my world,  Self reminder

Marhaban Ya Ramadan

Resume Tausiyah oleh Dr. Aslam Nur, Lc., MA. di Masjid Jakfar Hanafiah, Batoh.

Ketika matahari tergelincir, maka sudah masuk hari baru dalam perhitungan qamariyah, apakah itu melalui hisab wujudul hilal maupun rukyatul hilal, tetapi kita tidak akan membicarakan mengenai perbedaan kedua metode tersebut kali ini, hal yang paling kita syukuri adalah kita bisa berjumpa kembali dengan Ramadan, semoga di akhir Ramadan nanti kita mampu mencapai derajat takwa seperti yang disebutkan Allah dalam surat Al-Baqarah: la’allakum tattaquun.

Ada beberapa kelompok manusia yang dipanggil/disebut dalam Al-Qur’an:

1. Ya ayyuhalmukminiin, ya ayyuhalmuslimuun. Yaitu, orang muslim, mukmin, orang yang beriman,

2. Ya ayyuhal kaafiruun, yaitu kelompok Abu Lahab, manusia yang ingkar,

3. Kelompok ketiga yaitu orang munafik.

Pembahasan kali ini adalah mengenai orang mukmin. Apakah cukup bagi mereka mengatakan “aku beriman”? Tentu saja tidak, melainkan Allah akan menguji keimanan yang diucapkan oleh lisannya tersebut. Salah satu ujian dengan diberikan kewajiban dan  larangan. Melalui kedua ujian tadi, Allah akan melihat apa manusia tersebut mampu melakukan atau tidak. Maka selama kita beriman akan terus ada ujian. Salah satu ujian itu adalah saat di bulan Ramadan.

Dalam surat Al-Baqarah 183, Allah memanggil orang-orang mukmin: ya ayyuhalladzi naamanu, Allah memanggil orang-orang mukmin, panggilan puasa ini khusus untuk orang yang beriman. Allah akan melihat apakah hamba-Nya mampu memenuhi kewajibannya sebagai orang yang beriman. Jika kita lulus dengan ujian ini, kemudian derajat manusia meningkat menjadi ya ayyulmuttaqin. Ada lagi panggilan untuk manusia: ya ayyatuhan nafsul muthmainnah, artinya orang yg jiwanya tenang. Selanjutnya disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al- Fajr: irji’i ila rabbika radhiyatammardhiyah. Kembalilah pada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Allah mengatakan kata irji’i yang berarti pulang, artinya kembalilah, pulanglah, jumpai Tuhan dengan rasa puas. Manusia yang beriman dan muthmainnah (berjiwa tenang), berjumpa dgn Allah dengan rasa lega dan puas.

Iman sangat mahal, zaman sekarang untuk mempertahankan iman tidak mudah, salah satu penyebab orang menjadi munafik karena mengejar dunia. Membeli kesesatan dengan menjual hidayah. Dalam surat Al-Baqarah ayat 16 dikatakan: Ulaaikalladzi nasytarawudh dhalalata bil hudaa, famarabihattijarathum wama kanuu muhtadiin, mereka itulah yang membeli kesesatan dengan petunjuk. Maka perdagangan mereka itu tidak akan beruntung dan mereka tidak mendapat petunjuk.

Mulai malam ini kita azamkan mudah-mudahan Ramadan kali ini jauh lebih baik dari kemarin dan kita mampu mencapai derajat takwa.

Adapun dalil kita untuk melaksanakn salat tarawih sebelas rakaat berdasarkan hadis: “Nabi Saw. tidak pernah melakukan salat sunah pada Ramadan dan bulan lainnya lebuh dari sebelas rakaat. Beliau salat empat rakaat dan jangan engkau tanya bagaimana bagus dan indahnya. Kemudian beliau salat lagi empat rakaat. Dan jangan engkau tanya bagaimana indah dan panjangnya. Kemudian beliau salat tiga rakaat (witir),” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Nabi juga mencontohkan salat sunah iftitah melalui hadis berikut ini:

Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Apabila salah satu di antara kamu mengerjakan salat Lail, maka bukalah salatnya (salat Iftitah) dengan dua rakaat yang ringan (pendek) (H.R. Muslim).

#Ramadan1stDay

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya: Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Bisa dihubungi melalui surel medicus_84@yahoo.com.

5 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.