cerita ceriti,  my little angels,  my world,  Self reminder

Mencari Permata di Binar Mata (Hari VIII)

Akib berangkat ke Pesantren Ramadan dan berpesan agar dijemput cepat hari ini. Sebelum Asar ia sudah dijemput dan ikut ayahnya mengurus paket ifthar di masjid Taqwa. Ia pulang ke rumah sambil membawa bungkusan jatah amil. “Wah, Akib dapat nasi ummat juga, ya?” tanyaku yang dijawabnya dengan anggukan.

Akib baru bisa luwes berteman sekitar kelas empat SD. Tapi ternyata ia cepat sekali belajar. Salah satu strateginya untuk bisa bergabung dan nyambung dengan obrolan temannya adalah membuat lelucon. Akhirnya kapan ada kesempatan, ia suka membuka tautan tentang video-video meme. Tidak semuanya yang ada di sana bisa dipahami dan lucu. Terlebih jika ada sedikit guyonan berbau dewasa. Maka kami selaku orang tua mencoba menemani dan memberikan pengertian.

Akib tidak langsung terima, tapi perlahan seiring dengan waktu ia pun belajar banyak hal dan mulai menyesuaikan diri.

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, dan Faza. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *