cerita ceriti,  Self reminder

Mencatat Pengeluaran Hanya Dikerjakan Orang Pelit (Cerdas Finansial Hari ke-4)

Kenapa repot-repot, kekayaan tidak dibawa mati.

Ah, benarkah harta tidak dibawa mati? Bukankah dalam Alquran juga dikatakan ke mana kita belanjakan harta kita kelak akan dipertanyakan. Lalu harta yang kita belanjakan di jalan Allah akan menjadi pemberat timbangan amal kita di akhirat. Nah, lo, ternyata uang juga dibawa mati!

Mencatat pengeluaran secara rinci itu hanya dilakukan orang yang perhitungan, orang perhitungan itu adalah orang yang pelit, orang pelit itu… isi sendiri, kali yaa.

Namun bagi kita yang sudah balig atau pun sudah bekeluarga seharusnya sudah selesai dengan hal penghakiman semacam ini. Merapikan catatan keuangan memang hanya dilakukan orang yang sadar fiansial, orang yang sadar fiansial adalah sebuah langkah menuju kecerdasan finansial. Jika kita sudah cerdas finansial selanjutnya kita akan melangkah menuju mapan fiansial. Karena sejatinya rejeki yang diberikan Allah itu sudah dijatah sesuai dengan kebutuhan hamba-Nya. Kenapa merasa kurang? Tentu ada yang salah dari cara kita mengelolanya. Barangkali kita sibuk mematut gaya hidup orang lain dan menginginkannya pula untuk di diri kita. Padahal bergaya sesuai dengan kemampuan tentu lebih elegan.

duduk di teras rumah Lamteungoh
Uncle Mitch juga pernah menginap dua kali.
Dulu nyaris setiap pekan senyum-senyum ini menghias rumah kami.

Setelah kami mulai mencatat dan merapikan kembali keuangan keluarga secara bersama-sama—dulu Pak Suami seringkali bertepuk sebelah tangan, menjadi tak konsisten karena kadang aku yang lalai merincikan pengeluaran harian dan akhirnya ia pun tak mampu bertahan, terikut arusku yang acak-acakan—akhirnya tidak lagi waswas bagaimana nanti di akhir bulan atau bila ada pengeluaran dadakan.

Lalu apakah setelah mencoba merapikan semuanya lalu simsalabim kami bisa banyak menekan pengeluaran dan jadi banyak tabungan? Nope! Hanya terasa lebih nyaman dan kalau memang jajan dan makan di luar dibutuhkan, kami juga tetap melakukannya seperti biasa. Anak-anak juga tak ada yang ujug-ujug protes dan merasa tiba-tiba ayah dan bundanya menjadi pelit, karena sebenarnya belum ada yang berubah dari pola cash flow keluarga kami bulan ini.

Anak-anak hanya diminta mencatat seperti yang kami lakukan, mereka juga terlibat dalam obrolan-obrolan keuangan seperti Biyya bertanya tentang menyewa atau membeli rumah. Mereka juga tahu status rumah yang kami tempati beberapa tahun belakangan dan saat ini. Misal saat kami tiga tahun menempati rumah milik tempat ayahnya bekerja, lalu menyewa, lalu mengusahakan membeli rumah.

Bagaimana caranya mengambil keuntungan dari jasa penyewaan, hingga bisnis seperti apa yang orang-orang lakoni jika memiliki rumah lebih dari satu, “rumah satunya lagi dikasih buat orang lain, orang itu membayar sama yang punya rumah. Itu yang namanya sewa ya, Bunda? Jadi kita dulu di Lamteungoh sewa rumah.” Begitulah pemahamannya sedikit-sedikit mulai tumbuh.

Biyya juga berminat bertanya apa saja yang bisa disewakan dan apa yang tidak bisa disewakan. Di sisi lain Akib yang tidak tertarik dengan pengelolaan bisnis, bisa asal berkata “Duuh, udah rusak ini pompa kita, ayo jual saja, kita beli yang baru.” Antara kesal—kenapa bundanya harus kesal?—dan ingin tertawa, aku menjelaskan bahwa barang rusak atau yang tidak punya nilai jual tak boleh lagi dijajakan. Barangkali ia melihat kebiasaan kami menjual gawai yang tidak lagi enak dipakai ke Bang Cargo, langganan kami, untuk ditukar tambah.

Akib sering takjub melihat gawai ayahnya yang suka bermasalah kini terlihat baru dan lebih kokoh. Walau sudah kami jelaskan kalau ayahnya harus menambah sejumlah uang yang sepadan untuk mendapatkan gawai yang lebih cocok. Begitulah kami yang lupa menjelaskan secara rinci. Anak-anak hanya menerjemahkan sendiri apa yang ia saksikan.

Kami melanjutkan pembicaraan membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan adalah sesuatu yang tidak bisa ditunda, keinginan adalah sesuatu yang bisa ditunda. Jadi dimulai dari sana kami sama-sama membuat skala prioritas berdasarkan hal di atas.

Menunda keinginan itu salah satunya adalah membeli mainan, karena di rumah sudah cukup banyak mainan.

Bukan saja Akib, kami selaku orang tua pun rasanya mesti berjuang keras menata prioritas semacam ini. Awalnya memang terasa berat, apalagi kalau kita suka cuci mata melihat barang-barang diskon baik online atau pun yang dipajang di etalase toko. Namun ternyata kalau kita mau berproses, insyaallah akan dimudahkan, apalagi jika kita punya niat baik ingin menyelesaikan utang-utang jika ada lalu berangkat ke tanah suci dengan keluarga. Allaahumma aamiin.

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *