cerita ceriti,  my world,  Self reminder

Lebih Baik? Benarkah?

Kapan, sih, orang baik itu menjadi buruk? Yah, disaat dia merasa udah baiiiik banget. Bisa kan, ya, begitu? Bisa bangeet.

Membuat postingan ini setelah membaca quote dari salah seorang teman di IGnya. Jadi mak jleb! Kayaknya pernah juga, nih, merasa lebih baik dari orang lain, tepatnya seseorang. Sesorang itu suami saya sendiri. Dia kan orangnya simpel, nggak banyak bicara dan benar-benar apa adanya. Sebenarnya awal suka juga begitu, dirinya itu jauh dari yang namanya pencitraan, so humble and down to the earth. Tapi dia suka belajar dan berbenah diri, memiliki telinga yang cukup ‘besar’ dan beberapa kelebihan kepribadian lainnya.

Jadi al imaanu yaziid wa yankus, kalau ia sedang turun imannya seringkali aku menyindir, merasa lebih baik. “Hm… eun yud sudah berapa coba hapalannya? Hari ini dhuhanya berapa rakaat” Atau menanyakan hal lainnya lah yang kebetulan saja aku sedang setingkat di atasnya, kayaknya nggak bisa dijabar satu-satu. Ya itu kalau sayanya sudah kelar ya. Giliran ia yang sedang naik tidak pernah merasa lebih baik. Sementara aku, tuh, paling hobi begitu, apalagi masalah ke anak. Tentunya aku lebih telaten dan detail salah satunya cara berkomunikasi juga.

“Bilang dong, begini…bla bla bla. Ada konsekuensinya, pakainya bahasa anak, bla bla bla…” seteleh ngedumel gitu nanti aku tersadar. Hm, misalnya aku, ya, yang dalam posisi dia. Seorang pemimpim, qawwam, qudwah di rumah dikasih masukan dengan cara kayak gitu dan dengan kelemahan komunikasi yang ia miliki, lantas saya pantas mengabaikan sejuta kelebihannya selama ini?

 

Kadang memang aku lebih baik dan sesaat itu juga aku menjadi lebih buruk. Begitu juga ke orang lain. Fenomena ini juga kerap terjadi di keseharian. Jujur ni, ya, paliing bete kalau melihat someone yang merasa dirinya lebih baik dari orang lain. Segala kagum dan salut yang kubangun di awal akan runtuh seketika. Kalau kamu gimana?

sepakat deh, dengan potongan diaog di film ini.

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

2 Comments

  • septia

    Huuu bener banget mba, kita terkadang tanpa sadar suka sombong merasa lebih baik dari orang lain. Baca tulisan ini jd semakin hati-hati menata hati memandang diri dan orang lain. Salam kenal Mba 🙂

    • aini

      salam kenal kembali Mba Septi. Semoga selalu dilimpahi hati yang lapang untuk kita berbenah diri. terima kasih sudah mampir yaaa 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *