang terbaik, mungkin aku masih mau membelinya. Aku pernah ingin punya waktu khusus untuk membaca-baca ulang, tapi tentu saja aku tak punya. Hanya sesekali saat menggeser buku atau menyortir buku-buku yang harus dipindahkan dari rumah, aku sering stuck membaca beberapa babnya saja. Tersenyum sendiri seperti orang gila yang sedang jatuh cinta.

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *