Kuliah Bundsay IIP,  my little angels,  my world,  Parenting,  Self reminder

Menganalisa Kegagalan (Aliran Rasa Game Ke-8)

Aliran Rasa Game Ke-8

Di kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional Batch#3, aku dan teman-teman pernah berdiskusi, bagaimana supaya Aliran Rasa itu isinya bukan melulu ‘curhat manja’ apalagi bagian ngeles-ngeles kenapa gagal lagi-gagal lagi di game kali ini. Alasan jaringan lah, urusan domestik yang tiada habisnya lah, belum lagi bicara urusan publik dan benturan deadline di tempat lain bagi yang bekerja freelance sepertiku.

Nah, sampailah kami pada kesimpulan, bagaimana kalau Aliran Rasa kita itu adalah Tips Sukses Menjalani Game Level Sekian?

Ya, ampuuuun! Boro-boro tips sukses, aku juga ternyata gagal dua game berturut-turut kali ini. So horrible!

Jadi, Aliran Rasa kali ini ada baiknya menganalisa kenapa bisa  gagal menyelesaikan Game Level 7.

Sebelumnya ada baiknya kita merujuk dulu pada tips sukses yang pernah kutulis dulu. Adakah aku gagal mengaplikasikan tips tersebut di game berikutnya? Kalau iya, ya wajar saja gagal.

Pada   Tips Menyelesaikan Game Pohon Literasi Keluarga aku coba berbagi bagaimana kami menyelesaikan game ini bersama. Jadi salah satu penyebab tidak berhasilnya aku menyetor tepat waktu, karena aku bekerja sendirian secara laring. Walaupun secara daring, Fasilitator dan teman-teman seperjuangan dengan sukacita saling menyemangati satu sama lain.

Tidak ada salahnya kita bicarakan tentang game yang akan kita kerjakan. Toh, ini juga melibatkan satu keluarga. Aku akan mencatat dan membuatkan jurnal harian, tepatnya lebih mirip portofolio tentang potensi Akib dan Biyya, tapi aku lupa menyampaikan secara gamblang apa yang harus kulakukan di game kali ini. Aku tidak mempresentasikannya di Forum Keluarga yang seharusnya kami laksanakan seusai salat Magrib seperti biasanya.

Kita sudah sampai pada menganalisa dua poin dan aku akan melanjutkan dengan poin penyebab kegagalan berikutnya:
  1. Forum Keluarga tidak berjalan sebagaimana mestinya. Seharusnya setelah sadar bahwa ritme Ramadan akan berbeda dengan hari lainnya, Forum Keluarga bisa disiasati waktunya. Misal seperti kami yang biasanya diadakan di pukul 19.30 WIB atau ba’da Magrib, bisa diganti ke ba’da Subuh atau Zuhur, di mana tidak mepet dengan waktu berbuka dan tarawih.
  2. Karena ketiadaan Forum Keluarga yang menjadi wadah komunikasi komprehensif, tidak ada waktu menjelaskan game ini secara eksplisit pada anggota keluarga lainnya. Mungkin bahkan tidak ada yang tahu sebenarnya aku sedang ‘bekerja’ memetakan bakat anak-anak selama minimal 10 hari dan maksimal 17 hari. Kalau hanya sekadar berbicara di pillow talk dengan suamiitu tidak bisa dihitung sebagai presentasi eksplisit.
  3. Dua poin di atas menjadikan aku ‘one man show’ dan tidak bisa mengahrapkan reminder dari anggota keluarga lainnya. Hari berlalu dan deadline tiba, baru aku tersadar harus menyetor link ke Google Form.
  4. Menyimpan ‘catatan monyet’ di laptop. Game kali ini seperti sebelumnya adalah pengamatan. Bukan hanya ide yang bisa dicatat dalam sebuah notes mungil untuk kemudian dijadikan premis dan cikal bakal sebuah tulisan bahkan buku. Tapi sistem pencatatan pengamatan ini sangat membutuhkan catatan kecil yang bisa dengan sigap kita ambil dan gunakan saat ada hal penting yang perlu dicatat sebelum semuanya berlalu begitu saja. Di game kali ini, aku teledor menyimpan catatan itu dalam bentuk dokumen word di laptop. Akhirnya ini membuat aku tak punya kesempatan untuk menuliskan hal-hal kecil yang harusnya tak luput dari pengamatanku. Biasanya aku menggunakan Polaris Office di dalam ponsel atau memang block note kecil dan praktis yang bisa kujangkau dan kubawa ke mana saja.
  5. Tidak pernah menuliskan apapun di post it untuk kemudian ditempelkan di tempat yang mudah dilihat. Biasanya aku akan menulis seperti ini “Game Level 7 Hari ke-9. Giliran mengamati potensi-potensi Kak Biyya” lalu menuliskan semacam kutipan-kutipan penyemangat dan sejenisnya.

Baiklah, kurasa ini saja dulu untuk menganalisa kenapa aku bisa gagal menyetor tugas tepat waktu, di samping ada faktor malas dari dalam diri sendiri yang tidak mungkin dicari obatnya kecuali diri sendiri yang mengenyahkan rasa itu dan membuangnya sejauh mungkin.

Terima kasih buat Tim Fasilitator dan teman-teman seperjuangan di IIP kelas Bunda Sayang Batch#3

 

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, dan Faza. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *