cerita ceriti,  my world

Menasehati diri sendiri

FB_IMG_1459812660254

 

Membaca adalah salah satu caraku untuk menasehati diri sendiri, menghindarkan diri dari keras hati.

Semasa sekolah banyak teman yang baik, menurutku shaleha, menjaga salat dan mengajinya. Begitu juga ketika kuliah, Allah Maha Baik masih menganugerahi teman-teman yang serupa. Mereka selalu menasehati ketika melihat ada seseuatu yang tidak baik, insya Allah selalu dengan cara yang baik pula..

Ketika aku menikah, sebagaimana Abak dulu, Eun Yud lah yang mengingatkan aku akan banyak hal. Terus terang, sebaik apapun cara orang lain mengkritik kita pasti ada rasa tak suka yang kita rasakan. Terutama jika dinasehati di depan orang banyak dan ada pula yang tidak begitu dekat turut andil meluruskan kita.

Sejauh ini tidak sampai ada yang begitu menyakiti hati saat menasehatiku. Aku menganggap semua atas dasar rasa sayang saja. Semoga anggapanku benar.

Aku dan Eun Yud saling mengisi dan melengkapi. Ketika sudah memiliki anak, aku merasa teko-teko kami begitu kosong. Yang aku pelajari selama ini adalah mengenai dunia veteriner dan bacaan kegemaranku seputar bakteri, virus, dan protozoa. Sesekali novel, kajian harian dan majalah-majalah random, lalu beberapa komik. Diskusi-diskusi bersama Eun Yud mulai mentok. Kami juga sering membeli beberapa buku pasutri dan ada sedikit mengenai parenting di sana. Berkelanjutan, akupun mulai belajar mengenai pengasuhan-pengasuhan dari berbagai diskusi, berbagi pengalaman, dan seminar (tidak banyak).

Jadi memang pengalaman adalah guru terbaik, tapi buku-buku yang baik adalah guru yang tak kalah baik, membaca lembaran-lembarannya adalah sebuah usaha untuk menuju perbaikan. Mengingatkan kita akan kelalaian dan mengisi teko-teko kosong dengan ilmu yang bermanfaat.

Aku mengamati Eun Yud bukanlah orang yang punya target bacaan seperti beberapa teman yang aku temui. Aku bertemu Eun Yud di toko buku terbesar di Banda Aceh pertama sekali, tapi dia bukan kutu buku. Aku bersyukur ia masih bisa digolongkan predator ilmu. Anggap saja begitu. Bagaimana dia kerap memaksaku bercerita tentang buku yang baru kelar kubaca. Transfer ilmu tepatnya.

Sampai hari ini teko kami masih terlalu sedikit terisi. Kegiatan harian menguras banyak waktu. Tapi menyempatkan diri tetap menasehati diri adalah sebuah usaha tidak terjerumus kepada kekosongan hati dan akhirnya terisi dengan berbagai hal tak perlu lalu membuat hati kita membatu. Bagaimana mau menerima nasehat jika  hati sendiri tak membuka? Di sela sibuknya dunia, siapapun kita, sempatkan menasehati diri. Kalau bukan kemauan yang keras dari diri sendiri, lalu siapa lagi? Aku jadi ingat salah satu kutipan yang pernah kubaca, “jika kamu tidak bisa menulis menyebarkan kebaikan untuk orang lain, maka membacalah untuk memberikan kebaikan bagi dirimu sendiri”.

Sudahkah menasehati diri sendiri hari ini?

FB_IMG_1460084121441

 

 

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *