my world

Menghargai Cara Berterima Kasih

Sudah lebih seminggu aku dan keluargaku harus menjalani isolasi mandiri, tepatnya setelah kami memutuskan untuk melakukan tes usap di laboratorium Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Unsyiah.

Selama isolasi mandiri tersebut, setiap hari ada saja yang mengantarkan makanan, selain keluarga dekatku yang juga bolak-balik menyuplai logistik untuk kami yang karantina total dan dalam proses pemulihan.

karena memang sedang masa pemulihan, anak-anak pun siap melahap apa saja. Badan sudah enakan, batuk dan flu sudah mereda, selera makan pun ikut membaik. Banyak tetangga, sahabat yang bertempat tinggal jauh maupun dekat, dimudahkan dengan adanya transportasi online. Ada yang mengirim makanan, madu, jamu, bahan dapur, dan banyak lagi.

Setelah rezeki tiba, biasanya selain haru, gegas kulafazkan doa-doa kebaikan. Bukan aku tak bisa mengabadikan dengan foto atau unggahan di media sosial. Pun saat karantina aku membuka kembali akun Facebook dan wara-wiri di sana berencana mencari info kelas daring yang cocok dengan kebutuhanku.

Aku punya banyak pertimbangan untuk tidak mengunggah foto-foto pemberian tersebut dan menandai satu per satu sahabat-sahabat yang sudah bermurah hati mengirimi kami segala macam makanan dan herbal. Kami sangat merasa bahagia dan berterima kasih. Senantiasa berdoa pada Allah agar dibalas-Nya berlipat-lipat.

Menurutku, cara orang mengungkapkan terima kasih itu bisa berbeda-beda. Di zaman sekarang salah satunya dengan menggunakan media sosial dengan foto atau deskripsi detail jasa/benda lengkap dengan menyebutkan–dalam media sosial lazim disebut mensyen (mention) atau tag– orang yang memberikan jasa atau benda tersebut. Namun, ada pula yang menganggap jika bukan untuk keperluan promosi atau pemasaran, hal tersebut justru kurang santun. Sebagian orang merasa lebih etis dan nyaman membalas secara langsung kebaikan dan perhatian orang lain dengan cara menghubungi secara pribadi.

Entah bagaimana bermula kebiasaan ungkapan terima kasih dengan cara mengumumkan ke khalayak tersebut, tapi hal itu bukanlah masalah besar, yang menjadi persoalan, ketika dua orang yang saling berbeda pendapat mengenai cara mengungkapkan hal tersebut, lalu berselisih paham, saling merasa tak dihargai ketika pihak lainnya tidak menggunakan cara yang disukai salah satu pihak.

Solusinya bukan juga dengan cara menanyakan kepada orang lain, bagaimana ia ingin dihargai dan diberikan ucapan terima kasih. Cukup menajamkan intuisi dan mengamati bagaimana cara yang paling ia sukai. Lalu yang harus disepakati adalah, bagaimana menyikapi perbedaan dengan legawa. Setiap orang memiliki alasan untuk memilih prinsip yang membuatnya nyaman. Prasangka baik mutlak dimiliki, hal ini akan tetap menjaga hati dan hubungan persahabatan.

Sebaiknya tidak usah ambil pusing ketika seseorang yang kita berikan hadiah tidak mengunggahnya ke media sosial. Tidak mengungkapkan jasa-jasa atau pemberian kita ke khalayak bukan berarti ia tidak memuliakan kita, sudah tentu ia adalah penganut aliran jalur terima kasih kedua; cukup menghubungi si pemberi melalui jalur pribadi. Pastinya ia memiliki pertimbangan kenapa merasa lebih nyaman seperti itu.

Ada pula yang suka dengan detail dan gamblang mengungkapkan ke media sosialnya. Sekali lagi jangan diambil pusing, jika tak suka, masih banyak cara memberikan pemahaman, misal saat memberi tersebut sertakan pesan tak perlu diumumkan. Kalau sudah diposkan, ya, tanggapi saja sewajarnya. Toh, hal itu juga mampu membuat citra diri meningkat, bukan hal yang merusak nama baik dan persahabatan, kan?

Ini sebenarnya hanya perihal sudut pandang, sebab orang sering kali melihat dunia bukan sebagaimana adanya, permakluman akan membuat kita lebih legawa.

Nah, kalau begitu selamat menjalin silaturahmi, tetap berpikir positif.

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *