my world

Memaknai Empati

Aku belum seutuhnya menjadi orang yang penuh empati, tapi aku optimis segalanya bisa dipelajari dan diasah bertahap, karena itu aku ingin tetap menjadi seorang pembelajar. Belajar pertama itu adalah merendahkan hati. Sebagai perempuan yang sudah menjadi ibu selama lebih dari satu dekade, terkadang melihat ibu muda yang ‘gegap gempita’ dengan polah tingkah anaknya yang lucu dan merasa sudah memberikan segala yang terbaik buat anaknya membuatku bercermin, ah, hampir sama seperti aku dulu di tahun-tahun awal memiliki anak. Namun untuk mengkritisi walau dengan niat sebaik apa pun, saat ini aku sering menahan diri. Justru setelah 14 tahun menjadi ibu dan selalu memulai dari awal lagi membuatku lebih banyak diam dan mencermati.

Tentang ASI dan Sufor

Aku sering kali gatal ingin berkomentar jika masih ada ibu muda yang dengan suka rela menyerah dalam memperjuangkan pemberian ASI untuk anaknya, sementara saat ini sudah banyak ruang belajar bagaimana menghindari intervensi-intervensi lingkungan sekitar untuk mencampur pemberian ASI dan Sufor. Belum lagi saat ini menjadi ibu bisa dengan mudah belajar dari mana saja, mencari dengan memegang navigasi internet secara penuh, ingin mencari ilmu atau sekadar hiburan semata. Namun, komentar tersebut alhamdulillah sampai hari ini hampir tak pernah kulontarkan pada ibu lainnya, kalau tidak diminta saran lebih dulu oleh sang ibu tersebut, aku tak ingin buru-buru menggurui. Karena aku pernah di posisi tersebut, menghadapi intervensi-intervensi dari lingkungan, bibi, mertua kakak, dan mertua sendiri. Terlebih lagi aku menikah ketika sedang menjalani kuliah, semua menyarankan jangan nekat merepotkan diri sendiri, apa mau kuliahnya tidak kelar? Ajarkan bayinya sejak sekarang terbiasa dengan dot dan sufor. Lalu apa yang kubutuhkan ketika itu bukanlah komentar, “Duh sayang sekali kenapa dicampur sufor,” atau “Semakin sedikit isapan semakin sedikit produksi ASI.” Hal lain yang sebenarnya aku sudah tahu atau pun hal baru tapi penyampaian langsung semacam itu sebenarnya tidak banyak membantu. Lihat-lihatlah dahulu kondisi si ibu.

GTM dan Mengajari Adab Makan

Begitu juga ketika GTM. Ibu-ibu sering membawa anaknya berkeliling dengan stroller atau becak dorong keliling kompleks untuk mengalihkan anak agar mau buka mulut lalu menyuapi mereka makan. Anak pertamaku juga sama, aku melakukan hal tersebut. Syukurlah kemudian aku lekas menyadari mengenai adab makan yang harus kita ajarkan sejak usia dini. Saat adik-adiknya lahir dan mulai makan, aku justru tidak ingat lagi anak-anak ini melakukan Gerakan Tutup Mulut, karena aku menyediakan meja kecil atau pun kursi makan, bahkan untuk ganti suasana melantai juga boleh, tapi tidak untuk keliling-keliling sampai nasi di piring tandas.  Tidak juga menyambangi satu kafe fastfood ke warung lainnya supaya ia mau makan barang satu suap. Asalkan anak sudah waktunya makan dan ia juga lapar, insyaallah tetap minta makan.  Aku juga mencoba membuat kreasi beragam bahan di dapur, dengan sedikit usaha, kami tidak lagi harus berkeliling memberikan makan tiga kali sehari. Sebagai ibu aku juga selow kalau ia tak makan nasi asalkan ada asupan karbohidrat lainnya dan berat badannya masih di grafik yang wajar di KMS. Intinya cukup persiapkan diri untuk belajar agar kita tidak panik.

Sebenarnya banyak hal lain yang seringkali jadi perdebatan panjang pendek mengenai kebijakan pengasuhan. Barangkali untuk memaknai empati sesama ibu, ada baiknya aku tak langsung melontarkan komentar atau nasihat mengenai berbagai hal pilihan pengasuhan, kan?[]

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *