cerita ceriti,  my little angels,  my world,  Self reminder

Membangun Cita Bersama Cinta

Beberapa hari ini walau kurang sehat, tapi mood-ku membaik. Seminggu tepat Eun Yud ke luar kota membuat kami semua timpang tak berimbang. Maklum, terlalu terbiasa dibantu atau dimanja, dua hal yang nyaris sama tapi sebenarnya berbeda. Minggu itu cukup berat ditambah lagi ada peristiwa tak enak terjadi di seputar kawasan tempat kami tinggal, sekitar 100-an Napi yang kabur dari Lapas membuat kami was-was. Bersyukur pada Allah, Eun Yud sudah memboyong kami ke tempat yang tepat, di lingkungan ini setidaknya kami merasa sangat aman dengan kesiap-siagaan warga kompleks dan seluruh perhatian seperti layaknya keluarga sendiri.

Hari ini selepas menjemput anak-anak dari sekolah, aku menyarankan agar membawa anak-anak ke luar jalan-jalan sebelum Sabtu Minggu datang. Anggaplah ini sebagai akhir pekan karena dua hari itu akan sangat crowded untuk bisa menikmati suasana kota. Setelah belanja keperluan bulanan seperti beras dan minyak, kami membeli nasi bungkus dan makan malam di Taman Krueng Daroy terletak di Jalan Teuku Umar, Setui. Masih ditingkahi debat-debat kecil Akib dan Biya yang sekarang lebih banyak bentroknya ketimbang akur, akhirnya kami bisa makan malam setelah melaksanakan salat Isya di masjid seberang taman tersebut.

                Aku teringat kutipan Ibu Septi tentang kata KITA; ketika dua individu yang berbeda membangun rumah tangga, memperbanyak proses bermain bersama, ngobrol bersama, beraktivitas bersama, maka sudah tidak ada lagi kata AKU dan KAMU, yang ada hanya KITA. Agaknya proses ini terus berjalan perlahan. Namanya juga proses, kan ya? Tentu ia butuh waktu.

Sekitar tiga hari lalu aku juga sakit, setelah sebelum berangkat Eun Yud memastikan aku sehat, tapi kukatakan telingaku terasa penuh dan tak nyaman, tenggorokan juga perih, tapi aku masih bisa tahan. Artinya aku ingin ia fokus saja dengan keberangkatan yang saat itu tinggal dua hari lagi. Namun Eun Yud memilih menyelesaikan keluhanku dulu, sorenya langsung dicari tempat praktik dokter THT yang kira-kira tidak butuh mengantri lama. Anak-anak dititipkan sementara dengan Uncu—adikku—lalu setelah memastikan aku baik-baik saja, esoknya ia berangkat. Sepulangnya dari Jogja ternyata tenggorokannku belum membaik, Eun Yud kembali mengantarku ke klinik terapi gigi dan mulut seperti saran dokter THT tempo hari, aku harus membersihkan karang gigi.

Anak-anak tahu kondisiku tidak begitu fit dan bolak-balik bertanya apa aku sudah baikan. Jadi terharu kalau mengingatnya. Apalagi si tengah Biyya anaknya cukup ekspresif. Akib yang selama ini terlihat careless-pun ternyata sangat tahu apa yang harus dilakukan ketika ayahnya pergi, bagaimana pula sikapnya saat aku sakit.

Dalam situasi yang seperti ini, Eun Yud sudah memberikan keteladanan perhatian yang luar biasa, sekaku apa pun dia. Walau ia selalu diklaim oleh kami sangat tidak ekspresif dan wajah yang bawaannya sangat serius itu, terkadang memberatkan penghakiman bahwa selera humornya tidak tinggi. Aku sering mencandainya bahwa sebenarnya aku lelah memberikan les privat berbahasa ekspresif atau menjadi pasangan romantis untuknya. Namun itu murni sekadarcandaan, aku sebenarnya tipikal orang yang tak nyaman juga kalau harus memiliki pasangan terlampau ekspresif, terutama di depan umum. Sekenanya dan sewajarnya saja.

Kami yang memilih meretas jalan belajar dari pembersatuan individu ini, bukan tak pernah goyah dan goncang. Terutama tantangan pengasuhan yang semakin tinggi, membuat diskusi alot sering terjadi. Namun kami percaya asalkan landasan-landasan yang telah dibangun cukup landai, kuat, dan baik, dengan kehendak Allah kami pasti mampu membangun cita dalam cinta. Kini sembari memperbaiki diri, belajar berbenah dan menuntaskan misi setahap demi setahap, asalkan ada ketetapan hati untuk mengadap pada-Nya. Keyakinan harus terus dipupuk.

Dalam upaya menjadikan aku, kamu, mereka, dalam sebuah kata KITA, inilah yang belakangan kami lakukan. Setiap keluarga punya caranya masing-masing. Sudah sepatutnya kita sibuk dengan keluarga sendiri dan tak perlu sibuk menilai apalagi berkomentar tentang keluarga orang lain untuk bisa membangun cita dengan cinta. Menghabiskan waktu bersama tak perlu mahal, rumah kita juga bisa cukup mewah untuk acara berkumpul. Akib sendiri sudah mulai paham arti bersama, bukan di mana dan melakukan apa, tapi bersama siapa.

 

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *