my world

Mempersunting Empati

“Kebayang, nggak, sih? Keluhan dia itu selaluuuu pas aku capek. Baru pulang kerja, eh, pas lembur akhir bulan pula!” Sembur Alfa setelah menyesap es cappucinonya sekali.

“Yang dia keluhkan itu segala sesuatu yang emang udah jadi kodratnya. Ya, namanya juga perempuanlah. Memang lemah, sih. Sakit punggung, capek menggendong bayi, nggak nyenyak tidur semalam karena bayi bangun! Huft!” Dengus Alfa lagi.

“Kesal sama istri kok begitu banget…” Akhirnya walau malas, Umair menanggapi juga. Ada sesal dalam hatinya kenapa memilih bangku di depan Alfa tadi saat jeda kantor siang.

“Iya, sejak dulu begitu. Keluhannya itu nggak ada kurangnya. Lagian semua tentang dia, terus salahku di mana? Coba ya, seolah perempuan lain nggak merasakan apa yang dia rasa. Capek mengurus rumah, memasak. Ya, namanya perempuan kan udah kodratnya begitu. Apa dia kira kita nggak capek kerja, apa dia pikir di kantor duduk-duduk minum kopi?”

“Lah, kamu sedang duduk minum kopi, nih!” Sela Umair.

“Huf, susah memang! Menyebalkan,” lanjut Alfa tak peduli dengan apa yang disela Umair. Tentang dia yang disangka duduk santai minum kopi dan kenyataannya memang benar.

“Menurut aku…kamu tuh perlu istri baru.” saran Umair sambil tersenyum penuh arti.

“Hah? Nggak sangka kamu kasih ide seperti itu. Hm…jauh banget, sih, itu pikiran.” Alfa mulai menggeser duduknya. Hidungnya kembang kempis. Dia merasa mendapat sedikit angin surga setelah semua teman lain tidak begitu menyukai dia di kantor karena sifatnya.

“Nah, menurut aku tuh, istri baru yang paling cocok … sebentar…”

Alfa merasa takjub, bukan hanya saran, ini benar-benar solusi konkret, pikirnya. Dia menunggu kejutan lanjutan dari Umair.

“Ini, nih…namanya…” Sambil menyodorkan buku catatan kecilnya yang tadi diselipkan di dalam kantong jas kerjanya.

“Empati…” Gumam Alfa membaca..

“Yap, benar. Kamu tuh, harus menikahi empati. Biarkan dia benar-benar dekat dengan kamu, pahami dia, perhalus rasamu..”

“Ah, sok filosofis kamu, tuh!”

“Bayangkan ya, Al. Dia itu istri kamu, buat apa kamu sampai misuh-misuh dan menyebut satu per satu salahnya dia? Memang sebagai suami kamu sudah sempurna? Kedua, kalau memang kamu bicara kodrat ya… kodrat perempuan itu setahuku melahirkan dan menyusui. Kalau masalah dia memasak, mengurus anak, itu kita juga bisa. Eh, kayaknya itu bukan kodrat perempuanlah.”

Alfa mulai mengernyit, ia masih tidak setuju dengan apa yang disebutkan Umair.

“Aku ingin tahu, Al. Apa kamu bisa menemukan poin-poin yang kamu sebutkan tadi di hadis atau Al-Qur’an? Setahuku tuh, ya, tidak ada ayat yang menyatakan kalau kodratnya perempuan itu memasak. Hai, perempuan, diwajibkan atas kamu memasak…eh…kayaknya nggak ada tuh, kan?”

Alfa masih mendengarkan dengan wajah tak suka.

“Nah, malah ni suami itu diwajibkan memberi nafkah, sandang, pangan, dan papan. Kita ini nih, yang harusnya menyediakan pangan atau makanan. Bukan cuma sandang atau pakaian, papan tempat tinggal, tapi juga makanan…nggak dibilang makanan mentah, nggak dibilang beras begitu. Disebutkan pangan berarti sudah siap santap, dong.” Terang Umair panjang lebar.

“Ah, kamu makin nggak bener aja, di mana-mana, tuh, istri yang masak!”

“Iya, bener. Tapi itu bukan karena kewajiban dia kan? Itu karena kerelaan. Toh hidup berumah tangga bukan sekadar tunaikan kewajiban dan perkara hak, tetapi juga kerelaan kedua belah pihak. Sebuah seni yang membuat keduanya nyaman dan bertahan hingga akhir hayat. Kalau kami tahu tuh, ya, kewajiban istri yang disebutkan itu cuma satu. Kamu kaji lagi, deh, toh Al-Qur’an itu kitab suci kita, kan? Biar dikata aku sok bijak atau apalah…terserah, deh!”

“Kamu enak bicara…coba ya, kalau kamu punya istri kerjanya mengeluh saja, lalu kalau istri kamu tahu itu tadi, kamu bilang apa? Nggak wajib masak dan mengurus anak…lalu istri kamu ogah-ogahan, mau santai aja…kapok, deh, kamu!” Sengit Alfa geram.

“Yah, istriku sih, nggak akan begitu, Al. Karena walau bukan kewajibannya, dia nggak ujug-ujug ninggalin semua kegiatan itu…karena kami saling paham, berumah tangga itu bukan perkara menunaikan kewajiban dan menuntut hak. Lagi pula, sudah beberapa bulan ini dia bebas tugas.”

“Bebas tugas?” Kejar Alfa mendadak kepo.

“Makanya…aku bilang juga apa, Alfa, kamu seharusnya belajar berempati. Sudah, ya, jam istirahat habis. Aku mau balik.” Pungkas Umair sambil membereskan pulpen dan buku kecilnya. Ia merogoh kantongnya membayar minumannya ke kasir.

Bukan tanpa alasan ia melayani Alfa yang dikenal teman-teman kantor sangat egois. Bayangan almarhum istrinya yang baru berpulang sekitar tiga bulan lalu membuat dadanya sesak. Namun ia kerap menghibur diri, Allah lebih menyayangi istri dan bayi merahnya.

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *