Mencari Permata dalam Binar Mata (Hari IX)

Hari ke-9 Tantangan Game Level 7

Semua Anak Adalah Bintang

Hari 9

Tanggal 1 Juni 2018 menjadi hari bersejarah buat Akib. Ia melaksanakan khitan di Klinik Meurasi Lambaro. Sebenarnya aku ingin menuliskan satu catatan mengenai hari ini, tapi ada baiknya sebelum itu, aku menyelesaikan tugas Game Level 7 ini terlebih dahulu.

Apa yang aku amati hari ini bukanlah Akib yang telah baligh, tapi lebih kepada ketangguhan Biyya mengawal sang Abang selama ia dalam keadaan tidak sehat dan tak mampu beraktivitas seperti biasanya.

Biyya sangat protektif, bertanya bagaimana rasanya. Aku memperisapkan obat yang sudah diberikan dokter, Biyya pun memerhatikan. Ia sangat antusias dengan apa yang aku kerjakan dan proses merawat Akib pasca khitan ini diamati Biyya dengan saksama.

Beberapa jam berikutnya tugasku sudah digantikan olehnya. Ia meletakkan susu segar kesukaan abangnya. Mengambilkan gelas, menuangkan denga telaten dan memberikannya ke Akib. Sore hari juga saat aku mempersiapkan bukaan di rumah, Biyya dengan cekatan mengambil sepiring nasi dan mengutamakan Akib untuk makan lebih dulu. Beres sampai sedetail-detailnya.

“Abang mau telur dadar?” Tanya Biyya yang dijawab dengan iya oleh Akib. Biyya segera ke dapur dan memintaku menyambikan satu biji telur dadar buat abangnya. Biyya yang menyanduk nasi, menyiapkan air putih dalam gelas abu-abu Akib.

Akib tentu mendapat banyak ‘salam tempel’ dari Uci, Uncu, Ummi, dan Mama, ia tidak lupa membaginya dengan Biyya. Biyya jadi ketiban rejeki juga dan langsung membeli Squasy yang sudah lama diinginkannya. Biasanya aku tidak serta merta meluluskan keinginan anak-anak. Aku ajarkan mereka menunda keinginan, membedakan keinginan dan kebutuhan.

Bagiku Biyya sejak 5 tahun, ketika duduk di TK, adalah asisten yang paling ‘connect’ dan ‘valuable’. Ia sangat membantu hari-hari kami. Ia sudah paham kapan membeli keinginannya dan tahu membedakan kebutuhan dan keinginan. Ia berjuang sendiri untuk hal-hal yang tidak penting tapi sangat diinginkannya. Tercatat juga dulu ia membeli sepedanya seharga Rp1.200.000 dari hasil tabungannya sendiri dan hanya dibantu Ayah Rp.200.000.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *