Mencari Permata di Binar Mata (Hari X)

Hari 10

Tugas pengamatan hari ini kudelegasikan ke Ayah anak-anak, karena aku harus berangkat ke Tibang untuk menghadiri sesi pelatihan editing bersama guru menulisku. Ayahnya bercerita bahwa Akib duduk tenang dan sabar. Ia dibolehkan kembali membuka laptop dan menonton tutorial.

Ayah mengawasi saja dan melihat kesadaran dirinya akan waktu-waktu tertentu. Misalnya kapan waktu untuk berbenah, membersihkan diri, waktu salat, dan waktu makan. Ia juga mengoles obat salepnya sendiri. Justru saat sakit begini, Akib lebih mau bekerja sama. Ia masih bisa diajak berlogika, bagaimana jika tidak patuh akan anjuran dokter dan Akib terpaksa harus diulang lagi jahitannya. Jadi, latihan kesabaran dimulai dari titik itu.

Bagiku selera musik Akib sangat easy listening. Aku tetap menyampaikan agar ia menggunakan mini speaker  yang dibelikan itu untuk muraja’ah. “Bolehlah sekali-kali Akib dengar musik juga,”  Yah, pada akhirnya kuamatai ia lebih banyak mendengarkan musik di speaker tersebut. Hanya lepas salat Magrib ia muraja’ah sebentar. Dulu saat terapi disleksianya di Putik Meulu Building, Akib sempat diajarkan bermain piano. Lumayan cepat ia mengingat nada dan memainkannya kembali di rumah. Ada keinginan kami untuk mengantarkan atau mencari mentor untuknya, tapi keterbatasan waktu dan biaya membuat kami urung. Kami juga harus memprioritaskan hal lain, seperti keperluan Biyya dan Akib. Memang sayang rasanya, tapi kupikir ini sudah melalui diskusi berlapis dan lama. Pemetaan keuangan keluarga juga menjadi faktor pengambilan keputusan ini.Apalagi Akib sangat membutuhkan latihan-latihan kemandirian, termasuk executive function-nya yang harus kami latih bersama.

Latihan lainnya adalah ketika Akib tahu bahwa ia diberi uang. Ada uangnya disimpan Ayah, atau uang yang disetornya ke Ayah dari teman-teman yang berkunjung. Kami mengizinkan Akib membeli sesuatu yang lama dinginkannya. Sudah ditebak, ia sedang menggilai berbagai jenis mobil. Sering ia minta izin membuka Youtube untuk sekadar melihat-lihat tipe mobil dan spesifikasinya. Barangkali karena dulu ia punya salah seorang teman yang suka sekali bercerita tentang otomotif.

Akib minta dibelikan mobil Lambhorghini, BMW, dan beberapa tipe dan merk ia sebutkan. Jadilah Ayah membelikan miniaturnya di sebuah toko mainan.

Mungkin salah satu hal baru yang bisa kami dalami juga. Misal hobi Akib mengamati mesin-mesin, apakah ia juga mulai menyukai otomotif? Karena kami pun melihat permata di binar matanya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *