cerita ceriti,  Just My Opinion,  my world,  Self reminder

Karier yang Lahir Karena Kecintaan pada Aktivitas Membaca

Sekitar tahun 2009 itu, aku mulai mencoba menggeluti dunia kepenulisan. Sejak kelas tiga SD sebenarnya aku sudah tertarik dengan buku dan mau berlama-lama membaca dan terus mencari sumber bacaan baru. Aktivitas itu memantik rasa bahagia yang luar biasa. Sebenarnya perasaan seperti itu bisa datang dan pergi kemudian dia akan lebih kuat ketika ada sesuatu yang memotivasi. Aku sendiri punya banyak sosok yang sangat membuatku termotivasi untuk terus menekuni menulis dan membaca, salah satunya yang paling membuat semangat itu melejit adalah kakak sepupuku, Kak Yuliani Liputo.

Di tahun 1990-an beliau sudah mulai menerjemahkan buku-buku, di tahun itu aku masih sekolah menengah pertama dan selalu merasa takjub dengan pekerjaan semacam itu, apalagi buku-buku yang diterjemahkan dibaca banyak orang, bukan sekadar jadi konsumsi sendiri atau keluarga. Saat ini Kak Yuli merupakan salah seorang personel kunci di salah satu penerbitan besar tanah air. Kalau aku tak salah, profesinya itu disebut dengan agen naskah. Silakan googling sendiri bagaimana tugas sang agen naskah dan keajaiban yang dihadirkan oleh mereka untuk dunia literasi masa kini.

Awal pandemi lalu, aku sempat melakukan wawancara singkat dengan Kak Yuli. Awalnya diskusi-diskusi ringan seperti biasa, lalu berlanjut terus ke hal yang kupikir sedikit serius, lalu setelah kubaca ulang, sayang sekali kalau diskusi ini hanya kunikmati sendiri. Sebenarnya ini adalah salah satu menu favorit para pegiat dan pencinta literasi. Aku ingin orang lain juga menikmati legitnya sebuah motivasi yang kaya nutrisi.

Oiya, pemilik blog yulianiliputo.com ini sangat humble down to the earth, aku merasa beruntung sekali bisa mengenalnya dan mungkin bolehlah aku merasa begitu bahagia ternyata aku ditakdirkan bertalian darah dengan Kak Yuli sebagai adik sepupu. Aku bahagia walaupun masih begitu jauh ilmu dan pengalaman yang kumiliki.

Kak Yuli sudah bertemu banyak penulis dunia seperti Karen Amstrong dan berdiskusi langsung, menerjemahkan buku-buku bagus dan direkomendasikan di banyak negara. Beliau tentunya menjadi pembaca pertama buku-buku yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Bukan sekadar membaca, tapi Kak Yuli menulis ulang ke dalam bahasa kita, bahasa Indonesia. Awesome!

salah satu buku yang diterjemahkan Kak Yuli

Berikut beberapa petilan dialog kami:

1. Apa buku yang paling berkesan yang pernah Kak Yuli baca? Kenapa?

Kumpulan cerpen Roald Dahl.

Roald Dahl biasanya dikenal sebagai penulis buku anak, ceritanya selalu menampilkan tokoh anak-anak yang diabaikan oleh orang dewasa, anak-anak yang pintar dan banyak akal sehingga bisa membela dirinya sendiri dan memberikan balasan setimpal pada orang dewasa yang menjahilinya. Tapi Roald Dahl juga menulis banyak cerita pendek untuk orang dewasa. Cerpen-cerpennya, seperti juga novel anaknya, memiliki plot yang menyimpan kejutan tak disangka. Ceritanya kadang sadis, melibatkan hal-hal menjijikkan dan tragis, tapi dengan sentuhan humor yang adiktif. Cerpen yang berkesan antara lain “Galloping Foxley” dan “Landlady”. Dari cerpen-cerpen Dahl kita belajar betapa pikiran manusia punya cara untuk menghibur.

– A History of God, Karen Armstrong.  Saya suka buku ini karena Karen Armstrong menuliskan sejarah panjang empat ribu tahun perkembangan ide manusia tentang Tuhan dengan cara yang sangat menarik. Topik besar semacam itu tidak terasa membosankan, karena ia bisa memadukan kisah, mitos, tradisi, dan kutipan-kutipan dari kitab suci sehingga membentuk alur cerita yang mengasyikkan. Membaca buku Karen membuat kita merasa pintar, ingin membaca lagi dan menggali lagi topik terkait.

– Dunia Sophie karya Jostein Gaarder.

Novel ini mengemas pengantar filsafat dalam kisah fiksi. Konsep-konsep dasar dalam filsafat diuraikan dengan cara yang mudah diikuti dan tidak membuat kening berkerut. Tidak berlebihan jika dikatakan bawah novel ini layak menjadi bacaan wajib para remaja yang ingin bisa berpikir sistematis dan memahami filsafat. Sejak pertama terbit dalam edisi Indonesia pada 1996, Dunia Sophie hingga kini masih terus menjadi salah satu buku paling laris setiap tahun.

2. Wah, buku-buku tadi rerata Kak Yuli yang menerjemahkan. Apa dulu Kakak pernah berpikir akan jadi pegiat literasi atau individu yang concern di dunia perbukuan dan menjadi agen naskah seperti sekarang?

Kesenangan pada buku dan membaca adalah sesuatu yang dibina dalam lingkungan keluarga sejak kecil. Tapi waktu itu tidak pernah terpikir untuk menjadikan bidang perbukuan sebagai karier dan dunia yang digeluti secara khusus kelak.

3. Hm, jadi bukan cita-cita sejak kecil. Padahal itu keren sekali, Kak. Terus Aini mau tanya lagi, menurut Kakak, ada tidak korelasinya antara cinta bahasa dengan melek literasi? Maksudnya, apa kepedulian seseorang pada penggunaan bahasa Indonesia yang baik akan berbanding lurus dengan kemajuan literasi?

Pasti ada. Kesenangan pada bahasa muncul dari perjumpaan dengan ungkapan dan ekspresi bahasa yang indah.

4. Kapan Kakak mulai menerjemahkan buku?

Pada awal 1990-an.

5. Awalnya, apa yang memotivasi Kakak memilih aktivitas tersebut?

Bisa mendapatkan beragam bacaan yang sulit didapat, menjadi orang pertama yang membacanya sebelum beredar di masyarakat. Menjalani hobi dan mendapatkan bayaran untuk hal yang disenangi.

7. Menurut Kakak, apa yang harus dilakukan setiap orang untuk meningkatkan kesadaran literasi?

Melihat kenyataan betapa banyaknya orang yang dengan mudah menyebarkan hoaks dan kabar bohong di tengah masyarakat, bersikap reaktif terhadap informasi yang memancing emosi tanpa melakukan check and recheck, mau menggunakan daya nalar yang kritis; mestinya hal-hal semacam itu membuat kita sadar bahwa kemampuan kita membaca dan memahami bacaan masih sangat dangkal. Literasi mendewasakan cara berpikir, membuat kita lebih kritis terhadap bacaan, tidak mudah terpancing emosi oleh informasi yang berseliweran.

Kesempatan yang baik bagi orang tua menumbuhkan kesadaran ini pada anak-anak adalah dengan menyediakan waktu membacakan buku di rumah bersama anak sejak kecil. Jadikan waktu itu sesuatu yang menyenangkan sehingga mereka akan menumbuhkan persepsi bahwa buku dan kegiatan membaca buku itu adalah sesuatu yang menyenangkan, bukan aktivitas paksaan yang membosankan. Ketika sudah masuk usia sekolah, sering kali kegiatan membaca berubah menjadi “tugas” yang memberatkan dan membosankan.

8. Melihat saat ini dunia literasi juga terdampak langsung oleh pandemi, kira-kira hal apa yang harus dilakukan agar bisa memperbaiki keadaan?

Saat ini banyak hal baru yang terjadi. Banyak waktu dilewatkan di rumah bisa digunakan untuk menulis diari, buat catatan tentang perubahan yang dialami. Toko buku dan perpustakaan tutup. Jadi banyak kesempatan di rumah untuk membaca tumpukan buku yang sudah dibeli tapi belum dibaca. Keluar dari masa pandemi, insyaallah, kebiasaan baru sudah terbentuk, lanjutkan kegiatan menulis dan membaca.

9. Terakhir,  Aini minta sedikit saran bagi pegiat literasi, terutama yang perempuan.

Mulai dari diri sendiri, jadikan diri sebagai contoh atau model untuk anak-anak dan lingkungan sekitar, dengan memperlihatkan kebiasaan-kebiasaan baik, mencermati berita, bersikap kritis dengan apa yang dibaca.

Terima kasih banyak, Kak Yuli, terima kasih sudah menginspirasi![]

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *