my world

Menghargai Perokok yang Sudah Putus Urat Pekanya*

            Setiap kali membawa keluarga berkeliling di akhir pekan, dipastikan ada satu kali ritual makan bersama di luar. Beruntung Kota Banda Aceh dan sekitarnya, yang belakangan ini ditabalkan gelar sebagai “Kota Seribu Warkop”, memberikan begitu banyak pilihan marung yang cukup seru. Warung-warung kopi dan kafe menyediakan variasi menu dan beberapa panganan khas memanjakan lidah, tentu saja kita sekeluarga membayangkan akhir pekan yang indah.

            Namun, yang terjadi seringkali justru tragedi. Terutama bagi keluarga seperti kami yang masih memiliki dua anak di bawah lima tahun (balita). Tidak jarang saya harus selektif memilih kafe atau warkop untuk sekadar duduk menikmati waktu keluarga. Terkadang ada tempat yang sangat ingin disinggahi karena alasan menu yang sudah lama ingin dinikmati, tapi tiba-tiba saja racun bertebaran di udara. Walau jelas-jelas saya menggendong bayi tiga bulan dan satunya lagi berusia empat tahun di pangkuan ayahnya, tanpa segan orang yang duduk di sebelah mengembuskan asap rokoknya berkali-kali. Lebih menakjubkan lagi sosok ayah membawa anak yang usianya sepantaran dengan anak kami, tapi dengan tenang sambil memandangi gawainya, kepulan asap terus-terusan keluar dari mulutnya. Dengan kesadaran penuh ia meracuni anak-anaknya. Padahal sudah jelas tercantum dalam Qanun Nomor 5 Tahun 2016 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR), dengan memberikan sanksi Tindak Pidana Ringan (Tipiring) kepada perokok di area publik. Bagi yang merokok di area KTR Banda Aceh akan didenda Rp200 ribu atau dikurung selama tiga hari, tapi agaknya qanun ini majir (mandul) dan tak melahirkan kesadaran bagi perokok untuk sejenak menahan diri di area publik.

Mungkin banyak yang tidak tahu karena tidak gencar disosialisasikan. kalau sudah begini, sebaiknya warga yang haknya tercerabut atas udara sehat perlu menindak tegas perokok dengan cara menegur langsung setiap kali ada perokok di area publik.

Memang jumlah kaum buta huruf  abad 21 semakin meningkat. Istilah populernya illiterate, yaitu bukan yang tidak bisa baca tulis, melainkan orang yang tidak mampu untuk belajar, tidak mau belajar, dan tidak mau belajar lagi segala sesuatu yang sudah dipelajarinya. Begitu dikatakan Alfin Toffler, futurolog dan penulis terkemuka Amerika Serikat.

Sepertinya qanun semacam itu hanya tinggal tulisan di atas kertas. Percuma saja stiker “No Smoking Area” ditempel di tempat-tempat umum. Begitu pula jika disediakan smoking area bagi perokok.

            Seringkali saat menikmati nasi gurih pagi di sebuah warkop, saya terpaksa mengajak anak-anak saya mengungsi ke meja lain demi menghargai sekumpulan bapak yang sedang merokok. Bukan hanya saat pagi, pernah sekali waktu kami singgah di sebuah warkop yang tampak bersih dan nyaman di malam hari. Ada banyak bangku tersedia di dalam warkop hingga ke luar. Dalam pikiran saya, kalaupun nanti ada yang merokok, tentu ia akan memilih bangku-bangku yang berada di luar warkop. Toh bangku-bangku dan meja di bawah kanopi masih banyak yang kosong. Namun tak disangka, sekumpulan anak muda datang, mulai menyulut rokok dan sebahagian lain sudah mengembuskan asap rokok elektrik dengan kepulan asap membubung tinggi. Kibasan tangan untuk memberikan kode terganggu tidak digubris, lagi-lagi kami pindah demi menghargai orang merokok.

            Barangkali ada yang mengatakan, “Siapa yang menyuruh ke warkop? Kalau tidak mau terpapar asap rokok, tinggal saja di rumah. Namanya juga warung kopi!” Namun benarkah kopi dan rokok adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan? Sekali lagi, saya sudah cukup selektif memilih tempat, tapi kerap yang terjadi si perokok sudah putus urat pekanya. Kenapa bukan ia saja yang memilih sebuah sudut atau bawa saja kantong plastik untuk asap yang dihasilkannya setelah merokok? Apakah karena kami perokok pasif lalu kami tak berhak atas udara bersih?

            Kalau tulisan saya kali ini membahas perihal bahaya rokok dan kandungan-kandungan zat racun di dalamnya, saya yakin tidak akan dibaca lagi oleh perokok. Namun kali ini saya menulis dan melaporkan untuk menyuarakan suara hati para perokok pasif, terutama saya sebagai ibu, pendidik utama di dalam rumah. Saya dan para ibu lainnya memang sudah lelah menegur, memberikan kode terganggu, seringkali kami hanya bisa merengut ketika hak kami akan udara sehat direnggut. Namun tak jarang hati ini mengutuk karena merasa dizalimi dan diracuni.

Jika Anda orang dewasa yang merokok, seberapa rela Anda memberikan izin pada anak atau istri Anda untuk merokok? Saya rasa tidak akan ada izin selama nyawa Anda masih ada. Namun Anda sangat rela memberikan izin agar asap rokok yang berasal dari mulut Anda sendiri dihirup oleh anak istri Anda yang notabene menjadikan mereka perokok pasif.

Seberapa rela Anda jika anak Anda yang masih balita mengambil puntung rokok sisa lalu belajar mengisap rokok persis seperti Anda? Saya rasa Anda akan berang. Namun Anda sangat rela sisa asap rokok di baju dan tubuh Anda dihirup bayi Anda sepanjang Anda berada di rumah, selama Anda bermain-main bersama mereka. Betapa Anda sudah berbuat zalim pada orang yang harusnya Anda ayomi.

Tak jarang pula saat mencoba langsung menegur, saya mendapatkan tambahan kepulan asap rokok dan sinisme dari perokok tersebut. Hal ini sempat membuat saya trauma dan akhirnya memutuskan “menghargai orang merokok” saja. Misalnya dengan menyiapkan masker saat menggunakan transportasi umum, menjauh dari perokok, atau turun di tengah perjalanan dan menunggu angkutan lain sambil berharap di angkutan berikutnya tidak ada orang yang putus urat pekanya. 

            Merokok memang hak Anda, tapi udara segar itu adalah hak asasi setiap manusia, udara segar dan bersih adalah HAM. Saya memang selama ini menghargai orang yang sedang merokok dengan cara pindah menjauh, tapi sedikit pun tidak terlintas di hati untuk menghargai seorang perokok. Saat saya pindah karena di meja sebelah ada orang yang tak tahu diri terus saja merokok, dalam hati saya memanjatkan doa, itu yang bisa saya lakukan sebagai orang teraniaya. Semoga suatu saat, para “ahli isap”itu mendapat hidayah dari Allah untuk berhenti meracuni diri, keluarga, sohib, dan lingkungannya.

Selain itu, tak lupa saya mengedukasi anak-anak dan menjadikan kelakuan para perokok itu sebagai contoh buruk yang tak layak ditiru.

*Tulisan ini dimuat di Serambi Indonesia, kolom Jurnalisme Warga 2 November 2019

https://www.instagram.com/p/B6K5qQUn8fT/?igshid=71m093kpl8kt

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *