cerita ceriti,  Kuliah Bundsay IIP,  my little angels,  my world,  Parenting,  Self reminder

Menemukan Berlian dalam Binar Mata (Hari I)

Game Level 7 Kelas Bunda Sayang IIP

Hari 1 (17 Mei 2018)

Mengamati dan menulis tentang orang terdekat? Yah, terutama anak, tentu saja. Siapa yang tidak bisa mengamati dan merekam dokumen semacam ini dan menyimpannya ke dalam chip memori. Seorang ibu, bahkan saat tak ditanya, acap kali menceritakan tentang anak-anaknya. Sering pula membangga-banggakan anaknya di depan orang lain-walau tanpa disangka tak pernah menghargai dan memuji di depan anak yang bersangkutan- menurutku ini yang salah kaprah.

Di tugas kali ini, kami semacam mengumpulkan portofolio anak untuk bisa mengamati dan memetakan bakat dan kelebihan anak. Abaikan sejenak ataupun seterusnya mengenai kekurangan anak yang kerap melunturkan kesan kasih sayang orang tua, apatah lagi membandingkan dirinya dengan orang lain, siapapun itu.

Terus terang, awalnya sulit mendiskripsikan satu per satu secara detail, apa yang dimiliki oleh Akib, Biyya, dan kemudian Faza. Barangkali hati sebaai ibu yang belum jernih, aku kerap tertukar antara mengapresiasi ataupun memotivasi dengan membanggakan anak sendiri. Membangakan anak sendiri, terutama di depan orang lain, bukanlah tindakan menyenangkan ataupun terpuji. Aku berusaha menghindarinya walau sering terpeleset juga.

Sementara memotivasi dan mengapresiasi anak adalah hal yang penting dilakukan setiap hari. Lagi-lagi aku mbrebes mili. Ooh, betapa seringnya aku terbaliik. Di media sosial terutama, ibu tak henti-hentinya mengunggah foto atau kegiatan anaknya dengan penuh puja puji. Belum lagi jika ia memiliki prestasi yang memang dipandang prestise oleh lingkungan sekitar. Tapi saat anak tak menyenangkan hati di sampingnya sendiri, rasa kesal dan amarah tak segan dilontarkan.

“Duh! Kenapa begini saja tidak bisa? Sudah besar harusnya bla bla bla…”

“Bukannya bantuin malah bla bla bla…”

Aku kembali terkenang diri, Padahal kemarin baru memuja-muji ia bahwa ia sudah menyelesaikan hapalan juz 30-nya. Ia juga santun dibanding anak seusianya, mau membantu hal-hal yang mampu ia kerjakan di rumah. Apalagi kalau fisik dan tumbuh kembangnya baik. Orang kemudian memuji dan kedua cuping hidung orang tua kembang kempis, “Yaa, tentu saja. Genetik cerdas dan sempurna seperti orang tuanya.” Walau tak terucap seperti itu, adakah hati yang mengembang dan melambung tinggi saat puja-puji hadir di telinga kita sebagai orang tua? “Ah, aku memang orang tua yang brilian mendidik anak.”

Astaghfirullaaah…astaghfirulaah…naudzubillaah

Di atas adalah pengingat diri dalam memulai tugas kali ini. Semoga aku terhindar dari membangga-banggakan diri, terhindar dari membangun tameng diri untuk tidak dipersalahkan jika ada sikap anak-anak yang tidak sepantasnya ia lakukan. Semoga aku mampu mengosongkan gelas, mengganti kacamata retak jika iya, menyeka embun-embun yang menghalangi penglihatan jernih terhadap anak sendiri. Semoga kami sebagai orang tua mampu mengapresiasi anak tanpa harus membanggakan dan menuai puja-puji pihak luar, Allah Sang Maha Penilai. Penilaian manusia acapkali terlampau objektif dan puja-puji manusia tak boleh jadi standar hidup dalam membersamai anak-anak. Here we go… portofolio Akib dan Biyya perlahan diselesaikan, walau tak rampung 10 hari ini karena ini adalah waktu yang panjang sekali bagi kami untuk terus berbenah dan belajar.

Seorang temanku yang praktisi talent mapping, seringkali menyebutkan kelebihan-kelebihan yang harus kugarisbawahi mengenai Akib. Sulung kami yang kini berusia 11 tahun dan akan menginjakkan usia satu lusinnya di bulan Juli nanti. Ia sangat menyukai desain grafis dan piawai menggunakan aplikasi Corel Draw dan Photoshop. Potensi yang barangkali dibutuhkan di ‘jaman now’, kata orang. Hanya saja (kalau lah boleh kutulis juga sedikit hambatan potensinya), permainan warna yang ia padukan belum detail dan baik karena jam terbangnya kami batasi di depan laptop. Ia juga suka khilaf antara boleh dipakai desain dan izin bermain game sejenak.

Terbukti saat hari kedua Ramadan, aku mengajak seluruh anggota keluarga ke sekretariat Nasyiatul Aisyiyah karena selaku PJ sebuah acara pengaderan memilih tidur di lokasi hingga acara rampung. Akib pun dengan piawai mengambil momen untuk  bisa membawa laptop ke sana dan mulai menikmati jaringan wifi di kantor. Ia mengunduh beberapa game yang tentu saja seijinku, permainan balap mobil dan Re-Blox.

Lobi-lobi beberapa lapis dan bertingkat sempat ia jalankan untuk bisa diloloskan memakai jaringan wifi mengunduh dua buah game. Jadi selain desain, Akib juga bisa melobi. Kesepakatan kami hanya boleh saat itu saja karena ia sangat bosan di sekret, tidak ada buku yang dia minati, tak ada ide untuk menggambar.

Oiya, kesukaannya membaca masih ia teruskan hingga kini, tapi jauh lebih sulit memilihkan bacaan untuknya sekarang. Semakin kentara disleksiknya, semakin membutuhkan buku full color yang didominasi dengan gambar-gambar. Harus lucu dan gaul sehingga bisa menambah wawasannya saat berbaur dengan teman. Buku-buku sains, cerita petualangan, kisah-kisah berhikmah, malah jarang sekali ia baca kalau aku belikan. Saat di toko buku, Akib memilih uku-buku webtoon yang sudah naik cetak.

Mungkin demikian sebagai pembuka di game Level 7 ini.

Aku akan berusaha selang seling antara Akib dan Biyya dulu sebagai latihan untuk melihat kelebihan Faza nantinya. Sementara untuk poin-poin tegas apakah itu motorik halus atau kasar. Watak ataukah kebiasaan yang mampu kami bentuk, belum lagi bisa kuklasifikasikan. Insyaallah, jika ada izin-Nya akan kurapikan setelah mengikuti tantangan Game ke-7 ini.

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *