cerita ceriti,  Just My Opinion,  my world,  Self reminder

Menananti Larik Pelangi (Sebuah Muhasabah Diri)

Bukanlah larik pelangi hadir setelah rinai hujan? Sebuah pertanyaan retoris yang muncul jika sewaktu-waktu aku mulai bosan dan lelah berproses. Paling tidak, hal itu akan menguatkan dan memotivasiku meluruskan niat dalam berbuat sesuatu.

Banyak hal yang di tengah jalan mengajakku terdistraksi, membuat diri ini terkadang mulai membanding-bandingkan hal yang tak sepadan. Padahal sudah tahu bahwa yang dibandingkan ‘it’s not apple to apple‘, sama sekali tidak relevan dan tidak pula berfaedah. Bukankah ada yang lebih bermanfaat seperti mengevaluasi Ramadan tahun ini dengan tahun lalu?

Ramadan kali ini waktu lekas melesat, tentu aku kaget setengah sedih juga. Untuk ibadah mahdah, bisa dikatakan sangat minimalis untuk tahun ini. Begitu juga dengan program bersama keluarga inti. Ramadan kali ini, biarlah menjadi momen berpuas-puas dengan keluarga besar. Tak ada jurnal Ramadan untuk ketiganya, baik Akib, Biyya, maupun Faza. Tidak ada duduk tadarus melingkar dan family forum. Kami benar-benar asyik masing-masing. Biyya dengan sepupu yang usianya sepantaran, Faza juga begitu, aku disibukkan dengan Kareem dan pekerjaan menyunting naskah, mengobrol dengan abang, kakak, dan orang tuaku. Lalu apa lagi?

Kepulangan kami ke kampung halaman memang tiba-tiba, tapi sudah terbesit juga angan ingin membuat progam Camp Ceria Ramadan seperti tahun-tahun lalu. Namun waktu terasa begitu pendek, belum lagi alasan ini itu yang sebenarnya hanya sekadar melegalkan rasa malas bercokol di dalam dada.

Ramadan kali ini memiriskan hati. Memang terasa sesak jika ingat bahwa tak ada dari kami sekeluarga yang khatam bacaan Al-Qur’an-nya tahun ini. Aku yang harusnya menjadi contoh, bahkan sudah menyerah di tengah jalan. Dengan banyaknya deadline, dengan sempitnya waktu, menyerah dengan keadaan bahwa aku harus jauh lebih santai dan tidak ngoyo karena puasa sembari menyusui Kareem.

Namun aku juga berusaha tetap optimistis, setiap detik ke detik berikutnya aku, kita semua pasti diberi kesempatan untuk berbenah. Sebesar itu neraka, Allah lebih Maha Pengampunan, surga Allah seluas langit dan Bumi. Semoga Allah mengampuni diri ini dan kemudian bisa menatap kembali larik pelangi.[]

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pecinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *