cerita ceriti,  Kuliah Bundsay IIP,  my little angels,  my world,  Self reminder

Mencari Permata dalam Binar Mata (hari IV)

Hari 4 (20 Mei 2018)

Game Level 7 Kelas Bunda Sayang 

Biyya paling bisa diandalkan dalam menyelesaikan persoalannya denga teman. Kali ini di Camp Ceria Ramadan (CCR) Biyya bertemu lagi dengan Noni (Suha Rakata), seorang homeschooler yang percaya diri dan cerdas. Dominasi Biyya akan terwarnai oleh Noni. Aku sebagai ibu sudah mengamati Biyya sejak awal. Ia terpaksa sedikit mengalah dalam mengatur teman-teman dan tertinggal beberapa langkah.

Membuat tempat pensil dan crafty lainnya seperti Noni. Dia sangat ingin. Di antara dua saudaranya yang lain, Biyya sangat menonjol jiwa kompetisinya. Ia yang dengan senang hati belajar dari sesuatu atau seseorang yang mampu melebihi dirinya. Tapi risiko anak seperti ini tentu ada riak di hatinya. Seperti iri dan cemburu. Biyya suka megakui hal semacam itu secara blak-blakan kepadaku. Seringkali aku terkejut dengan hatinya yang meradang sedih. Duh, agak bahaya, pikirku,

Sebab aku kurang berpengalaman dengan anak yang memiliki jiwa kompetisi. Akib tidak punya hal ini hingga ia sudah memasuki SMP pun itu tak pernah terjadi. Ia sibuk dengan dirinya dan pencapaiannya sendiri. Kalau ada teman yang ia rasa melebihi dirinya, ia sangat santai. Kalaupun akhirnya ada temannya yang suka show off di sana barulah dia Curhat kepadaku mengatakan tak suka. Itu juga tidak memancing ia menjadi hebat versi orang-orang. Pokoknya santai sekali, ia tak punya jiwa bersaing, justru malas kalau mulai bersaing. Kurasa persis seperti diriku. Jadi saat Biyya hadir dengan jiwa kompetisi yang dibawanya, aku canggung.

“Biarlah, Nak. Biyya dalah Biyya, kalau si A tetap Si A. Dia punya kelebihannya sendiri.”

“Iya, tapi Biyya juga bisa kayak gitu. Nggak suka Biyya si A itu bilang Biyya nggak bisa…”

Hahaha…. baiklah, baiklah, oh Tuhan! Kadang memandang dengan kacamata Biyya teramat sulit bagi ibu yang sangat tidak suka persaingan seperti diriku. Pernah aku keceplosan “Ya Allaah..barangkali hati Biyya ini nih, belum bersih. Kita nggak boleh iri begitu.” Tapi aku akhirnya menyadari kesalahanku. Bukan hatinya yang tak bersih api aku saja yang tidak paham bagaimana mengendalikan potensi jiwa kompetisi Biyya yang memang sudah ada ke arah yang lebih positif.

Jadi, hari itu untuk menenangkan dirinya, Biyya mengambil peralatan sendiri mebuat tempat pensil dan tabungan sendiri. Hasilnya membuat dia puas dan merasa bahagia. Setelah tenang, ia kembali bergabung dengan Noni dan teman-teman lainnya. Ia juga sudah lega karena bercerita padaku bahwa hasil karyanya selalu dikomentari negatif karena tidak rapi dan apik seperti milik Noni.

“Kak Noni selalu ejek yang Biyya buat.” Keluhnya.

“Nggak apa-apa, itu bukan mengejek tapi maksudnya baik supaya karya Biyya bisa lebih bagus seperti milik Kak Noni. Jadi kalau Biyya susah hati, jawab aja..iya, Kak, karena Biyya belum sering latihan kayak Kakak. Nanti kita beli perlengkapan dan coba lagi di rumah, ya.” Bujukku.

Biyya juga seorang fast learner, dulu ia diajarkan sekali membuat slime  oleh Putroe, temannya. Setelah itu dia nyaris tak pernah gagal membuatnya kembali di rumah tanpa bantuan dariku sama sekali. Aku hanya membeli bahan bakunya, ia membuat dan membereskan tempat sampai selesai dan rapi.

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *