my world,  Parenting

Menatap Binar Mata Sang Pembelajar (Cerdas Finansial Hari ke-7)

Lihatlah Biyya, betapa ia berjuang untuk belajar dan bisa. Terkadang aku malu pada anak kecil yang mau berjuang lebih keras dan merasa kalau ternyata aku masih sering dikalahkan oleh rasa malas untuk belajar.

Dengan adanya tantangan kali ini, aku juga punya diskusi harian dengan Akib dan Biyya mengenai apa yang mereka beli hari ini. Terkadang jadi malah bercerita momen-momen penting atau suka duka mereka di sekolah hari ini.

Oiya, Akib sendiri tidak terlalu kupaksakan karena sebagai disleksik, aku bisa merasakan betapa sulitnya beradaptasi di lingkungan barunya itu, Akib harus berjuang keras dengan teman, guru, dan staf di sekolah yang menurutnya tidak lebih bagus dari sekolahnya yang dulu. Ia cenderung membandingkan segala hal, kadang-kadang sampai tak masuk akal.  Yah, sudah lumrah seperti ituditambah dengan kepribadiannya yang unik.

Faza sendiri mulai belajar hal kecil, mana yang bisa dibeli sekarang atau nanti. Ia berkeliling mencari siku besi dengan ayahnya. Singgah ke salah satu supermarket dan ia sumringah melihat banyak sekali mainan menarik. Ia hanya pulang membawa susu kotak karena haus, lainnya ia berkata pada ayahnya “nanti aja kita beli mainan mobilan, ya.” Sampai di rumah ia bercerita kalau melihat banyak mainan bagus. Ada robot dan ada mobil, lalu setelah bercerita ia juga bilang, “nanti aja beli mainan kayak gitu ya, Nda.”

“Iya, karena Adek masih punya banyak di rumah. Belum perlu lagi, kan?” tambahku dengan senyum-senyum gemas.

Faza yang masih tiga tahun juga belajar menunda keinginan dan ia tahu untuk membeli sesuatu menggunakan uang. Sampai di situ saja materi belajar Faza. Ketika kami tahu ia memahaminya, jadi merasa gemas dan lucu. Dengan wajah dan mata berbinar ia ikut belajar bersama kami. Lihat, Faza pun mau belajar, lalu kenapa aku masih ogah? Hehe…

Kami tidak berniat mengajarkan mereka pelit, walau terkadang tidak sanggup melihat matanya yang menginginkan sesuatu, tapi menjadi orang tua adalah sebuah pilihan dengan konsekuensi tinggi dan mestilah tega(s). Tegas? Kami bukan pribadi yang sempurna atau pun mendekati, masih jauuh dari kata itu, maka dengan kesadaran penuh kami ingin belajar bersama.

Yakinlah anak kita tidak akan menjadi orang yang pelit. Bukankah di awal kita tanamkan rezeki itu dari Allah. Minta apa saja dari Allah, jangan ujug-ujug minta sama ayah dan bunda. Lalu tentang rezeki mana yang abadi, yaitu yang kita tabung untuk akhirat kelak. Hingga mengingatkan bahwa di setiap rezeki yang kita dapat, ada hak orang lain di sana. Menikmati rezeki dari Allah harus bijaksana dan penuh syukur. Orang yang bersyukur akan ditambahkan rezekinya oleh Allah.

#Tantangan10Hari
#Level8
#KuliahBunsayIIP
#RejekiItuPastiKemuliaanYangDicari
#CerdasFinansial

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *