Makan, tuh, Baik!

 

Suatu ketika aku pernah juga berempati kepada seseorang yang dekat denganku dan Allah berikan pula cobaan melalui suaminya yang sedikit bermasalah. Saat itu ia mengatakan “beruntung kamu, punya suami baik sekali.” karena orang dekat, maka ia sangat kenal dengan suamiku, bukan karena aku suka mengumbar detail apa saja kebaikan suami kepadanya. Aku kemudian berujar pelan dan dalam “Baik kali pun, Kak. Mungkin Allah malah kasih yang baiik sekali, sangking baik dan penyayangnya ya, begitulah. Mungkin Allah benar-benar mengabulkan doa saat Aini meminta suami yang baik, ya?” mengambang? Iya benar. Saat itu berujar pasrah karena sedang diuji kesabaran dari hal lain.

Eun Yud memang baik sekali, aku rasa saat orang mengatakan, Aini baik… Baik… Baik. Aku merasa sama sekali tidak pantas menerima pernyataan itu. Karena aku merasakan sendiri seperti apa orang baik dan penyayang itu. Dia selalu berada di sebelahku dan kalaupun aku dianggap baik barangkali hanya efek tertular darinya sedikit.

Sungguh lapang sekali hatinya, lurus prasangkanya, luas permaklumannya. Suatu ketika, di saat berkisah dengan teman dekat tadi, kami sedang berusaha mengembalikan piutang seorang teman baik (A) yang sudah kurang lebih setahun tidak dikembalikan oleh teman lain (B). Ini cerita beberapa tahun lalu dan sudah selesai.

Dipinjamkan karena teman yang berutang sangat percaya kepada Eun Yud. Jadi jumlahnya 96 juta dengan rincian milik si A 50 juta dan 46 juta milik kami. Kondisi saat itu sudah terbilang genting. A ingin segera B melunasi utang tersebut. Yang mengambil uang kepada A dan dijadikan jaminan adalah Eun Yud. Jadi wajar A terus-terusan merongrong Eun Yud agar B segera mengembalikan uangnya. Eun Yud sangat paham kondisi usaha si B. A tidak ingin tahu hal tersebut. Bulan yang berat bagi suamiku dan aku seperti halnya mungkin orang kebanyakan akan berpikir, untuk apa Eun Yud menjaminkan dirinya sedemikian rupa.

Aku menahan diri menceritakan soalan ini karena akan ada penilaian, luar biasa bodohnya Eun Yud. Ia rela dirongrong, bukan ia yang meminjam uang tersebut. Malah uangnya 46 juta juga belum kembali selama 5 tahun. Uang itu dipinjam pakaikan untuk usaha B sejak Biyya berusia setahun, tengah kami sudah 6 tahun saat kejadian itu berlangsung.

“Ayah yakin usaha B akan berangsur baik dan prospeknya sangat bagus, walau itu membutuhkan waktu belasan tahun. Ayah kenal betul B dan perjuangannya. Dia tidak mungkin akan lari. Kondisinya sekarang juga terjepit. Apa yang mau kita paksakan. Sekarang kita hadang dengan pistol pun, dia tidak akan bisa mengeluarkan jumlah yang diminta untuk dilunasi ke A. Tanah, mobil, dan aset usahanya (yang kebetulan ini makhluk hidup yang sulit dikelola, butuh SDM mumpuni), belum bisa jadi uang cash sejumlah itu.”

Eun Yud, kamu mengerti tapi tidak dengan A. Ia mana mungkin mau tahu hal tersebut, batinku lagi. Karena hal itu sudah dipahami betul oleh Eun Yud. Tapi jarang sekali aku ungkapkan hal-hal yang semakin membuatnya susah. Tugasku menjadi pendengar dan penghibur hatinya saat itu. Sesekali aku juga tak bisa menahan “Ya, Allaah Eun Yud. Kondisi kita dan usaha kita juga sangat prihatin. Uang yang ada pada si B yang milik kita itu pun sangat kita butuhkan.” Aku masih terus diberi pemahaman bahwa kita masih dalam kondisi baik. Saat kupikir dengan jernih, memang kondisi kami baik-baik saja. Aku bersyukur tidak ada yang tak layak buatku dan anak-anak.

Jadi terkadang jika ada bisikan setan yang sarkas “Makan, tuh, baik!” lalu aku tersadar. Benar… Kami benar-benar makan dari hasil kebaikan hatinya. Dengan kondisi pekerjaan tidak tetap kami berdua, selalu Allah selipkan rejeki dari tempat tak terduga. Belum pernah kami sekeluarga kelaparan tak mampu mengisi perut dengan makanan yang pantas. Sejauh ini kami selalu makan dengan baik. Tidak ada tagihan uang sekolah anak-anak yang menggunung. Tidak ada utang pada si fulan dan fulanah. Kecuali satu pada kakak tertuaku saat kami membeli kendaraan dulu tahun pertama menikah. Pinjaman hadiah yang sedang kami usahakan mengembalikan dengan mencicil. Itu juga kakak sangat tegas mengingatkan, jangan jadi beban, Kakak tidak pernah menuntut kapan kalian bisa mengembalikan. Sehingga malam kami selalu tidur nyenyak. Semoga rejekimu mengalir lancar, Kak.

Tapi dasar orang baik, ia tak pernah pun beranggapan dirinya baik, apatah lagi lebih baik daripada orang lain. Terkadang benar pelajaran itu diberikan-Nya langsung di sisi kita jika kita ingin mengambil hikmah.

Begitu juga dengan memperkarakan sesuatu. Tidak usah jauh, seminggu ini sempat jadi bulan-bulanan dikambing hitamkan oleh seseorang yang tidak diberikan tempat dimana pun. Ia merasa amat mumpuni dan teratas tapi tidak diterima di mana-mana. Atas dasar prasangka yang tidak dikonfirmasi akhirnya ia merasa aku telah menghalangi jalan untuk mencapai ambisinya. Padahal, jangankan menghalangi orang lain, memikirkannya saja aku tidak sempat.

Aku diajarkan Ayah dan Ibu untuk tidak membenci sesiapa. Eun Yud kemudian mencontohkan hal serupa, jadi ketika aku tak menyukai sikap seseorang, selanjutnya aku akan berinteraksi alakadarnya, berhenti memberi porsi terlalu banyak terhadap energi negatif adalah hal yang baik untuk kesehatan mental, kewarasan, dan mengasah intuisi. Aku tak pernah punya cukup energi untuk membenci apalagi menularkan kebencian dengan meniupkan isu tak baik. Aku tak punya kepentingan menghalangi jalan orang lain terhadap keinginan yang aku juga tidak ‘berselera’ pada apa yang dianggapnya menggiurkan.

Kenalanku tersebut berusaha meniupkan isu tak baik. Salah satunya dengan mengajak beberapa sahabatku berbicara empat mata untuk merincikan apa saja yang menjadi kekuranganku. Alhamdulillaah, batinku saat itu. Akan ada langkah lanjutan buatku, akan ada kesempatan untukku berbenah diri. Mungkin dengan begitu aku jadi bisa seperti Eun Yud. Menjadi orang baik atau sekedar menjadi lebih baik dari diriku yang dulu. Betapa ia memerhatikanku dan mungkin aku telah memesonanya sampai ia punya daftar kekuranganku secara detail.

Malam itu aku berujar pada Eun Yud, lihatlah Kenalanku ini. Bahkan mungkin kamu tidak memiliki daftar kekuranganku seperti yang ia miliki. Semoga besok ada hasilnya, sahabatku datang dan mau berbicara empat mata dengannya untuk merincikan kekuranganku. Tapi sayang, esoknya aku menuai kecewa. Karena sahabat tersebut berkata, “ah, aku terlalu sibuk mikirin jodoh. Sibuk. Nggak sempat mendengarkan dia.”

Tidak cukup dengan itu, esoknya muncul lagi status facebook suami kenalanku tersebut dengan tema yang sama. Menganggarkan diri mengenai kepantasan. Aku kemudian bersyukur, Eun Yud tidak pernah ‘genit’ terikut-ikut persoalan ‘remah roti’ perempuan. Ia cukup tahu ranah dan punya wibawa sebagai lelaki. Walau aku yang wanita sering baper, meminjam istilah kekinian, namun ia tak ikut baper. Aku merasa sangat berterima kasih dan belajar lagi tentang menempatkan sesuatu di tempat yang benar.

Aku mengambil banyak hikmah dari peristiwa ini. Terutama, aku tidak ingin berasumsi terlalu tinggi mengenai diriku sendiri. Rendah diri jangan tapi tinggi hati itu pantangan. Apalagi jatuhnya sampai menganggap enteng orang lain. Jangan jemawa, sebab kalau sudah begini, asumsi mengenai diri terlampau tinggi, amatlah sakit ketika jatuh. Jangan memandang dengan kacamata kuda, merasa diri hebat dan bagaimana mungkin orang lain bisa lebih pantas. Kata orang bijak, itu tingkatan paling bawah ketika menuntut ilmu, merasa hebat, mumpuni, dan pantas. Belajar tanpa mendahulukan adab, rawan sekali terjangkit sifat ujub.

Jika benar sudah naik ke level atas maka semakin diri merasa tak memiliki apapun hingga haus akan ilmu. Stay fool, stay hungry. Layaknya filosofi padi, semakin berisi semakin merunduk.

Kemudian, jangan suka mengoleksi keburukan dan kekurangan orang lain. Apalagi untuk dirincikan, dipresentasikan kepada pihak lainnya. Aku sebutkan mengoleksi karena itu bukti sebuah kecintaan akan hal yang dikumpulkan tersebut. Lihatlah betapa perjuangan dan berapa banyak energi yang dihabiskan dalam rangka mengumpulkan aib orang, belum lagi dilanjutkan dengan presentasi ke pihak ketiga, kedua, dan seterusnya. Ini serupa pula bak kata pepatah “menepuk air di dulang, tepercik muka sendiri”.

Selama ini mungkin ada yang berucap, “sok baik!” seolah nyinyir “makan, tuh, baik!” Tapi memang selama ini kami ‘makan baik’, aku masih menganggap karena berusaha baik kami tetap bisa diberikan rejeki oleh-Nya. Eh, rupanya kami makan itu ‘baik’. Itu pun aku masih minta maaf sebesar-besarnya, bahwa aku belum baik, belum cukup baik dalam hal apa saja.

Cukup selama ini sudah meminggirkan hingga melupakan posisi kenalan tersebut di kepalaku. Hari ini ingin berterima kasih terakhir kalinya karena jarang-jarang aku bisa mendapatkan pelajaran seberharga ini.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *