cerita ceriti,  Self reminder

Mencari Tetes Embun

Aku bukan tipikal peserta grup WA yang aktif dan rajin membagikan info walau dirasa bermanfaat, lucu, dan menarik. Sebab memang di grup WA sana, ada yang aku sekadar ‘terpaksa’ bertahan demi silaturahmi atau rasa tidak enak pada admin yang telah memasukkanku dan ada pula yang memang kuniatkan hadir untuk menuntut ilmu secara daring. Misal untuk kelas tahsin dan tahfiz, itu juga khusus dengan mentor saja berinteraksinya. Sebab aku berpikir basa-basi di grup WA nantinya akan menyita waktu luring kita bersilaturahmi dengan orang sekitar kita. Kita jadi salah kaprah dalam menjalin silaturahmi. Bukan sedikit yang aktif sekali di grup saling balas obrolan, tapi lari dan tidak tahu mengobrol apa ketika bersua di dunia nyata. Ini memang fenomena generasi digital. Jadi sudah sejak beberapa tahun ini–mungkin sejak puas dua tahunan berinteraksi dengan orang baru di WA–aku tidak suka SKSD dengan teman di dunia maya, terutama teman yang memang sama sekali belum pernah bertemu langsung. Lain halnya grup yang satu sama lain sudah sangat akrab dan sering kopi darat, di sana selain berbagi info yang berhubungan dengan tema grup, aku juga terkadang nimbrung dalam obrolan iseng untuk sekadar ikut guyon, apalagi dengan grup teman dekat sekali. Hahaha. Tak dinyana, ternyata ada juga yang sudah dekat, kurang dekat dan dibuatkan grup WA pula.

Baiklah, dari pengantar yang panjang kali lebar di atas, sebenarnya aku mau menyampaikan apa, ya? Terlebih lagi ini bulan Ramadan. Masa mau sih, mengobrol dan menulis yang kurang faedah atau sama sekali unfaedah?

Begini, kupikir karena Ramadan kali ini banyak kuhabiskan salat tarawih di rumah bersama anak-anak angkat perempuan, karena faktor kendaraan dan kondisiku saat ini lekas lelah sebagai bumil, aku merasa kurang sekali mendapatkan tausiyah dari momen siraman rohani selama 29 atau 30 hari Ramadan. Kalau ketika sehat atau usia sekolah SMP dan SMA dulu, setiap malamnya aku mencatat judul dan resume tausiyah, sampai meminta tanda tangan penceramahnya (ini momen paling epik, mengantre di saat kantuk baru menguap setelah salat tarawih dan merasa semringah kalau tanda tangannya penuh sampai malam terakhir Ramadan), tapi sekarang list semacam itu memang membuatku tersenyum sendiri dan aku memang mulai merasa sangat membutuhkan tetes embun pembersih hati semacam tausiyah minimal seminggu sekali. Akhirnya beberapa waktu ini, ketika membuka grup WA, aku coba membaca tulisan yang dibagikan beberapa orang di sana yang kurasa menarik dan bisa sebagai pengingat diri sendiri.

Satu hal yang biasanya membuatku urung membaca adalah tata bahasanya yang terlalu kacau. Dunia media sosial memang bisa saja menurunkan kemampuan literasi kita jika tak selektif. Mulai dulu ketika masa SMS sedang ‘on fire’ di mana kita butuh menyingkat banyak kata, dicampur antara kapital dan huruf kecil, sampai bahasa alay yang lebih kita akrabi ketimbang bahasa sebenarnya. Memang tidak perlu melulu baki dan kaku, tapi kalau sampai itu membuat kita tak lagi paham mana yang benar, kurasa sangat mengganggu proses belajar hal lain, sebab bahasa adalah kunci mempelajari hal lain, di situlah letak pentingnya melek literasi.

Kembali ke topik awal, tentang tausiyah-tausiyah tadilah intinya. Aku lebih suka membaca daripada menonton, begitu juga daripada menonton video tausiyah di YouTube, aku lebih suka membaca artikel yang berisi tausiyah di blog bahkan di grup WA. Salah satu yang aku temukan berjudul “‘Amilatun Nashibah”, tausiyah singkat ini sudah coba kuedit tanpa mengurangi dan mengubah inti yang akan disampaikan oleh penulis, sangat singkat dan dalam maknanya. Semoga bisa jadi pengingat diri, terutama buatku sendiri.

 

Sumber gambar: google

‘AMILATUN NASHIBAH

Suatu hari Atha As-Salami ra. seorang tabi`in yang mulia, bermaksud menjual kain yang telah ia tenun berbulan-bulan dengan kemampuan terbaiknya kepada penjual kain di pasar. Setelah diamati dan diteliti secara saksama oleh sang penjual kain kawakan tersebut, sang penjual kain mengatakan, “Ya, Atha sesungguhnya kain yang kautenun ini cukup bagus, tetapi sayang ada cacatnya sehingga saya tidak dapat membelinya.”

Begitu mendengar bahwa kain yang telah ditenunnya ada cacat, Atha termenung lalu menangis tersedu-sedu. Melihat Atha menangis tanpa henti, sang penjual kain merasa kasihan, “Atha sahabatku, aku mengatakan dangan sebenarnya bahwa memang kainmu ada cacatnya sehingga aku tidak dapat membelinya, kalaulah karena sebab itu engkau menangis, maka biarkanlah aku tetap membeli kainmu dan membayarnya dangan harga yang sesuai engkau minta.”

Mendengar tawaran tersebut, Atha’ menjawabnya, “Wahai sahabatku, engkau menyangka aku menangis disebabkan karena kainku ada cacatnya? Ketahuilah sesungguhnya yang menyebabkan aku menangis bukan karena kain itu. Aku menangis disebabkan karena aku menyangka bahwa kain yang telah kubuat selama berbulan-bulan ini tidak ada cacatnya, tetapi di mata engkau sebagai ahlinya, ternyata kain itu ada cacatnya. Begitulah aku menangis kepada Allah, karena aku menyangka bahwa ibadah yang telah aku lakukan selama bertahun-tahun tiada cacatnya sama sekali, mungkin di mata Allah sebagai ahlinya, ada cacatnya. Itulah yang menyebabkan aku menangis.”

Kisah di atas mengingatkan kita tentang “Amilatun Nashibah”, yaitu amal-amal yang hanya melelahkan (seperti yang difirmankan Allah Swt pada surat Al Ghasiyah ayat 3), tapi tidak mendapatkan apa pun kecuali api neraka.

Konon sahabat Umar bin Khatab ra. yang dikenal paling berani dan banyak ibadahnya sampai menangis ketika mendengar ayat tersebut.

Ternyata beramal yang banyak dan beragam saja belum tentu membuat kita selamat, apalagi yang beramal sedikit.

Amalan yang banyak dan beragam pun, jika cacat dalam keikhlasan dan kaifiyat (tatacara)-nya yang tidak sesuai dengan sunnah Rasulullah saw. maka akan tertolak. Di sinilah pentingnya terus mempelajari agama, ikut pengajian, dan rutin berkesinambungan agar kita berilmu dalam beramal.

Allahumma innii asaluka ‘ilman naafi’a wa rizqan thayyiba wa ‘amalan mutaqabbala, “Ya Allah, hamba memohon pada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik serta amal perbuatan yang Kau terima.”

Tausiyah di atas ditulis oleh SHL.

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, dan Faza. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *