cerita ceriti,  Fiksi,  my world

Menanti Hujan Mereda

Kicauan sudah lama pergi, hujan belum reda-reda pagi ini. Entah apa lagi yang dinanti selain aroma melati yang kandas disaput angin kencang. Tenda tempat berteduh kendaraan ruyak tempo hari. Angin jarang bisa dihalangi menemani hujan tiap kali ia hadir.

“Bersiaplah, kita harus menembus hujan,” katamu dengan tangan masih bersedekap dan dagu terangkat menyaksikan langit yang masih gelap.

“Kenapa kita tidak menunggu sekejap lagi, barangkali hujan reda. Paling tidak tinggal rinai saja, jadi kita tak terlalu kuyup sampai di sana,” saranku.

“Kenapa takut? Ini hanya air,” katamu beralih menatap mataku.

“Bukan. Air tak pernah membuatku takut, tapi aku tidak mau basah kuyup,” sergahku lagi.

“Apa bedanya takut dengan tak mau menghadapi?”

Kau tak bisa terlalu lama menatap mataku, lontaran pertanyaan itu seolah kau tujukan ke jeruji jendela. Entahlah, mungkin saja pada hujan di luar sana. Jadi, aku merasa tak perlu menanggapinya.

“Sesuatu yang kau takutkan membuat kau tak mau menemuinya, mendapatinya, memandangnya, melihatnya, merasakannya, berkelindan di dalamnya,” sambungmu panjang mengular.

“Kau sudah menjawabnya dengan persepsimu sendiri,” ujarku sembari mengembuskan napas lega.

Kuedarkan seluruh pandanganku di ruangan yang tak terlalu luas ini. Sofa otoman yang kududuki membuatku kurang nyaman karena tak punya sandaran. Tadi, baru saja kau duduk dengan badan tegak, kaki terbuka di sebelahku. Apalagi yang kuinginkan selain itu. Bahu lebarmu untuk bersandar. Menyaksikan hujan yang tak reda, kau bangkit ke samping jendela. Menengadah ke langit abu-abu.

Akhirnya aku menyusulmu berdiri di samping jendela. Hujan belum reda membuatku akan mati karena bosan. Teh hangat dan biskuit tidak lagi menggantikan.

“Buat apa tenda-tenda rusak itu nantinya?” tanyaku tak perlu.

“Aku belum tahu,” jawabmu.

“Lihat, motormu seperti menikmati hujan,” kataku semakin ngawur.

Kau mencari manik mataku seolah meyakinkan diri dengan apa yang kau dengar. Aku memang sedang mengatakan hal yang tidak berguna.

“Aku senang kau sekarang bisa berdialog dengan siapa saja, termasuk motor ringsek di bawah parkiran darurat yang kubuat itu,” katamu tersenyum.

“Kau membuatku merasa ngeri,” gumamku sedikit menggeligi.

Seperti biasa kau tidak tertawa, hanya tersenyum dengan binar mata. Rintik deras menjadi rinai. Turun halus seperti jarum-jarum menghunjam ke tanah.

Aku yang pertama sekali membuka pintu dan mendapati dua mantel tergantung di dinding yang dibuat menjorok ke depan. Kau buat dua paku menonjol di sana untuk menggantung sesuatu.

“Mantel ini sobek…” kataku sembari membuka mantel berwarna ungu bermotif polkadot putih.

“Kenapa bisa?” tanyamu seperti tidak begitu peduli.

“Aku juga tidak tahu,”

“Pakai saja, selebihnya kau boleh masuk dalam mantelku di belakang nanti, kupastikan kau tidak akan basah,” katamu tersenyum menenangkan.

Kau menyalakan sepeda motor dan menoleh sekali ke belakang memberikanku tanda bahwa aku sudah boleh naik dan bersembunyi di belakangmu. Kita menembus rinai hujan menuju tempat keabadian.

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *